Psikolog Jelaskan Dampak Overthinking terhadap Prestasi Pelajar

  • 30 Jun 2026 00:48 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun: Fenomena overthinking atau berpikir secara berlebihan menjadi salah satu tantangan yang banyak dialami pelajar.

Kekhawatiran terhadap nilai, tugas, ujian, hingga ekspektasi dari lingkungan sering kali membuat pelajar sulit berkonsentrasi dan berpengaruh terhadap prestasi akademik.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa overthinking merupakan kondisi ketika seseorang terus-menerus memikirkan suatu masalah atau kemungkinan yang belum tentu terjadi.

Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan belajar dan kesejahteraan psikologis pelajar.

“Pelajar yang mengalami overthinking biasanya menghabiskan banyak energi untuk memikirkan berbagai kemungkinan, sehingga fokusnya saat belajar menjadi berkurang,” ujarnya pada Sabtu, 27 Juni 2026.

Menurut Andi, overthinking sering dipicu oleh rasa takut gagal, tekanan untuk memperoleh nilai tinggi, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan teman sebaya.

Di era digital, paparan pencapaian orang lain di media sosial juga dapat memperkuat kecemasan tersebut.

“Ketika pelajar terus membandingkan dirinya dengan orang lain, mereka cenderung merasa belum cukup baik meskipun sudah berusaha,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai dampak, seperti sulit berkonsentrasi, menurunnya motivasi belajar, gangguan tidur, hingga kelelahan mental.

Bahkan, sebagian pelajar justru menunda mengerjakan tugas karena terlalu banyak memikirkan hasil yang ingin dicapai.

“Semakin banyak berpikir tanpa diikuti tindakan, semakin besar kemungkinan tugas tidak terselesaikan dengan baik,” tambah Andi.

Menurutnya, overthinking juga dapat mengurangi rasa percaya diri. Pelajar menjadi ragu terhadap kemampuan sendiri dan lebih fokus pada ketakutan akan kesalahan daripada proses belajar.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Andi menyarankan pelajar agar lebih fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan, seperti menyusun jadwal belajar, mengerjakan tugas secara bertahap, serta memberikan waktu istirahat yang cukup.

Ia juga menekankan pentingnya tidak menetapkan standar yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri.

“Belajar adalah proses. Tidak semua hal harus sempurna. Yang terpenting adalah terus berkembang dan berani mencoba,” katanya.

Selain itu, Andi mendorong orang tua dan guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang suportif. Apresiasi terhadap usaha dan proses belajar dinilai lebih membantu dibanding hanya berfokus pada hasil akhir.

“Ketika pelajar merasa didukung, mereka akan lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan dan tidak mudah terjebak dalam pikiran negatif,” tegasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....