Bertetangga Damai, Wujud Nyata Akhlak dan Kepedulian Sosial

  • 10 Sep 2026 12:58 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Membangun kehidupan bertetangga yang damai dinilai menjadi salah satu kunci terciptanya lingkungan masyarakat yang aman, nyaman, dan harmonis. Hubungan baik antartetangga juga merupakan bagian dari ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga lisan, menghormati sesama, serta saling membantu.

Ust. Prof. Dr. KH. M. Sutoyo, M.Ag., mengatakan, kehidupan bertetangga tidak cukup hanya dengan tidak saling mengganggu. Lebih dari itu, setiap orang perlu berupaya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat di sekitarnya.

“Bertetangga itu bukan sekadar hidup berdampingan secara fisik, tetapi bagaimana kita mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan manfaat kepada orang yang ada di sekitar kita. Jangan sampai keberadaan kita justru menjadi sumber keresahan bagi tetangga,” ujar Sutoyo, Kamis, 10 September 2026.

Menurutnya, Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan sosial, termasuk hubungan dengan tetangga. Hal tersebut salah satunya ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 36.

Ayat tersebut memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada sejumlah kelompok, termasuk tetangga dekat dan tetangga jauh.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa hubungan bertetangga memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Kebaikan kepada tetangga tidak dibatasi oleh kedekatan hubungan keluarga, tetapi mencakup siapa pun yang hidup berdampingan dalam lingkungan masyarakat.

Selain Al-Qur'an, Rasulullah SAW juga memberikan perhatian khusus terhadap hak tetangga. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Malaikat Jibril terus memberikan wasiat mengenai tetangga hingga beliau menyangka tetangga akan mendapatkan hak waris.

Menurut Sutoyo, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa seorang Muslim tidak hanya dituntut memiliki hubungan baik dengan Allah SWT, tetapi juga harus menjaga hubungan dengan sesama manusia.

“Keimanan itu juga tercermin dari perilaku sosial. Kalau kita mengaku beriman, maka orang yang hidup di sekitar kita semestinya merasa aman dengan kehadiran kita. Karena itu, jangan menyakiti tetangga, baik dengan ucapan maupun perbuatan,” jelasnya.

Sutoyo menilai, salah satu persoalan yang kerap memicu ketegangan antartetangga adalah persoalan komunikasi. Ucapan yang tidak dijaga, prasangka, maupun informasi yang belum diklarifikasi dapat berkembang menjadi konflik.

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar mengedepankan tabayun atau klarifikasi ketika menghadapi persoalan.

“Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas. Kalau ada persoalan dengan tetangga, sebaiknya dikomunikasikan secara langsung. Tabayun dan musyawarah jauh lebih baik daripada membicarakan persoalan tersebut kepada orang lain atau menyebarkannya melalui media sosial,” katanya.

Sikap menjaga lisan juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang kondusif. Masyarakat diharapkan tidak mudah menyebarkan kabar yang dapat menimbulkan fitnah, mempermalukan orang lain, maupun memperkeruh hubungan antartetangga.

Dalam kehidupan sehari-hari, persoalan sederhana seperti parkir kendaraan, penggunaan fasilitas bersama, suara bising, sampah, maupun batas lingkungan dapat menjadi sumber perselisihan apabila tidak diselesaikan dengan komunikasi yang baik.

Karena itu, penyelesaian secara kekeluargaan dan musyawarah perlu dikedepankan agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

Selain menjaga lisan, kepedulian menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan bertetangga yang damai.

Menurut M. Sutoyo, masyarakat perlu membiasakan diri membantu tetangga yang mengalami kesulitan. Bantuan tersebut tidak selalu harus berupa materi.

Menjenguk tetangga yang sakit, membantu ketika ada warga yang tertimpa musibah, ikut menjaga keamanan lingkungan, maupun sekadar memberikan perhatian merupakan bentuk kepedulian yang dapat mempererat hubungan sosial.

“Kepedulian tidak selalu harus berupa materi. Ketika tetangga sakit kita menjenguk, ketika ada musibah kita datang membantu, atau ketika ada kegiatan lingkungan kita ikut berpartisipasi. Hal-hal kecil seperti itu dapat menumbuhkan rasa persaudaraan,” ungkapnya.

Semangat saling membantu tersebut juga sejalan dengan teladan Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar seseorang memperbanyak kuah ketika memasak dan membagikannya kepada tetangga.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa membangun hubungan baik tidak harus menunggu memiliki kelebihan. Kebaikan dapat dilakukan sesuai kemampuan masing-masing.

Kehidupan bertetangga juga tidak terlepas dari keberagaman. Masyarakat memiliki perbedaan agama, suku, budaya, pekerjaan, tingkat ekonomi, maupun kebiasaan.

Perbedaan tersebut, menurut M. Sutoyo, harus disikapi secara dewasa. Setiap orang perlu menghormati hak dan keyakinan orang lain tanpa harus kehilangan prinsip yang diyakininya.

“Perbedaan adalah sesuatu yang ada dalam kehidupan masyarakat. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola perbedaan itu sehingga tidak menjadi sumber permusuhan. Kita tetap menjalankan keyakinan masing-masing, tetapi dalam hubungan sosial harus saling menghormati,” tuturnya.’

Prinsip menghormati tetangga juga relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Di tengah perkembangan teknologi komunikasi, interaksi sosial tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui berbagai platform digital.

Karena itu, etika bertetangga perlu diterapkan pula dalam ruang digital. Masyarakat perlu berhati-hati dalam menyampaikan informasi, menghindari ujaran yang dapat memicu konflik, serta tidak menjadikan media sosial sebagai tempat untuk memperbesar persoalan lingkungan.

M. Sutoyo mengatakan, menciptakan perdamaian dalam masyarakat tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perdamaian dapat dibangun dari lingkungan paling dekat, yaitu keluarga dan tetangga.

“Kalau setiap orang mulai dari dirinya sendiri untuk menghormati tetangga, menjaga ucapan, tidak mengganggu, dan mau membantu ketika ada yang membutuhkan, maka suasana damai akan tumbuh dengan sendirinya. Kedamaian masyarakat dimulai dari kedamaian di lingkungan terdekat,” pungkasnya.

Pesan tentang pentingnya menjaga hubungan dengan tetangga juga ditegaskan dalam QS. An-Nisa ayat 36:

“...dan berbuat baiklah kepada tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh...”

Ayat tersebut menjadi landasan bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari tuntunan Islam.

Dengan menjaga hubungan baik, masyarakat tidak hanya menciptakan lingkungan yang nyaman, tetapi juga membangun modal sosial berupa kepercayaan, kepedulian, dan solidaritas.

Pada akhirnya, bertetangga secara damai bukan sekadar menghindari konflik. Lebih dari itu, kehidupan bertetangga membutuhkan kesediaan untuk saling menghormati, menjaga perasaan, membantu dalam kesulitan, serta menyelesaikan persoalan melalui komunikasi dan musyawarah. Nilai tersebut diharapkan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat, sehingga lingkungan tempat tinggal menjadi ruang yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....