Psikolog Soroti Anggapan Gen Z Tidak Tahan Tekanan Kerja
- 31 Jul 2026 18:27 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Anggapan bahwa Generasi Z tidak tahan terhadap tekanan kerja kerap menjadi perbincangan di berbagai kalangan. Munculnya fenomena seperti cepat mengundurkan diri, berani menyampaikan pendapat kepada atasan, hingga lebih memilih menjaga keseimbangan hidup dan pekerjaan sering kali memunculkan stereotip bahwa Gen Z kurang tangguh dibanding generasi sebelumnya. Namun, psikolog menilai anggapan tersebut perlu dilihat secara lebih utuh.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa tidak tepat jika seluruh Generasi Z diberi label sebagai generasi yang tidak tahan tekanan. Menurutnya, setiap individu memiliki kemampuan menghadapi tekanan yang berbeda, terlepas dari faktor usia maupun generasi.
“Melabeli satu generasi sebagai 'lembek' atau tidak tahan tekanan adalah penyederhanaan yang kurang tepat. Yang perlu dipahami adalah bagaimana karakteristik lingkungan kerja dan cara setiap individu merespons tekanan tersebut,” ujarnya pada Kamis 30 Juli 2026.
Menurut Andi, Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang cepat, perubahan sosial yang dinamis, serta meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Kondisi tersebut membentuk cara pandang yang berbeda terhadap dunia kerja.
“Banyak Gen Z memandang pekerjaan bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai tempat untuk berkembang dan menjaga kesejahteraan diri. Karena itu, mereka cenderung lebih berani menyampaikan ketika merasa lingkungan kerja sudah tidak sehat,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberanian untuk mengungkapkan kelelahan atau mencari bantuan ketika mengalami tekanan tidak dapat langsung diartikan sebagai tanda kelemahan.
“Kesadaran terhadap kesehatan mental justru dapat menjadi bentuk kemampuan mengenali kondisi diri. Yang penting adalah bagaimana seseorang mengelola tekanan itu, bukan sekadar mampu bertahan dalam situasi yang tidak sehat,” tambah Andi.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi Generasi Z di dunia kerja juga berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tuntutan keterampilan yang terus berubah, persaingan kerja yang ketat, hingga derasnya arus informasi di media digital.
“Tekanan kerja saat ini tidak hanya berasal dari beban pekerjaan, tetapi juga dari ekspektasi untuk terus berkembang, selalu terhubung, dan mampu mengikuti perubahan yang sangat cepat,” katanya.
Andi menjelaskan bahwa kemampuan menghadapi tekanan atau resilience dapat dipelajari dan dikembangkan. Lingkungan kerja yang suportif, komunikasi yang terbuka, serta kesempatan untuk belajar dari kesalahan menjadi faktor penting dalam membangun ketangguhan seseorang.
“Ketangguhan bukan berarti tidak pernah merasa lelah atau stres. Ketangguhan adalah kemampuan untuk bangkit, belajar, dan mencari solusi ketika menghadapi tantangan,” ujarnya.
Ia juga mengimbau perusahaan agar membangun budaya kerja yang sehat, termasuk memberikan umpan balik yang jelas, ruang untuk berdiskusi, dan dukungan terhadap pengembangan karyawan.
“Hubungan yang baik antara atasan dan karyawan akan membantu menciptakan lingkungan kerja yang produktif sekaligus menjaga kesehatan mental,” tegas Andi.
Sementara itu, kepada Generasi Z, Andi menyarankan agar terus mengembangkan kemampuan mengelola stres, meningkatkan keterampilan komunikasi, serta membangun sikap adaptif dalam menghadapi dinamika dunia kerja.
“Setiap pekerjaan pasti memiliki tantangan. Yang perlu dibangun adalah kemampuan menghadapi tekanan secara sehat, bukan menghindari setiap bentuk kesulitan,” katanya.
Ia berharap masyarakat tidak mudah memberikan stereotip terhadap satu generasi, melainkan lebih memahami perubahan cara pandang dan kebutuhan yang berkembang di dunia kerja saat ini.
“Daripada saling memberi label, akan lebih bermanfaat jika setiap generasi saling belajar. Pengalaman dari generasi sebelumnya dan perspektif baru dari Generasi Z dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik,” pungkas Andi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....