Generasi Filter: Memperparah Insecure pada Remaja?
- 23 Feb 2026 20:36 WIB
- Madiun
RRI. CO. ID, Madiun-Hadirnya media sosial membawa dampak besar bagi kehidupan remaja saat ini. Di satu sisi, platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi tempat berekspresi, belajar, dan bersosialisasi. Namun di sisi lain, fenomena yang dikenal sebagai “generasi filter” membuat banyak remaja merasa kurang percaya diri atau insecure akibat perbandingan diri dengan gambar dan konten yang mereka lihat setiap hari.
Fenomena ini menjadi sorotan oleh Chaterina Yeni Susilaningsih, M. Pd. pada program PUG & Inklusi Pro1 RRI Madiun. Menurut Chaterina, banyak remaja secara tidak sadar membandingkan diri mereka dengan yang terlihat di media sosial.
“Remaja melihat foto dan video yang terlihat sempurna: kulit tanpa jerawat, tubuh ideal, makanan estetis, liburan mewah, dan gaya hidup tanpa cela. Padahal banyak konten itu sudah melalui filter, editing, atau hanya momen terbaik yang dibagikan,” jelasnya, Senin (23/2/2026).
Dampaknya, lanjut Chaterina, adalah remaja mulai merasa dirinya kurang, tidak cukup baik, atau tidak seindah gambar yang mereka lihat. “Ini yang kita sebut insecure. Bukan hanya kebiasaan banding-bandingkan, tapi bisa memengaruhi harga diri remaja secara mendalam,” katanya.
Chaterina menjelaskan beberapa tanda remaja mulai merasa insecure akibat media sosial, antara lain slalu membandingkan diri dengan orang lain. Kemudian sering merasa cemas atau kurang percaya diri sebelum dan setelah membuka media sosial. Tidak nyaman dengan penampilan diri sendiri. Membatasi diri dari interaksi sosial nyata karena takut kalah atau tidak sebanding dengan orang lain. "Ini bukan hal yang ringan. Jika terus dibiarkan, bisa memengaruhi mood, prestasi belajar, dan hubungan sosial,” tambahnya.
Chaterina mengatakan ada beberapa faktor yang memperparah insecure di kalangan remaja. Banyak foto atau video telah melewati editing sehingga menciptakan standar kecantikan atau kehidupan yang tidak realistis Lalu, remaja merasa nilai dirinya diukur dari jumlah like, komentar bagus, dan jumlah pengikut. Dan tidak semua remaja sadar bahwa apa yang mereka lihat belum tentu nyata sepenuhnya. Chaterina juga membagikan strategi yang bisa diterapkan oleh remaja, orang tua, dan pendidik untuk membantu mengurangi insecure akibat media sosial.
Remaja perlu diajarkan bahwa tidak semua yang terlihat di media sosial adalah nyata. "Ajari anak–anak untuk memikirkan secara kritis: apa tujuan postingan itu? Apakah sudah diedit? Bagaimana perbandingannya dengan kehidupan nyata?” ujar Chaterina.Terlalu sering membuka media sosial bisa memperkuat kebiasaan membandingkan diri.
“Mengatur waktu penggunaan bisa membantu remaja fokus pada kehidupan nyata, hobi, dan hubungan dengan teman atau keluarga,” katanya.
Remaja dianjurkan untuk membangun kebiasaan yang mendukung kesejahteraan diri, seperti olahraga, membaca, atau belajar keterampilan baru. "Ketika remaja punya tujuan personal, mereka akan menjadi lebih sadar akan kemampuan diri sendiri, bukan membandingkan terus,” tambah Chaterina.Keterbukaan diskusi tentang perasaan tidak aman dan tekanan hidup digital sangat penting. " Orang tua dan guru harus menjadi tempat aman bagi remaja untuk bercerita tanpa dihakimi,” tegas Chaterina.t
Chaterina memberikan pesan langsung kepada para remaja:
“Tidak ada manusia yang hidupnya sempurna seperti di layar. Bagus itu bukan tentang standar orang lain, tapi bagaimana kamu menerima dan mencintai dirimu sendiri.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....