Jujurlah, Jangan Menipu dan Jangan Tertipu
- 08 Sep 2026 14:11 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Kejujuran menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kehidupan yang amanah dan harmonis. Tidak hanya dalam hubungan sosial, nilai kejujuran juga harus diterapkan dalam pekerjaan, perdagangan, maupun aktivitas sehari-hari. Sebaliknya, perilaku menipu tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga dapat menghilangkan kepercayaan.
Hal tersebut disampaikan Ustadz Prof. Dr. KH. M. Sutoyo, M.Ag. dalam dialog bertema Jujurlah, Jangan Menipu dan Jangan Tertipu. Menurutnya, kejujuran harus menjadi bagian dari karakter seseorang, bukan sekadar dilakukan ketika berada dalam kondisi yang menguntungkan. “Jujur itu tidak hanya ketika kita berbicara, tetapi juga bagaimana kita menjalankan amanah, bekerja dan berhubungan dengan orang lain. Kejujuran harus menjadi karakter dalam kehidupan,” ujar Prof. Sutoyo beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan, kebiasaan berkata dan bertindak jujur akan melahirkan kepercayaan. Sebaliknya, kebohongan dan penipuan dapat merusak hubungan serta menimbulkan kerugian bagi pihak lain.
Dalam ajaran Islam, larangan mengambil keuntungan dengan cara yang tidak benar ditegaskan Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 29: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.”
Ayat tersebut, menurut Prof. Sutoyo, menjadi salah satu landasan agar umat Islam menjalankan aktivitas ekonomi maupun hubungan dengan sesama secara jujur dan tidak merugikan.
Prof. Sutoyo menjelaskan, praktik penipuan dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan tidak selalu berkaitan dengan transaksi dalam jumlah besar. Menyembunyikan kondisi barang, memberikan informasi yang tidak sesuai kenyataan, mengurangi takaran atau timbangan, hingga memberikan janji yang tidak dipenuhi merupakan perilaku yang bertentangan dengan prinsip kejujuran.
Karena itu, setiap orang perlu mempertimbangkan bukan hanya keuntungan yang diperoleh, tetapi juga cara untuk mendapatkannya. “Jangan sampai kita mendapatkan keuntungan dengan cara merugikan orang lain. Apa yang kita sampaikan harus sesuai dengan kenyataan dan apa yang kita janjikan harus kita upayakan untuk ditunaikan,” jelasnya.
Menurutnya, keuntungan yang diperoleh melalui cara yang tidak benar pada akhirnya dapat membawa persoalan. Selain kehilangan kepercayaan, seseorang juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Di sisi lain, Prof. Sutoyo mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tertipu. Perkembangan teknologi dan komunikasi memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi maupun melakukan transaksi, namun juga membuka peluang munculnya berbagai modus penipuan.
Masyarakat diminta lebih teliti sebelum mempercayai informasi, menerima tawaran, maupun melakukan transaksi. Informasi yang diperoleh, terutama melalui ruang digital, perlu diperiksa kebenarannya terlebih dahulu.
Sikap hati-hati, menurutnya, tidak berarti harus selalu mencurigai orang lain. Namun, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan.
Lebih lanjut, Prof. Sutoyo menilai penanaman nilai kejujuran perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran penting dengan memberikan contoh kepada anak dalam kehidupan sehari-hari.
Kejujuran yang dibiasakan sejak dini diharapkan membentuk pribadi yang dapat dipercaya, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun ketika menjalankan tanggung jawab di lingkungan pekerjaan.
Nilai tersebut juga perlu diterapkan di sekolah, tempat kerja, dunia usaha, hingga ruang digital. Dengan demikian, kejujuran tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat.
Prof. Sutoyo menegaskan, kejujuran memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan keuntungan sesaat. Kepercayaan yang dibangun melalui kejujuran dapat menjadi modal penting dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Sementara itu, masyarakat juga perlu membangun kewaspadaan agar tidak menjadi korban penipuan. Prinsipnya, jujur dalam bertindak dan cermat dalam menerima informasi.
Masyarakat diajak menjadikan kejujuran sebagai pedoman dalam kehidupan. Dengan bersikap jujur, menjaga amanah, serta tetap waspada, kehidupan sosial diharapkan dapat berjalan lebih aman, saling percaya, dan sesuai dengan nilai-nilai agama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....