Edukasi dan Skrining TBC di Pesantren Perkuat Deteksi Dini pada Santri
- 30 Apr 2026 16:44 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Ponorogo – Edukasi kesehatan dan skrining tuberkulosis (TBC) menjadi langkah penting dalam mendukung deteksi dini penyakit menular di lingkungan pondok pesantren. Upaya ini dilakukan melalui kegiatan Active Case Finding (ACF) TBC yang menyasar santri di Pondok Pesantren Darul Huda Mayak, Kabupaten Ponorogo, Selasa 28 April 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Kesehatan Masyarakat Terampil RSUD Dungus, Hana Maratussolicha memberikan penyuluhan kesehatan terkait Tuberkulosis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan penularannya melalui udara saat penderita batuk atau bersin kepada para santri.
Hana menyampaikan gejala utama TBC antara lain batuk terus-menerus, disertai gejala lain seperti dahak bercampur darah, penurunan nafsu makan, berat badan menurun, demam berkepanjangan, berkeringat di malam hari, hingga sesak napas dan nyeri dada.
Selain itu, satu pasien TBC aktif berpotensi menularkan kepada 10 hingga 15 orang setiap tahun apabila tidak ditangani dengan baik. Karena itu, pengenalan gejala sejak dini dan pemeriksaan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
“TBC dapat menular melalui udara ketika penderita batuk atau bersin, karena itu penting untuk mengenali gejala sejak dini dan segera memeriksakan diri,” jelas Hana.
Hana menambahkan pengobatan TBC perlu dijalani secara rutin selama 6–8 bulan hingga tuntas. Ketidakpatuhan dalam minum obat dapat menyebabkan kondisi yang lebih sulit ditangani.
Dalam materi juga disampaikan kelompok yang berisiko tinggi terkena TBC, seperti anak-anak, lansia, perokok, orang dengan kontak erat pasien TBC, serta individu dengan penyakit penyerta seperti diabetes melitus dan HIV/AIDS.
Upaya pencegahan turut ditekankan melalui penerapan etika batuk, penggunaan masker, menjaga ventilasi udara, tidak membuang dahak sembarangan, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Sebagai bentuk deteksi dini, sebanyak 93 santriwati mengikuti pemeriksaan skrining melalui rontgen. Pemeriksaan ini diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kasus lebih awal sehingga penanganan dapat segera dilakukan.
Selain itu, santri juga mendapatkan edukasi tambahan mengenai skabies serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk memperkuat pemahaman menjaga kesehatan di lingkungan pesantren.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran terhadap pentingnya pemeriksaan dini dan penerapan pola hidup sehat dapat terus meningkat di lingkungan pondok pesantren.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....