Tips Mengobati Hasad,dari Diri Sendiri hingga Membangun Lingkungan yang Baik

  • 04 Agt 2026 07:20 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Sifat hasad atau iri dengki merupakan salah satu penyakit hati yang dapat merusak hubungan antarsesama sekaligus mengurangi kualitas keimanan seseorang. Islam mengajarkan agar setiap Muslim senantiasa membersihkan hati dari sifat tersebut melalui berbagai ikhtiar yang bersumber dari ajaran Al-Qur'an dan sunnah.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darul Madinnah Madiun, Ustaz Amir Abdullah, M.Pd., menjelaskan bahwa mengobati sifat hasad dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yakni dimulai dari diri sendiri dan melalui peran orang lain atau lingkungan sekitar. Menurutnya, kedua cara tersebut saling melengkapi dalam proses penyucian hati.

"Hasad adalah penyakit hati yang tidak bisa hilang hanya dengan keinginan sesaat. Ia harus diobati secara bertahap melalui kesadaran diri, peningkatan ilmu, ibadah, serta lingkungan yang baik," ujar Ustaz Amir, Selasa, 4 Agustus 2026.

Ia menuturkan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan berasal dari diri sendiri, yaitu melakukan perenungan atau refleksi (muhasabah). Seseorang perlu berani mengakui bahwa dirinya memiliki rasa iri terhadap nikmat yang diterima orang lain.

"Sering kali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sedang hasad. Karena itu, muhasabah menjadi langkah awal untuk mengenali penyakit hati tersebut. Ketika seseorang mampu mengakui kelemahannya, maka proses memperbaikinya akan lebih mudah," katanya.

Muhasabah merupakan bagian dari upaya memperbaiki diri sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Hasyr ayat 18: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)

Menurut Ustaz Amir, ayat tersebut mengajarkan pentingnya evaluasi diri agar setiap Muslim dapat memperbaiki kekurangan, termasuk membersihkan penyakit hati seperti hasad.

Langkah kedua, lanjutnya, adalah memperdalam pemahaman tentang hakikat hasad melalui belajar agama. Seseorang dapat mengaji, membaca buku-buku akhlak, mempelajari tafsir Al-Qur'an dan hadis, maupun bertanya kepada para ulama atau guru agama mengenai bahaya hasad dan cara menghindarinya.

"Ilmu menjadi obat bagi kebodohan. Ketika seseorang memahami bahwa hasad dapat menghapus pahala, merusak persaudaraan, dan dibenci Allah, maka ia akan lebih berhati-hati menjaga hatinya," jelasnya.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Az-Zumar ayat 9: "...Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya hanya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9)

Menurutnya, semakin dalam seseorang memahami ajaran Islam, semakin besar kesadarannya untuk menjauhi berbagai penyakit hati.

Langkah ketiga adalah memperbanyak istighfar sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT sekaligus upaya membersihkan hati dari dosa dan sifat buruk.

"Hasad merupakan penyakit hati yang berkaitan dengan dosa. Karena itu, perbanyaklah memohon ampun kepada Allah. Istighfar bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga melembutkan hati agar lebih mudah menerima ketentuan Allah," tuturnya.

Ia mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah Hud ayat 3: "Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu lalu bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan..." (QS. Hud: 3)

Selain dilakukan dari dalam diri, Ustaz Amir menilai proses penyembuhan hasad juga membutuhkan peran orang lain. Lingkungan yang baik, majelis ilmu, sahabat saleh, serta nasihat dari keluarga dan guru memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter seseorang.

"Jangan malu meminta nasihat kepada guru atau orang saleh ketika hati mulai dipenuhi rasa iri. Terkadang orang lain dapat melihat kekurangan kita yang tidak kita sadari," ujarnya.

Ia juga menganjurkan agar masyarakat memperbanyak berkumpul dalam majelis ilmu karena suasana yang dipenuhi zikir dan ilmu agama akan membantu menjaga kebersihan hati serta memperkuat keimanan.

Menurutnya, lingkungan yang baik akan membiasakan seseorang untuk saling mendoakan, saling mendukung, dan ikut bersyukur atas keberhasilan orang lain sehingga perlahan rasa hasad dapat terkikis.

Lebih lanjut, Ustaz Amir mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 32 yang secara tegas melarang umat Islam iri terhadap karunia yang diberikan kepada orang lain. "Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nisa: 32)

Menurutnya, ayat tersebut menjadi pedoman agar setiap Muslim lebih memilih berdoa dan berikhtiar daripada sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain.

"Setiap orang memiliki rezeki, ujian, dan jalan hidup yang berbeda. Tugas kita bukan membandingkan, melainkan memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan menerima ketetapan Allah dengan lapang dada. Jika hati bersih dari hasad, insyaallah hidup akan lebih tenang dan penuh keberkahan," pungkasnya.

Dengan memperbaiki diri, memperdalam ilmu agama, memperbanyak istighfar, serta membangun lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan, sifat hasad dapat dikikis secara bertahap.Umat Islam diharapkan mampu membangun kehidupan yang harmonis, memperkuat ukhuwah, dan mewujudkan akhlak mulia sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....