Gerbang Aksara, Inovasi Literasi SDN 01 Pandean

  • 26 Agt 2026 16:08 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun — SDN 01 Pandean mengembangkan inovasi literasi Gerbang Aksara sebagai respons terhadap hasil evaluasi rapor mutu pendidikan. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa sekaligus memastikan pemahaman mereka terhadap bahan bacaan melalui aksi nyata.

Kepala SDN 01 Pandean, Teky Dwi Ana Sari, S.Pd., M.Pd., mengatakan gagasan Gerbang Aksara muncul setelah sekolah melakukan evaluasi terhadap rapor mutu pendidikan 2024. Meski secara umum capaian sekolah mengalami peningkatan dan mendapatkan apresiasi atas kinerja tersebut, terdapat penurunan pada aspek literasi, khususnya literasi teks informasi dan literasi sastra. Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar sekolah untuk menyusun program yang secara khusus berfokus pada peningkatan literasi.

“Kalau kami literasi berarti konsentrasinya ke literasi. Kami harus membuat satu program yang memprioritaskan dari rapor mutu yang turun itu,” kata Teky.

Sebelum Gerbang Aksara dikembangkan, SDN 01 Pandean sebenarnya telah memiliki program literasi digital. Program tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan literasi melalui bahan bacaan digital kapan pun dan di mana pun. Namun, sekolah melihat perlunya mekanisme untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami bahan yang telah dibaca. Dari kebutuhan tersebut kemudian muncul gagasan untuk mengubah hasil literasi menjadi sebuah aksi.

“Literasi itu sebenarnya sudah sering dilakukan. Tetapi untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilannya, kenapa tidak diaksikan?” ujarnya.

Gerbang Aksara merupakan akronim dari Gerakan Membaca dengan Aksi Siswa Bercerita. Konsep tersebut menempatkan kegiatan membaca dan memahami sebagai dasar sebelum siswa menampilkan hasil pemahamannya.

Menurut Teky, aksi yang dilakukan siswa tidak harus selalu berupa kegiatan bercerita secara lisan. Bentuknya dapat disesuaikan dengan materi yang dipelajari.

Siswa yang mempelajari cerita rakyat, misalnya, dapat menampilkan drama. Sementara siswa yang mempelajari materi tertentu melalui video atau bacaan dapat menyampaikan hasil pemahamannya melalui puisi, tari, lagu, demonstrasi, maupun bentuk kreativitas lainnya. Dengan konsep tersebut, guru tidak hanya melihat apakah siswa telah membaca, tetapi juga dapat mengamati kemampuan siswa dalam memahami dan menyampaikan kembali informasi.

“Anak itu berliterasi dulu, membaca dulu. Setelah membaca otomatis harus memahami isi bacaannya. Kemudian apa yang diliterasi itu dilanjutkan dengan aksi,” jelas Teky.

Menurut Teky, konsep tersebut sengaja dibuat agar kegiatan literasi sekaligus menjadi sarana untuk membangun keberanian dan kreativitas siswa. Ia berharap Gerbang Aksara tidak berhenti sebagai kegiatan membaca mingguan, tetapi dapat menjadi bagian dari budaya literasi sekolah yang berkelanjutan.

“Tujuan kami dari Gerbang Aksara adalah menumbuhkan kepercayaan diri. Kreativitas anak juga meningkat dan literasinya meningkat karena mereka mau membaca dan benar-benar memahami teks,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....