Aura Mistis Madiun Berakar Sejarah dan Upaya Pelestarian

  • 20 Jun 2026 17:05 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, MADIUN – Sejumlah lokasi di Kota Madiun dan sekitarnya kerap dikenal masyarakat memiliki aura mistis. Namun di balik berbagai cerita horor yang berkembang, banyak di antaranya justru berakar pada sejarah panjang, budaya masyarakat, hingga upaya menjaga kelestarian lingkungan dan situs bersejarah.

Hal tersebut disampaikan sejarawan dari Historia van Madioen (HVM), Septian Dwita Kharisma, dalam program Obrolan Jaga Malam PRO 2 RRI Madiun, Jumat malam.

Menurut Septian, cerita-cerita mistis yang melekat pada bangunan tua, punden, sendang, maupun situs sejarah tidak selalu lahir dari pengalaman supranatural semata. Dalam banyak kasus, mitos sengaja dibangun masyarakat sebagai bentuk perlindungan terhadap peninggalan sejarah.

“Cerita misteri itu sering kali merupakan upaya masyarakat untuk mengonservasi atau melindungi situs sejarah agar tidak dirusak ataupun dicuri,” ujar Septian.

Ia mencontohkan keberadaan Watu Gilang di Magetan yang dalam cerita rakyat disebut dijaga macan besar. Menurutnya, kisah semacam itu berfungsi menjaga benda bersejarah agar tidak diambil atau dirusak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Selain melindungi situs sejarah, unsur mistis juga memiliki kaitan dengan pelestarian lingkungan. Septian menjelaskan, banyak sendang, punden, maupun pohon-pohon besar yang disakralkan karena memiliki fungsi penting bagi kehidupan masyarakat.

“Danyang atau penunggu yang dipercaya masyarakat pada masa lalu sebenarnya menjadi bagian dari upaya konservasi. Pohon besar dan sumber air dijaga karena sangat penting bagi kehidupan warga,” katanya.

Ia menyebut konsep tersebut dikenal sebagai ekomistisisme, yakni penggunaan nilai-nilai mistis untuk menjaga ekosistem dan sumber daya alam. Dalam pandangan Septian, persepsi masyarakat terhadap makhluk gaib juga terus mengalami evolusi mengikuti perkembangan budaya populer. Gambaran pocong, kuntilanak, hingga berbagai sosok hantu modern banyak dipengaruhi film, televisi, musik, dan budaya tutur yang berkembang dari generasi ke generasi.

“Hal-hal gaib itu merupakan produk budaya yang terus berevolusi. Cara masyarakat membayangkan sosok hantu dipengaruhi oleh budaya populer yang mereka konsumsi,” jelasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....