Pentingnya Literasi Kritis dalam Pembelajaran Digital

  • 02 Mar 2026 21:28 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID,Madiun – Literasi kritis merupakan kemampuan seseorang untuk membaca secara aktif untuk mendapat pemahaman atau informasi yang lebih baik tentang sesuatu. Pada proses memahamiinformasi tersebut tidak hanya melibatkan kemampuan kognitif tetapi juga melibatkan kesadaran diri dan pengalaman pribadi. Dalam literasi kritis seorang siswa atau mahasiswa dituntut untuk lebih aktif dan kreatif menghadapi masalah yang sedang ia hadapi.

“Semua aktifitas dalam pembelajaran saat ini diarahkan kepada literasi digital. Pembelajaran digital dimulai sejak pandemi covid dan berlaku hingga sekarang. Disini diperlukan literasi kritis. Literasi kritis, tidak hanya bicara tentang membaca dan menulis, melainkan mencoba memahami dan menilai keakuratan informasi yang kita tterima” Dikatakan Wenny Wijayanti, M.Pd. selaku Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UKWMS Kampus Kota Madiun, Senin 2 Maret 2026.

Ledakan arus informasi diera digital, menjadikan siswa dan mahasiswa kerap disuguhi bermacam-macam informasi. Baik informasi yang berupa fakta sampai berita yang tidak benar atau hoax. Maka, tujuan dari literasi kritis adalah untuk memfilter informasi yang masuk diruang-ruang digital. Melalui literasi kritis siswa dan mahasiswa dilatih untuk menganalisis kredibilitas suatu informasi seperti dari mana sumber informasinya, siapa yang membuat informasinya serta apakah informasi tersebut dapat dipercaya atau tidak.

Sebagai seorang siswa atau mahasiswa kerap mencari bahan belajar atau informasi dari media digital. Di dunia digital, kita belajar dari mana saja bisa dari YouTube, Google, media sosial, maupun aplikasi belajar. Masalahnya, tidak semua yang ada di sana akurat dan bertanggung jawab. Literasi kritis menjadi kompas agar kita tidak tersesat di lautan informasi. Ada tiga sikap yang perlu dibangun dan ini bukan soal curiga pada semua orang, tapi soal cara kita berhubungan dengan informasi secara sehat.

“Sikap yang perlu kita miliki, pertama: terbuka tapi tidak mudah percaya. Kita tetap

mau menerima informasi baru, tapi tidak langsung menelannya. Ada jeda untuk bertanya. Sikap kedua: rendah hati secara intelektual. Ini yang sering kita lupakan. Kita harus berani mengakui bahwa kita bisa salah, bahwa informasi yang kita pegang selama ini mungkin perlu diperbarui. Ini justru tanda pikiran yang matang. Sikap ketiga: bertanggung jawab sebelum berbagi. Di era digital, kita bukan hanya konsumen informasi kita juga produsen. Setiap kali kita menekan tombol 'bagikan', kita ikut bertanggung jawab atas apa yang beredar." Jelas Wenny

Diakhir obrolan, Wenny mengajak masyarakat dalam hal ini siswa atau mahasiswa untuk lebih cerdas, reflektif dan dapat bertanggungjawab terhadapp sebuah informasi baik yang diterima maupun yang di bagikan atau dibuat. Siswa atau peserta didik juga harus mampu berpartisipasi secara bermakna ditengah perkembangan arus informasi

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....