Membangun Generasi Cinta Budaya Indonesia, Begini Salah Satunya
- 29 Apr 2026 16:13 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya Indonesia di kalangan generasi muda menjadi tantangan tersendiri di era globalisasi. Di tengah derasnya pengaruh budaya asing dan perkembangan teknologi, tidak sedikit anak muda yang memandang budaya lokal sebagai sesuatu yang kuno dan kurang relevan dengan kehidupan modern.
Menanggapi fenomena tersebut, Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum, Dekan Fakultas Hukum Universitas Merdeka Madiun, menegaskan bahwa membangun kesadaran budaya harus dimulai dari perubahan cara pandang generasi muda itu sendiri. “Budaya Indonesia bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman. Justru di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur, identitas bangsa, dan kearifan lokal yang tidak dimiliki oleh negara lain,” ujarnya, Rabu, 29 April 2026. .
Menurutnya, anggapan bahwa budaya itu kuno muncul karena kurangnya pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Ia menilai bahwa generasi muda cenderung lebih tertarik pada sesuatu yang dikemas secara modern, interaktif, dan dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
“Masalahnya bukan pada budayanya, tetapi pada cara kita mengenalkannya. Jika budaya dikemas dengan cara yang kreatif melalui media sosial, film, musik, atau event kekinian maka generasi muda akan lebih mudah menerima dan bahkan bangga terhadap budaya sendiri,” jelasnya.
Dr. Sigit juga menekankan pentingnya peran pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai budaya sejak dini. Ia menyarankan agar institusi pendidikan tidak hanya mengajarkan budaya secara teoritis, tetapi juga melalui pengalaman langsung seperti praktik seni, kunjungan budaya, hingga keterlibatan dalam kegiatan tradisional.
Selain itu, keluarga dan lingkungan sosial juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda yang mencintai budaya bangsa. Kebiasaan sederhana seperti menggunakan bahasa daerah, mengenalkan kuliner tradisional, hingga mengikuti upacara adat dapat menjadi langkah awal yang efektif.
Dalam menghadapi persepsi bahwa budaya itu kuno, Dr. Sigit mengajak generasi muda untuk melihat budaya sebagai sesuatu yang dinamis dan adaptif. “Budaya tidak harus selalu tampil dalam bentuk lama. Ia bisa berkembang tanpa kehilangan esensinya. Justru di situlah peran generasi muda sebagai inovator yang mampu menghidupkan kembali budaya dengan cara yang relevan,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa mencintai budaya Indonesia bukan berarti menolak budaya asing, melainkan mampu menyaring dan menempatkan budaya luar secara bijak tanpa kehilangan jati diri bangsa. “Generasi muda harus menjadi agen pelestari sekaligus pengembang budaya. Jika bukan kita yang menjaga, lalu siapa lagi?” pungkasnya.
Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, harapan untuk membangun generasi yang mencintai budaya Indonesia bukanlah hal yang mustahil. Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi masa depan bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....