Adab Bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW: Memilih Tempat dan Situasi yang Baik

  • 25 Agt 2026 13:53 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan amalan yang dianjurkan bagi setiap umat Islam. Selain memperbanyak kecintaan kepada Rasulullah SAW, bersholawat juga menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi yang telah membawa risalah Islam kepada umat manusia.

Dalam pelaksanaannya, membaca sholawat juga perlu memperhatikan adab, termasuk memilih tempat, waktu, dan situasi yang baik. Hal tersebut penting agar kegiatan bersholawat dilakukan dengan penuh penghormatan dan tidak kehilangan nilai kesakralannya.

Ustaz Amir Abdullah, M.Pd., menjelaskan bahwa pada dasarnya sholawat dapat dibaca di berbagai tempat dan kesempatan. Namun, umat Islam hendaknya memilih kondisi yang pantas dan mendukung kekhusyukan ketika bersholawat.

“Bersholawat itu bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tetapi kita tetap perlu melihat tempat dan situasinya. Ketika kita bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, tentu lebih baik dilakukan dalam keadaan yang sopan, tenang, dan di tempat yang baik,” ujar Ustaz Amir Abdullah, Selasa, 25 Agustus 2026.

Menurutnya, masjid dan majelis ilmu merupakan salah satu tempat yang sangat baik untuk memperbanyak sholawat. Suasana masjid yang tenang dan penuh nuansa ibadah dapat membantu seseorang lebih khusyuk dalam mengingat Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Selain di masjid, sholawat juga dapat dibaca dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti pengajian, majelis sholawat, peringatan Maulid Nabi, kegiatan pendidikan Islam, maupun pertemuan yang diisi dengan kajian keagamaan.

“Kalau kita berada di majelis yang memang khusus untuk berdzikir, mengaji, atau bersholawat, tentu suasananya sangat mendukung. Jamaah juga harus menjaga ketertiban dan kesopanan agar majelis tersebut benar-benar menjadi tempat untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya,” jelasnya.

Ustaz Amir juga menekankan pentingnya memperhatikan situasi ketika bersholawat. Meskipun sholawat dapat diamalkan dalam berbagai keadaan, seseorang sebaiknya tidak mengucapkannya dengan cara yang tidak menghormati kesucian atau kemuliaan nama Nabi Muhammad SAW.

Misalnya, ketika berada dalam suasana yang penuh dengan aktivitas yang tidak pantas, seseorang hendaknya menyelesaikan atau meninggalkan aktivitas tersebut terlebih dahulu apabila memungkinkan, kemudian bersholawat dalam kondisi yang lebih tenang dan terhormat.

“Yang perlu diperhatikan adalah kepantasan. Jangan sampai nama Nabi disebut dalam situasi yang justru tidak menghormati beliau. Kita harus membiasakan diri menempatkan sholawat pada suasana yang baik,” katanya.

Menurut Ustaz Amir, kebersihan dan kesopanan tempat juga perlu menjadi perhatian, terutama ketika seseorang sengaja mengadakan kegiatan pembacaan sholawat. Tempat yang bersih dan tertata akan menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi jamaah.

Meski demikian, ia mengingatkan agar umat Islam tidak memahami hal tersebut secara berlebihan. Sholawat tidak hanya boleh dibaca di masjid atau majelis keagamaan. Seseorang tetap dapat bersholawat ketika berada di rumah, dalam perjalanan, ketika menunggu suatu kegiatan, maupun pada waktu senggang selama situasi tersebut memungkinkan.

“Jangan sampai karena ingin menjaga adab, kemudian seseorang merasa bahwa sholawat hanya boleh dibaca di masjid. Tidak demikian. Sholawat bisa menjadi amalan sehari-hari. Yang terpenting adalah ketika membacanya kita menjaga kesopanan dan penghormatan,” terang Ustaz Amir.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kondisi orang-orang di sekitarnya. Dalam situasi tertentu, misalnya ketika berada di tempat yang membutuhkan ketenangan atau sedang mengikuti kegiatan yang serius, membaca sholawat hendaknya dilakukan dengan cara yang tidak mengganggu orang lain.

Hal tersebut menjadi penting karena bersholawat bukan hanya persoalan banyaknya bacaan, tetapi juga bagaimana seorang muslim menunjukkan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW melalui sikap dan perilakunya.

Di lingkungan keluarga, orang tua juga dapat mengajarkan anak-anak untuk membiasakan bersholawat dalam suasana yang baik. Anak-anak dapat diajak bersholawat setelah salat, sebelum atau sesudah pengajian keluarga, maupun ketika mengikuti majelis keagamaan.

Dengan pembiasaan tersebut, anak tidak hanya mengenal sholawat sebagai bacaan, tetapi juga memahami bahwa nama Nabi Muhammad SAW harus disebut dengan penuh penghormatan.

Ustaz Amir menambahkan bahwa salah satu cara menjaga adab dalam bersholawat adalah menghindari menjadikan sholawat sebagai sekadar aktivitas tanpa memperhatikan suasana dan tujuan. Kegiatan bersholawat hendaknya tetap diarahkan untuk mengingat Allah SWT, memuliakan Rasulullah SAW, dan menumbuhkan kecintaan kepada beliau.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita menempatkan sholawat secara baik. Tempatnya baik, situasinya baik, caranya juga baik. Dengan begitu, kita tidak hanya memperbanyak sholawat, tetapi juga belajar menghormati Rasulullah SAW,” tuturnya.

Dengan memperhatikan tempat dan situasi, tradisi bersholawat di tengah masyarakat diharapkan dapat berlangsung secara lebih tertib, khidmat, dan penuh penghormatan. Masjid, majelis ilmu, rumah, maupun lingkungan pendidikan dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW melalui pembiasaan bersholawat.

Pada akhirnya, adab dalam bersholawat bukan dimaksudkan untuk membatasi umat dalam mengingat Rasulullah SAW. Sebaliknya, adab tersebut menjadi bentuk penghormatan agar sholawat dilakukan dalam suasana yang pantas, baik, dan memberikan nilai positif bagi orang yang mengamalkannya maupun lingkungan di sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....