Sering Dianggap Sepele, Inilah Tanda Anak Durhaka
- 16 Mar 2026 20:54 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun : Dalam sebuah sesi tanya jawab yang hangat di program Mutiara Pagi RRI Madiun, Sabtu, 14 Maret 2026 seorang pendengar bernama Bu Hesti dari Ngawi melontarkan pertanyaan yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Ia menanyakan tentang batasan minimal seorang anak bisa dikategorikan sebagai anak durhaka. Hal ini menjadi krusial mengingat sebelumnya telah dibahas bahwa durhaka kepada orang tua merupakan salah satu penghalang utama seseorang mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar.
Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber Ustadz Shofar, S.Pd.I, SM. menjelaskan bahwa batasan durhaka sebenarnya dimulai dari hal-hal yang sering dianggap sepele oleh banyak orang.
Merujuk pada ayat Al-Qur'an, batasan paling dasar adalah ketika seorang anak mulai berkata "Ah" atau menyanggah perintah orang tua dengan kata-kata yang tidak enak didengar. Tindakan membentak atau berkata kasar (wala tanharhuma) sudah jelas masuk dalam kategori durhaka yang harus dihindari oleh setiap anak.
Lebih lanjut, Ustadz Shofar memaparkan etika berkomunikasi yang sering kali dilanggar di zaman sekarang. Ustadz Shofar menyebutkan bahwa menurut para ulama, memanggil orang tua hanya dengan menyebut nama mereka tanpa embel-embel penghormatan adalah bagian dari kedurhakaan.
Terlebih lagi jika anak berani memanggil orang tua dengan sebutan atau julukan yang buruk (laqab), seperti mengejek fisik mereka. Hal ini mencerminkan hilangnya rasa hormat dan kesopanan dalam hubungan keluarga.
"Upayakan selembut mungkin kita berkata kepada orang tua, seindah mungkin panggilan kita kepada keduanya. Gunakan panggilan yang memuliakan seperti Ayah, Ibu, Papa, atau Mama. Jangan sekali-kali memanggil langsung namanya," tegas Ustadz Shofar.
Ustadz Shofar menekankan bahwa panggilan yang santun adalah bentuk pengabdian paling sederhana namun sangat bermakna di mata Allah SWT.
Hal lain yang sering menjadi jebakan adalah sikap meremehkan permintaan tolong orang tua. Ustadz Shofar mengingatkan bahwa menunda-nunda bantuan dengan alasan "nanti saja" atau merasa orang tua masih bisa melakukannya sendiri, sebenarnya sudah termasuk dalam bibit durhaka kecil. Seorang anak seharusnya mendahulukan panggilan orang tua di atas kepentingan pribadinya, bahkan di atas ibadah sunnah sekalipun.
Sebagai ilustrasi betapa tingginya kedudukan orang tua, Ustadz Shofar memberikan perumpamaan yang luar biasa.
Beliau menjelaskan bahwa jika seseorang sedang melaksanakan shalat sunnah lalu ibunya memanggil, maka disarankan untuk membatalkan shalat tersebut demi menjawab panggilan sang ibu. "Bahwa kunci keberkahan hidup dan ampunan di akhir Ramadan sangat bergantung pada sejauh mana kita memuliakan orang tua," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....