Zero Waste Bukan Mitos: Gaya Hidup Minim Sampah Bisa Dimulai dari Rumah
- 26 Feb 2026 12:27 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Memasuki bulan Ramadan, aktivitas masyarakat meningkat drastis. Tradisi berburu takjil, meningkatnya konsumsi makanan, hingga belanja kebutuhan sahur dan berbuka membuat volume sampah ikut melonjak.
Di tengah kondisi tersebut, gaya hidup zero waste kembali menjadi sorotan. Namun, muncul pertanyaan: apakah zero waste hanya tren estetik media sosial atau benar-benar bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Relawan peduli lingkungan asal Kabupaten Magetan, Anton Suseno, menegaskan bahwa konsep zero waste kerap disalahpahami. “Zero waste bukan berarti tidak menghasilkan sampah sama sekali. Itu hampir mustahil. Tetapi kuncinya adalah bukan pada nol sampah. Tapi bagaimana kita berkomitmen untuk meminimalkan dan mengelola sampah dengan bijak,” kata Anton saat menjadi narasumber di Pro 2 RRI madiun.
Persoalan sampah bukan isu sepele. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), rata-rata satu orang Indonesia menghasilkan 0,7 hingga 1 kilogram sampah per hari. Dengan jumlah penduduk sekitar 270 juta jiwa, artinya lebih dari 175 ribu ton sampah diproduksi setiap hari.
Secara global, laporan World Bank tahun 2022 mencatat produksi sampah dunia mencapai 2,24 miliar ton per tahun dan diperkirakan meningkat hingga 3,4 miliar ton pada 2050 jika tidak ada perubahan signifikan dalam pola konsumsi.
Di Indonesia, komposisi sampah terbesar justru berasal dari sisa makanan atau food waste yang mencapai 40 persen. Disusul plastik 15 persen, kertas 12 persen, serta sisanya kayu, kain, kaca, logam, dan lainnya.
Ironisnya, banyak rumah tangga belum melakukan pemilahan sampah dari sumbernya. Akibatnya, sampah organik dan anorganik tercampur, sehingga menyulitkan proses daur ulang dan mempercepat penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menurut Anton, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil. Membawa tas belanja sendiri ke pasar, misalnya, bisa mengurangi ribuan kantong plastik dalam sehari jika dilakukan banyak orang.
“Bayangkan satu pasar dengan seribu pembeli. Jika semuanya menggunakan kantong plastik untuk setiap barang, berapa banyak sampah yang dihasilkan hanya dalam beberapa jam?” katanya.
Bulan Ramadan bisa menjadi titik awal perubahan perilaku konsumsi. Kebiasaan membeli takjil berlebihan sering berujung pada sisa makanan yang terbuang. Mengatur porsi belanja, membawa wadah sendiri saat membeli makanan, dan mengolah sisa makanan menjadi kompos adalah langkah konkret yang bisa dilakukan.
Anton juga menekankan bahwa zero waste tidak harus mahal. Justru, gaya hidup ini dapat menghemat pengeluaran rumah tangga karena mendorong konsumsi lebih bijak dan tidak impulsif. (Maytoru)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....