Kontribusi Nyata terhadap Negeri dalam Pandangan Islam

  • 18 Agt 2026 07:09 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Kontribusi nyata terhadap negeri tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Setiap individu dapat mengambil peran melalui berbagai hal sederhana namun berdampak, seperti menghargai jasa para pahlawan, menjaga persatuan, bijak menggunakan media sosial, meningkatkan ilmu pengetahuan, serta mendidik generasi bangsa agar menjadi pribadi yang mandiri dan berdaya.

Ustaz Amir Abdullah, M.Pd. dalam kajian Mutiara Pagi bertema “Kontribusi Nyata terhadap Negeri.” mengajak masyarakat memahami bahwa membangun negeri merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dilakukan sesuai kemampuan dan bidang masing-masing.

Menurut Ustaz Amir, salah satu langkah awal untuk berkontribusi kepada negeri adalah mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan terdahulu. Kemerdekaan yang dinikmati masyarakat saat ini tidak diperoleh dengan mudah, melainkan melalui perjuangan panjang yang mengorbankan tenaga, harta, pikiran, bahkan nyawa.

“Kita perlu mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan terdahulu. Jangan sampai generasi hari ini menikmati hasil perjuangan mereka, tetapi tidak memahami sejarah dan pengorbanan yang telah dilakukan,” ujarnya, Selasa, 18 Agustus 2026.

Mengenang pahlawan, lanjutnya, bukan sekadar mengingat nama atau perjuangan mereka dalam momentum tertentu. Semangat perjuangan tersebut perlu diteruskan melalui kontribusi nyata sesuai dengan kondisi dan tantangan zaman.

Selain menghargai sejarah perjuangan bangsa, Ustaz Amir menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, serta latar belakang sosial merupakan bagian dari realitas bangsa yang harus dijaga sebagai kekuatan bersama.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah melakukan atau terpengaruh praktik provokasi dan adu domba yang dapat memecah persatuan, terutama yang dilatarbelakangi perbedaan suku, agama, maupun kelompok.

“Jangan melakukan praktik provokasi atau adu domba, baik yang dilatarbelakangi kesukuan, agama, maupun perbedaan lainnya. Perbedaan adalah bagian dari kehidupan bangsa. Yang harus kita bangun adalah sikap saling menghormati dan menjaga persatuan,” jelasnya.

Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...”

Ayat tersebut menjadi pengingat agar umat tidak mudah terpecah oleh perbedaan dan senantiasa mengedepankan persatuan serta persaudaraan.

Di tengah perkembangan teknologi informasi, media sosial juga menjadi ruang strategis untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat. Ustaz Amir mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan hal-hal positif.

Media sosial dapat digunakan untuk berbagi ilmu, informasi yang bermanfaat, inspirasi, serta pesan-pesan yang membangun. Sebaliknya, masyarakat perlu menghindari penyebaran fitnah, kebencian, provokasi, dan informasi yang belum terverifikasi.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...”

Prinsip tabayyun menjadi semakin penting di era digital karena informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dengan cepat dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman maupun konflik di tengah masyarakat.

Kontribusi berikutnya adalah memiliki ilmu dan memahami etika. Menurut Ustaz Amir, bangsa yang kuat tidak hanya membutuhkan sumber daya alam, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, dan akhlak yang baik.

Ilmu menjadi bekal bagi seseorang untuk menyelesaikan persoalan dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Namun, ilmu perlu berjalan bersama dengan etika dan akhlak.

“Kita harus menjadi bangsa yang berilmu sekaligus beretika. Jangan hanya pintar, tetapi tidak memahami bagaimana menggunakan kepintaran itu untuk kebaikan. Ilmu harus melahirkan manfaat dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat,” ungkapnya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ilmu dengan demikian tidak hanya menjadi sarana meningkatkan kualitas kehidupan pribadi, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk membangun masyarakat dan bangsa.

Ustaz Amir juga menyoroti pentingnya kemandirian sebagai bagian dari kontribusi terhadap negeri. Masyarakat yang mampu memenuhi kebutuhan dirinya dengan usaha dan kemampuan yang dimiliki akan membentuk bangsa yang semakin kuat dan berdaya.

Kemandirian dapat dimulai dengan meningkatkan keterampilan, bekerja secara sungguh-sungguh, mengembangkan usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, serta berusaha memenuhi kebutuhan tanpa terus-menerus bergantung kepada pihak lain.

“Ketika kita mampu memenuhi kebutuhan diri sendiri, memiliki keterampilan, bekerja, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, kita sedang membangun bangsa yang berdaya. Bangsa yang berdaya adalah bangsa yang memiliki kemampuan untuk berdiri dengan kekuatannya sendiri,” kata Ustaz Amir.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 105: “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin...”

Semangat bekerja dan berusaha tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bidang, baik pendidikan, ekonomi, teknologi, sosial, maupun profesi masing-masing.

Kontribusi yang tidak kalah penting adalah mendidik anak bangsa. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga harus membentuk generasi yang memahami sejarah, menghargai keberagaman, memiliki etika, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bermasyarakat.

“Anak bangsa perlu memahami latar belakang sejarah bangsanya, memahami bagaimana bangsa ini terbentuk, serta mengenal dan menghargai keanekaragaman yang ada. Dengan begitu, mereka tidak mudah terpecah hanya karena perbedaan,” tuturnya.

Allah SWT menjelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Keberagaman semestinya menjadi sarana untuk saling mengenal dan membangun kehidupan bersama, bukan alasan untuk saling merendahkan atau memusuhi.

Sebagai bagian terakhir dari kontribusi moral terhadap para pejuang bangsa, Ustaz Amir juga mengajak masyarakat mendoakan para pahlawan yang telah mendahului kita. Doa menjadi salah satu bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih atas jasa serta pengorbanan mereka.

Bagi para pahlawan yang beragama Islam, masyarakat dapat memanjatkan doa agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka, menerima amal kebaikan mereka, melapangkan kubur mereka, dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

Mendoakan orang-orang yang telah berjasa juga merupakan bagian dari sikap menghargai dan mengenang perjuangan. Dengan doa tersebut, generasi hari ini diingatkan bahwa kemerdekaan dan kehidupan yang dinikmati tidak terlepas dari pengorbanan generasi sebelumnya.

Pada akhirnya, kontribusi nyata terhadap negeri dapat dimulai dari diri sendiri. Mengenang jasa para pahlawan, menjaga persatuan, menolak provokasi dan adu domba, menyebarkan konten positif di media sosial, meningkatkan ilmu, memahami etika, hidup mandiri, mendidik generasi bangsa, serta mendoakan para pahlawan merupakan rangkaian kontribusi yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

“Tidak harus menunggu menjadi orang besar untuk memberikan kontribusi. Mulailah dari kemampuan yang kita miliki. Ketika setiap orang berusaha menjadi pribadi yang berilmu, beretika, mandiri, memberikan manfaat, dan tidak melupakan jasa para pendahulu, maka kita sedang membangun bangsa yang berdaya dan menjaga negeri ini dengan cara yang nyata,” pungkas Ustaz Amir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....