Orang Tua Perlu Memahami Kebutuhan Remaja untuk Menjadi “Sahabat” Anak
- 08 Apr 2026 22:29 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Perubahan perilaku anak saat memasuki masa remaja kerap membuat orang tua bingung. Anak yang dulunya penurut dan terbuka, tiba-tiba menjadi lebih tertutup bahkan cenderung membantah. Fenomena ini dinilai sebagai hal yang wajar dalam proses tumbuh kembang remaja.
Psikolog sekaligus dosen Program Studi Psikologi UKWMS, Dr. Yettie Wandansari, menjelaskan bahwa untuk dapat mendampingi remaja dengan baik, orang tua perlu terlebih dahulu memahami kebutuhan anak di fase tersebut.
“Untuk bisa mendampingi remaja dan menjadi sahabatnya, kita perlu tahu dulu apa yang sebenarnya mereka butuhkan,” ujarnya.
Menurutnya, masa remaja tidak hanya dimulai saat anak duduk di bangku SMP atau SMA, tetapi sudah diawali sejak praremaja, yakni saat anak berada di kelas 4 hingga kelas 6 SD. Pada fase ini, anak mulai menunjukkan tanda-tanda pubertas dan mengalami berbagai perubahan awal, baik secara fisik maupun emosional.
Memasuki jenjang SMP, perubahan fisik menjadi semakin terlihat. Pada remaja laki-laki, suara mulai berubah menjadi lebih berat, sementara pada perempuan mulai mengalami perubahan bentuk tubuh serta menstruasi. Fase ini seringkali disertai dengan gejolak emosi yang membuat anak lebih sensitif.
Selanjutnya di masa SMA, yang disebut sebagai remaja madya, hubungan sosial terutama dengan lawan jenis mulai berkembang lebih intens. Sementara itu, fase remaja akhir umumnya terjadi saat memasuki dunia perkuliahan, di mana individu mulai membentuk jati diri yang lebih matang.
Dr. Yettie menegaskan bahwa perubahan sikap anak, seperti menjadi lebih tertutup atau sering menjawab singkat, bukanlah bentuk pembangkangan semata, melainkan bagian dari proses pencarian identitas diri.
“Yang dulu anaknya nurut, sekarang suka membantah. Dulu suka bercerita, sekarang kalau ditanya jawabnya ‘enggak tahu’ atau ‘terserah’. Itu membuat orang tua jadi khawatir, padahal itu bagian dari perkembangan mereka,” jelasnya.
Ia menyarankan agar orang tua tidak langsung menghakimi, melainkan membangun komunikasi yang lebih terbuka dan empatik. Dengan memahami fase perkembangan remaja, orang tua diharapkan dapat menjadi pendamping yang tidak hanya mengawasi, tetapi juga menjadi tempat anak berbagi.
Pendekatan yang tepat, lanjutnya, akan membantu menciptakan hubungan yang lebih harmonis antara orang tua dan anak, sehingga remaja dapat tumbuh dengan sehat secara emosional maupun sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....