Kajian Ilmiah Donor Darah

  • 18 Sep 2026 23:42 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Donor darah merupakan tindakan kemanusiaan yang berperan penting dalam mempertahankan ketersediaan komponen darah bagi pasien yang mengalami perdarahan, anemia berat, trauma, komplikasi obstetri, tindakan pembedahan, keganasan hematologi, serta berbagai kondisi yang memerlukan transfusi. Di sisi lain, donor darah merupakan proses fisiologis yang menyebabkan kehilangan sejumlah volume darah dan zat besi sehingga keselamatan pendonor harus menjadi bagian integral dari pelayanan transfusi. Kajian ini membahas kebutuhan darah oleh resipien, persyaratan calon pendonor, fisiologieritrosit dan hemoglobin, mekanisme pembentukan eritrosit setelah kehilangan darah, faktor-faktor yang mempengaruhi eritropoiesis, manfaat donor darah rutin yang di dukung bukti ilmiah, serta komplikasi dan strategi pencegahannya.

Literatur mutakhir menunjukkan bahwa tubuh memiliki mekanisme kompensasi melalui peningkatan eritropoietin dan aktivitas sumsum tulang untuk mengganti eritrosit yang hilang. Namun, donor darah berulang juga dapat mengurangi cadangan zat besi dan meningkatkan risiko defisiensibesi, terutama apabila interval donor terlalu pendek. Oleh karena itu, donor darah perlu dilakukan secara sukarela, aman, teratur, dan mengikuti skrining kesehatan serta interval donor yang ditetapkan oleh pelayanan transfuse darah. Klaim bahwa donor darah secara langsung memberikan perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular belum dapat dianggap sebagai manfaat yang dapat dibuktikan secara kausal.

Kata kunci:Donor Darah, Resipien, Eritrosit, Hemoglobin, Eritropoiesis, Zat Besi, Pendonor, Komplikasi.

  1. Pendahuluan

Darah merupakan jaringan biologis yang tidak dapat diproduksi secara missal melalui teknologi medis sehingga ketersediaannya sangat bergantung pada partisipasi manusia sebagai pendonor. Produk darah digunakan pada berbagai kondisi klinis, antara lain perdarahan akut akibat trauma dan pembedahan, komplikasi kehamilan dan persalinan, anemia berat, keganasan, kelainan hematologi, serta kondisi lain yang membutuhkan terapi transfusi. UTD PMI Aceh Utara mencatat rata-rata kebutuhan darah di wilayah kerjanya> 1.000 kantong darah perbulan. Karena darah hanya dapat diperoleh dari manusia, keberadaan pendonor sukarela dan tidak dibayar menjadi salah satu komponen fundamental dalam system pelayanan transfusi yang aman dan berkelanjutan. WHO menempatkan donor sukarela tanpa imbalan sebagai dasar penting penyediaan darah yang aman.

Kebutuhan darah bukan hanya berkaitan dengan jumlah kantong darah yang tersedia, tetapi juga kesesuaian golongan darah, kualitas komponen, keamanan dari infeksi yang dapat ditularkan melalui transfusi, serta kemampuan pelayanan darah mempertahankan pasokan secara berkelanjutan. Darah yang didonorkan harus melalui proses seleksi pendonor dan pemeriksaan laboratorium sebelum dapat diberikan kepada pasien. Dengan demikian, donor darah memiliki dua tujuan yang harus berjalan bersamaan, yaitu memenuhi kebutuhan pasien sebagai resipien dan melindungi kesehatan pendonor (WHO,2022).

Dalam konteks kegiatan pengabdian kepada masyarakat, donor darah memiliki nilai kesehatan masyarakat yang kuat karena mempertemukan aspek solidaritas sosial, promosi kesehatan, dan dukungan terhadap system pelayanan transfusi. Kegiatan donor darah yang dilakukan secara berkala di lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi sarana membangun budaya donor sukarela di kalangan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat. Namun, edukasi perlu menekankan bahwa donor darah bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi merupakan prosedur medis yang memiliki persyaratan dan potensi efeksamping sehingga setiap calon pendonor harus melalui proses skrining (WHO,2024).

  1. Kebutuhan Darah oleh Resipien

Transfusi darah merupakan intervensi medis untuk menyelamatkan nyawa ketika kapasitas pengangkutan oksigen, volume sirkulasi, atau komponen hemostasis pasien tidak dapat dipertahankan secara adekuat. Eritrosit terutama diberikan untuk meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen, sedangkan komponen darah lainnya seperti trombosit dan plasma digunakan sesuai indikasi klinis masing-masing. Oleh sebab itu, kebutuhan darah tidak dapat dipandang sebagai kebutuhan satu jenis produk saja, melainkan sebagai kebutuhan terhadap berbagai komponen darah yang harus tersedia dalam jumlah dan waktu yang tepat (WHO, 2024).

Pada kondisi perdarahan akut, kehilangan darah dapat menyebabkan penurunan volume intravaskular dan kemampuan darah membawa oksigen. Apabila kehilangan darah berlangsung cepat dan berat, kompensasi fisiologis seperti vasokonstriksi dan peningkatan denyut jantung dapat menjadi tidak memadai. Pada kondisi tersebut, terapi transfuse merupakan tindakan penting dari tata laksana untuk mempertahankan perfusi jaringan dan oksigenasi, sesuai kondisi klinis pasien. Ketersediaan darah yang memadai merupakan bagian penting dari kesiap siagaan pelayanan kesehatan.

Kebutuhandarah juga dipengaruhi oleh kejadian yang tidak selalu dapat diprediksi, seperti kecelakaan lalulintas, bencana, perdarahan obstetri, operasi emergensi, dan kondisi hematologi tertentu. Hal tersebut menyebabkan pelayanan transfuse membutuhkan donor yang berkelanjutan, bukan hanya donor yang muncul ketika terjadi keadaan darurat. WHO menekankan pentingnya donor sukarela tanpa imbalan dan donor regular sebagai fondasi pasokan darah yang aman (WHO, 2024).

  1. PersyaratanMenjadiPendonor Darah

    Menurut Guerra, A., Parhiz, H., &Rivella, S, 2023 pendonor harus melalui tahap skrining berikut:

    1. Kondisikesehatan

Secara prinsip, pendonor harus berada dalam kondisi kesehatan yang baik pada saat donor. Calon pendonor yang sedang mengalami infeksi atau kondisi kesehatan tertentu dapat ditunda sampai memenuhi persyaratan. Skrining bertujuan melindungi dua pihak sekaligus: pendonor dari risiko kesehatan akibat pengambilan darah dan resipien dari risiko memperoleh darah yang membawa agen infeksi atau kondisi lain yang membahayakan.

  1. Usia

Batas usia donor berbeda menurut regulasi nasional dan kebijakan pelayanan darah. WHO menyebutkan bahwa secara umum donor darah dapat dilakukan oleh orang sehat pada rentang usia sekitar 18–65 tahun, sementara batas khusus dapat berbeda berdasarkan peraturan negara dan penilaian medis. Karena itu, persyaratan yang berlaku pada lokasi donor harus mengikuti regulasi nasional serta kebijakan UTD yang melaksanakan kegiatan (WHO, 2024).

3.3. Berat badan

Berat badan menjadi salah satu parameter penting karena volume darah yang diambil harus proporsional terhadap volume darah sirkulasi pendonor. WHO secara umum mencantumkan berat badan minimal 50 kg untuk donor darah utuh, sementara pada beberapa system pelayanan dapat berlaku ketentuan berbeda, misalnya donor dengan berat badan tertentu hanya diperbolehkan memberikan volume yang lebih kecil. Oleh karena itu, calon pendonor yang tidak memenuhi batas berat badan dapat ditolak atau ditunda demi keselamatan pendonor (WHO, 2024).

Hal ini menjelaskan mengapa dalam kegiatan donor darah di lingkungan kampus dapat ditemukan mahasiswa yang sangat antusias tetapi belum dapat menjadi pendonor. Kegagalan memenuhi persyaratan berat badan bukan berarti seseorang tidak sehat, tetapi menunjukkan bahwa volume darah yang aman untuk diambil harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan volume darah calon pendonor. Prinsip tersebut merupakan bagian dari keselamatan donor.

  1. Hemoglobin

Pemeriksaan hemoglobin merupakan bagian penting dalam skrining karena donor darah menyebabkan kehilangan eritrosit dan zatbesi. Pendonor dengan kadar hemoglobin yang terlalu rendah berisiko mengalami atau memperburuk anemia apabila tetap mendonorkan darah (Medlock, A. E., & Dailey, H. A, 2022). WHO menjelaskan bahwa pemeriksaan hemoglobin bertujuan untuk mencegah orang yang anemia menjadi pendonor sekaligus mengurangi risiko defisiensibesi akibat donor berulang.

Menurut WHO, 2022 nilai ambang hemoglobin pendonor sekitar12,5 g/dL pada perempuan dan 13,5 g/dL pada laki-laki, tetapi ketentuan actual dapat berbeda menurut regulasi nasional. Karena itu, kelayakan donor harus mengikuti nilai ambang yang ditetapkan oleh pelayanan transfuse darah setempat.

  1. Skriningpenyakit dan risikoinfeksi

Darah yang didonorkan harus diperiksa dari berbagai infeksi yang dapat ditularkan melalui transfusi. Seleksi pendonor merupakan langkah pertama, tetapi tidak cukup untuk menjamin keamanan darah karena seseorang dapat berada dalam periode awal infeksi ketika pemeriksaan belum mendeteksi penanda tertentu. Oleh karena itu, WHO, 2024 merekomendasikan seluruh donasi darah menjalani skrining terhadap infeksi yang relevan sebelum darah atau komponennya diberikan kepada pasien.

  1. Eritrosit dan Hemoglobin

Eritrosit atau sel darah merah merupakan komponen seluler utama darah yang memiliki fungsi penting dalam transportasi oksigen dari paru-paru ke jaringan dan pengangkutan sebagian karbon dioksida kembali ke paru-paru. Fungsi tersebut terutama dimungkinkan oleh hemoglobin, yaitu protein yang mengandung heme dan memiliki kemampuan mengikat oksigen. Oleh karena itu, jumlah eritrosit dan konsentrasi hemoglobin merupakan parameter penting dalam menilai kapasitas pengangkutan oksigen darah (Maio, N., Zhang, D.-L., Ghosh, M. C., Jain, A., SantaMaria, A. M., & Rouault, T. A, 2021).

Hemoglobin terdiri atas bagian globin dan heme yang mengandung atom besi. Selama proses pematangan eritroid, sel-sel prekursoreritrosit membutuhkan sejumlah besar besi untuk sintesis hemoglobin. Proses sintesis heme sendiri melibatkan rangkaian reaksi enzimatik yang kompleks di dalam sel eritroid. Gangguan ketersediaan besi atau gangguan metabolisme heme dapat mengganggu pembentukan hemoglobin dan pada akhirnya menghasilkan eritrosit yang tidak optimal (Ginzburg, Y., An, X., Rivella, S., & Goldfarb, A. 2023).

  1. Eritropoiesis: BagaimanaTubuh Mengganti Darah yang Hilang?

Eritropoiesis merupakan proses pembentukan eritrosit yang berlangsung terutama di sumsum tulang. Sel puncahematopoietik mengalami serangkaian diferensiasi menjadi progenitor eritroid, kemudian berkembang menjadi eritroblas, retikulosit, dan akhirnya eritrositmatur. Dalam keadaan fisiologis, proses ini berlangsung terus menerus untuk mengganti eritrosit yang telah mengalami penuaan atau dihancurkan. Penelitian modern memperkirakan bahwa tubuh manusia memproduksi sekitar dua juta eritrosit setiap detik untuk mempertahankan homeostasis eritrosit (Guerra, A., Parhiz, H., &Rivella, S, 2023).

Regulasieritropoiesis sangat dipengaruhi oleh eritropoietin atau erythropoietin (EPO). Ketika jaringan mengalami penurunan ketersediaan oksigen, sistem sensor oksigen terutama di ginjal meningkatkan produksi EPO. Hormon tersebut kemudian merangsang progenitor eritroid di sumsum tulang untuk meningkatkan proliferasi, diferensiasi, dan kelangsungan hidup sel eritroid. Mekanisme ini memungkinkan tubuh merespons kehilangan darah atau kondisi hipoksia dengan meningkatkan produksi eritrosit (Camaschella, C., Pagani, A., Silvestri, L., & Nai, A, 2022).

Setelah donor darah, tubuh harus mengganti bukan hanya eritrosit tetapi juga volume plasma dan zat besi yang hilang. Volume plasma biasanya dipulihkan lebih cepat dibandingkan massa eritrosit karena cairan intravascular dapat digantikan melalui perpindahan cairan tubuh dan asupan cairan. Sebaliknya, penggantian eritrosit membutuhkan proses eritropoiesis yang lebih lama dan sangat bergantung pada ketersediaan zat besi.

  1. Faktor-Faktor yang MemengaruhiPembentukanEritrosit

    1. Eritropoietin dan oksigenasijaringan

Faktor utama pengendali eritropoiesis adalah kebutuhan oksigen jaringan yang diterjemahkan melalui sistem sensor hipoksia dan produksi EPO. Penurunan oksigenasi jaringan meningkatkan stimulus eritropoiesis, sedangkan keadaan oksigenasi yang adekuat memberikan umpan balik untuk mempertahankan produksi eritrosit dalam batas fisiologis (Guerra, A., Parhiz, H., &Rivella, S, 2023).

  1. Zatbesi

Besi merupakan unsure esensial dalam sintesis heme dan hemoglobin. Homeostasis besi dikendalikan secara ketat melalui interaksi antara penyerapan intestinal, penyimpanan, distribusi, dan penggunaan besi oleh jaringan. Hepcidin yang diproduksi hati merupakan regulator penting yang mengendalikan ketersediaan besi melalui pengaturan ferroportin (Maio, N., Zhang, D.-L., Ghosh, M. C., Jain, A., SantaMaria, A. M., & Rouault, T. A, 2021).

Hubungan antara besi dan eritropoiesis bersifat dua arah. Eritropoiesis membutuhkan besi dalam jumlah besar untuk menghasilkan hemoglobin, sedangkan peningkatan aktivitas eritropoietik dapat mengubah regulasi metabolism besi, antara lain melalui eritroferron yang memengaruhi hepcidin. Ketika ketersediaan besi tidak mencukupi, pembentukan hemoglobin terganggu dan produksi eritrosit menjadi tidak efektif (Maio, N., Zhang, D.-L., Ghosh, M. C., Jain, A., SantaMaria, A. M., & Rouault, T. A,2021).

  1. Vitamin B12 dan folat

Vitamin B12 dan folat diperlukan untuk sintesis DNA dan pembelahan sel progenitor hematopoietik. Kekurangan kedua mikronutrien tersebut dapat menyebabkan gangguan pematangan eritrosit dan anemia megaloblastik. Oleh sebab itu, kecukupan mikronutrien merupakan salah satu factor penting untuk mempertahankan eritropoiesis normal.

  1. Protein dan nutrisi

Pembentukan globin dan berbagai protein yang diperlukan dalam eritropoiesis memerlukan ketersediaan asam amino dan energi yang memadai. Status nutrisi yang buruk dapat menghambat pembentukan sel darah dan memperlambat pemulihan setelah kehilangan darah.

  1. Kondisiinflamasi dan penyakitkronis

Inflamasi kronis dapat mengganggu penggunaan besi untuk eritropoiesis melalui peningkatan hepcidin dan perubahan metabolism besi. Akibatnya, besi dapat tersedia dalam tubuh tetapi tidak cukup tersedia untuk digunakan oleh prekursoreritroid. Kondisi tersebut menjadi salah satu mekanisme anemia pada penyakit kronis.

  1. Donor Darah dan Perubahan Fisiologis pada Pendonor

Donor darah utuh menyebabkan kehilangan sejumlah volume darah yang terdiri atas plasma, eritrosit, hemoglobin, dan zat besi. Respons awal tubuh adalah mempertahankan volume sirkulasi melalui redistribusi cairan dan mekanisme neurohormonal. Selanjutnya, peningkatan stimulus eritropoietik membantu sumsum tulang menghasilkan eritrosit baru. Proses tersebut merupakan adaptasifisiologis normal selama pendonor berada dalam kondisi sehat dan interval donor memadai.

Namun, kemampuan tubuh mengganti eritrosit tidak berarti bahwa donor darah berulang tidak memiliki konsekuensi terhadap cadangan zat besi. Setiap donor darah utuh menyebabkan kehilangan zat besi, dan donor yang sering dapat mengalami penurunan ferritin sebelum kadar hemoglobinnya turun. Dengan demikian, seseorang dapat mengalami iron deficiency without anemia terlebih dahulu sebelum akhirnya berkembang menjadi anemia defisiensibesi (Maio, N., Zhang, D.-L., Ghosh, M. C., Jain, A., SantaMaria, A. M., & Rouault, T. A, 2021).

  1. Manfaat Donor Darah Rutin bagiPendonor

    1. Manfaat fisiologis yang dapatdijelaskan

Salah satu konsekuensi fisiologis donor adalah stimulasi mekanisme kompensasi hematopoietic untuk mengganti eritrosit yang hilang. Tubuh mengaktifkan jalur EPO dan eritropoiesis sebagai respons terhadap perubahan kapasitas pengangkutan oksigen. Dengan demikian, donor darah merupakan suatu stimulus fisiologis terhadap system hematopoietik, walaupun hal ini tidak boleh diartikan bahwa donor darah merupakan terapi untuk meningkatkan kesehatan darah seseorang.

Donor darah juga memberikan kesempatan bagi pendonor untuk menjalani skrining sebelum donor, seperti pemeriksaan hemoglobin dan pemeriksaan kesehatan dasar sesuai protokol UTD. Namun, hasil skrining tersebut bukan pengganti pemeriksaan kesehatan komprehensif dan tidak boleh dianggap sebagai “medical check-up” lengkap. WHO menempatkan skrining donor terutama sebagai mekanisme untuk memastikan keselamatan donor dan keamanan darah bagi resipien.

  1. Apakah donor darahmencegahpenyakitjantung?

Klaim bahwa donor darah rutin dapat mencegah penyakit kardiovaskular masih belum memiliki bukti kausal yang kuat. Tinjauan systematis tahun 2022 menemukan hasil penelitian yang tidak konsisten dan kualitas bukti yang secara umum terbatas; efekprotektif yang ditemukan dalam sebagian penelitian dapat dipengaruhi oleh healthy donor effect, yaitu kecenderungan bahwa orang yang mampu dan bersedia menjadi pendonor memang sudah relative lebih sehat dibandingkan populasi umum. Karena itu, donor darah tidak seharusnya dipromosikan sebagai metode pencegahan penyakit jantung (Quee, F. A., Peffer, K., Ter Braake, A. D., & Van den Hurk, K. 2022).

Dengan demikian, manfaat utama donor darah bagi pendonor sebaiknya ditempatkan dalam perspektif yang tepat: donor darah merupakan tindakan sosial-kemanusiaan yang secara umum aman bagi individu yang memenuhi syarat, sementara tubuh memiliki kemampuan fisiologis untuk memulihkan komponen darah yang hilang. Manfaat kesehatan langsung tertentu masih membutuhkan penelitian berkualitas tinggi, sedangkan risiko defisiensi besi pada donor berulang telah memiliki dasar bukti yang lebih kuat (Quee, F. A., Peffer, K., Ter Braake, A. D., & Van den Hurk, K. 2022).

  1. Komplikasi Donor Darah

    1. Reaksi vasovagal

Reaksi vasovagal merupakan salah satu reaksi donor yang paling sering terjadi. Manifestasinya dapat berupa pusing, mual, berkeringat, rasa lemah, hipotensi, hingga sinkop. Risiko ini lebih tinggi pada pendonor baru, usia muda, perempuan, individu dengan volume darah lebih kecil, tekanan darah lebih rendah, serta orang yang mengalami ketakutan atau kecemasan saat proses donor. Meta-analisis tahun 2024 yang mencakup 71 penelitian dan sekitar 19 juta donasi memperkuat sejumlah factor tersebut sebagai faktor yang berhubungan dengan reaksi vasovagal (Zhang, et al, 2022).

Pencegahan dan penatalaksanaanreksi vasovagal

Pencegahan dilakukan melalui skrining yang baik, suasana donor yang nyaman, komunikasi kepada pendonor, posisi yang aman, pemantauan selama dan setelah donor, serta memastikan pendonor mendapatkan cairan dan makanan sesuai protokol. Bukti sistematis terbaru menunjukkan bahwa intervensi minum sebelum atau sekitar proses donor dapat membantu menurunkan kejadian atau gejala reaksi vasovagal pada sebagian pendonor.

Teknik applied muscle tension, yaitu kontraksi otot secara terkontrol selama periode tertentu, juga telah diteliti sebagai strategi pencegahan. Meta-analisis menunjukkan bahwa teknik tersebut dapat menurunkan risiko reaksi vasovagal, terutama pada pendonor yang berisiko (Van Remoortel, H., Van de Sande, D., Maes, D., Khoudary, J., Tavernier, V., Tiberghien, P., De Buck, E., &Compernolle, V. (2024).

  1. Defisiensi Besi dan Anemia

Defisiensi besi merupakan salah satu konsekuensi penting yang harus diperhatikan terutama pada pendonor darah rutin. Setiap donor darah utuh menyebabkan kehilangan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin eritrosit. Apabila kehilangan tersebut lebih cepat dari pada kemampuan tubuh menyerap dan mengganti zat besi, cadangan besi dalam tubuh dapat menurun.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pemeriksaan hemoglobin saja tidak selalu mampu mendeteksi defisiensi besi pada tahap awal. Ferritin dapat memberikan informasi mengenai cadangan zat besi, walaupun interpretasinya perlu mempertimbangkan kondisi inflamasi. Oleh karena itu, pada pendonor yang sangat sering mendonorkan darah atau mengalami penurunan hemoglobin berulang, evaluasi status besi dapat dipertimbangkan sesuai kebijakan pelayanan dan penilaian klinis (Medlock, A. E., & Dailey, H. A. (2022).

Pencegahan

Pencegahan utama adalah tidak mendonorkan darah terlalu sering, mengikuti interval yang ditetapkan pelayanan transfusi, menjaga asupan makanan sumber zat besi, dan melakukan evaluasi apabila terjadi penurunan hemoglobin berulang. Strategi manajemen besi pada pendonor di berbagai negara mencakup penyesuaian interval donor, pemeriksaan ferritin pada kelompok tertentu, serta pemberian suplementasi zat besi pada pendonor yang dinilai membutuhkan.

  1. Hematoma dan Nyeri pada Lokasi Venipunktur

Komplikasi lokal yang dapat terjadi adalah memar atau hematoma di sekitar tempat penusukan jarum. Kondisi ini dapat terjadi apabila darah keluar kejaringan sekitar vena atau terdapat tekanan yang tidak ada kuat setelah jarum dilepas. Sebagian besar kasus ringan dan dapat ditangani dengan memberikan tekanan pada lokasi tusukan serta menghindari aktivitas berat dengan lengan tersebut dalam waktu yang dianjurkan petugas.

Pendonor perlu mendapatkan edukasi untuk segera melaporkan nyeri hebat, pembengkakan yang bertambah, kesemutan, atau gangguan fungsi lengan. Evaluasi tenaga kesehatan diperlukan apabila gejala tidak membaik atau terdapat tanda komplikasi lokal yang lebih serius.

  1. KelelahanSetelah Donor

Sebagian pendonor dapat mengalami rasa lelah sementara akibat perubahan volume sirkulasi dan kehilangan eritrosit. Gejala biasanya ringan pada pendonor yang sehat dan telah menjalani skrining dengan baik, tetapi dapat lebih nyata pada individu dengan berat badan rendah, kadar hemoglobin mendekati batas bawah, kurang asupan cairan, atau donor yang terlalu sering. Penelitian mengenai frekuensi donor menunjukkan bahwa interval yang lebih pendek dapat berkaitan dengan penurunan hemoglobin dan ferritin serta peningkatan keluhan seperti kelelahan, pusing, dan sinkop.

Pencegahan dilakukan dengan memastikan pendonor memenuhi kriteria, cukup makan dan minum, beristirahat setelah donor, menghindari aktivitas fisik berat segera setelah donor, serta mengikuti interval donor yang ditentukan oleh pelayanan transfusi.

  1. Prinsip Aman Donor Darah Rutin

Berdasarkan kajian fisiologi dan bukti mengenai keselamatan pendonor, donor darah rutin sebaiknya menerapkan beberapa prinsip berikut:

Tabel 1. Prinsip Aman Donor Darah Rutin

Prinsip

Penjelasan

Sukarela

Donor dilakukan tanpa tekanan dan tanpa imbalan finansial.

Memenuhisyarat

Usia, berat badan, kondisi kesehatan dan Hb harus memenuhi ketentuan UTD.

Skrining

Riwayat kesehatan dan factor risiko perlu dinilai sebelum donor.

Interval memadai

Donor berikutnya dilakukan setelah tubuh memiliki waktu memulihkan eritrosit dan cadangan besi.

Nutrisiadekuat

Perhatikan asupan protein, zatbesi, folat, vitamin B12 dan cairan.

Hidrasi

Cairan sebelum dan sesudah donor membantu mempertahankan kenyamanan dan dapat mengurangi risiko reaksi vasovagal.

Pemantauan

Pendonor dipantau selama dan setelah prosedur.

Edukasi

Pendonor harus mengetahui tanda bahaya dan kapan perlu mencari pertolongan.

Evaluasi donor berulang

Pendonor dengan Hb rendah berulang atau donor sangat sering perlu evaluasi status besi sesuai indikasi.

Sumber :World Health Organization, 2022

Prinsip tersebut menempatkan keselamatan pendonor dan keselamatan resipien sebagai dua tujuan yang sama penting. WHO menegaskan bahwa system seleksi donor harus memastikan darah berasal dari individu yang memiliki risiko rendah terhadap infeksi yang dapat ditularkan melalui transfuse sekaligus tidak mengalami risiko kesehatan yang tidak semestinya akibat donor.

  1. Relevansi Donor Darah Rutin di LingkunganPerguruan Tinggi

Perguruan tinggi merupakan lingkungan yang potensial untuk mengembangkan budaya donor darah karena memiliki populasi mahasiswa dan tenaga pendidikan yang relative besar serta kegiatan akademik yang memungkinkan edukasi kesehatan dilakukan secara berkelanjutan. Donor darah tidak hanya memberikan kontribusi terhadap ketersediaan darah, tetapi juga dapat menjadi media pendidikan karakter berupa kepedulian, solidaritas, tanggung jawab sosial, dan partisipasi dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Bagi institusi pendidikan keperawatan, kegiatan donor darah juga memiliki relevansi pedagogis. Mahasiswa dapat memahami secara langsung keterkaitan antara fisiologi darah, hemoglobin, eritrosit, transfusi, keselamatan pasien, promosi kesehatan, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, kegiatan donor darah dapat dikembangkan sebagai program pengabdian masyarakat yang terintegrasi dengan pendidikan kesehatan dan pembentukan kompetensi professional mahasiswa keperawatan.

  1. Kesimpulan

Donor darah merupakan tindakan kemanusiaan yang memiliki kontribusi penting terhadap ketersediaan darah bagi pasien yang membutuhkan transfusi. Kegiatan donor harus dilakukan melalui system seleksi yang melindungi pendonor sekaligus menjamin keamanan darah bagi resipien. Persyaratan seperti kondisi kesehatan, usia, berat badan, kadar hemoglobin, riwayat kesehatan, dan factor risiko infeksi merupakan bagian penting dari proses tersebut.

Secara fisiologis, kehilangan darah setelah donor memicu mekanisme kompensasi melalui peningkatan eritropoietin dan aktivitas eritropoiesis di sumsum tulang. Zat besi memiliki peranan sentral karena dibutuhkan dalam sintesis heme dan hemoglobin. Oleh karena itu, tubuh mampu menggantieritrosit yang hilang, tetapi donor yang terlalu sering atau dengan interval terlalu pendek dapat menyebabkan penurunan cadangan besi dan pada akhirnya meningkatkan risiko anemia defisiensi besi.

Donor darah rutin pada individu yang memenuhi persyaratan pada dasarnya merupakan kegiatan yang dapat dilakukan dengan aman apabila mengikuti prosedur pelayanan transfusi. Namun, klaim bahwa donor darah secara langsung memberikan perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular belum dapat dianggap sebagai manfaat yang terbukti secara kausal. Manfaat utama donor harus dipahami sebagai kontribusi kemanusiaan terhadap pasien yang membutuhkan darah, dengan respons fisiologis tubuh terhadap kehilangan darah sebagai proses adaptasi normal.

Untuk program donor darah rutin, termasuk kegiatan setiap tiga bulan, aspek interval donor perlu disesuaikan dengan jenis kelamin, kebijakan UTD, kondisi kesehatan, kadar hemoglobin, dan terutama risiko defisiensi besi. Bukti terbaru mendukung kehati-hatian terhadap interval yang terlalu pendek karena dapat meningkatkan penurunan Hb dan ferritin serta keluhan terkait donor. Dengan demikian, keberlanjutan program donor darah sebaiknya dibangun bukan hanya berdasarkan target jumlah kantong darah, tetapi juga berdasarkan prinsip“donor sehat, darah aman, resipien terlindungi.”

Daftar Pustaka

Camaschella, C., Pagani, A., Silvestri, L., & Nai, A. (2022). The mutual crosstalk between iron and erythropoiesis. International Journal of Hematology, 116(2), 182–191. https://doi.org/10.1007/s12185-022-03384-y

Ginzburg, Y., An, X., Rivella, S., & Goldfarb, A. (2023). Normal and dysregulated crosstalk between iron metabolism and erythropoiesis. eLife, 12, e90189. https://doi.org/10.7554/eLife.90189

Guerra, A., Parhiz, H., &Rivella, S. (2023). Novel potential therapeutics to modify iron metabolism and red cell synthesis in diseases associated with defective erythropoiesis. Haematologica, 108(10), 2582–2593. https://doi.org/10.3324/haematol.2023.283057

Maio, N., Zhang, D.-L., Ghosh, M. C., Jain, A., SantaMaria, A. M., & Rouault, T. A. (2021). Mechanisms of cellular iron sensing, regulation of erythropoiesis and mitochondrial iron utilization. Seminars in Hematology, 58(3), 161–174. https://doi.org/10.1053/j.seminhematol.2021.06.001

Medlock, A. E., & Dailey, H. A. (2022). New avenues of heme synthesis regulation. International Journal of Molecular Sciences, 23, 8588. https://doi.org/10.3390/ijms23158588

Quee, F. A., Peffer, K., Ter Braake, A. D., & Van den Hurk, K. (2022). Cardiovascular benefits for blood donors? A systematic review. Transfusion Medicine Reviews, 36(3), 143–151. https://doi.org/10.1016/j.tmrv.2022.04.004

World Health Organization. (2022). Blood products: Blood donation. World Health Organization.

World Health Organization. (2024). Guideline on haemoglobin cutoffs to define anaemia in individuals and populations. World Health Organization.

World Health Organization. (2024). Best practices for haemoglobin measurement in population-level anaemia surveys. World Health Organization.

Van Remoortel, H., Van de Sande, D., Maes, D., Khoudary, J., Tavernier, V., Tiberghien, P., De Buck, E., &Compernolle, V. (2024). The efficacy and effectiveness of drinking interventions to reduce vasovagal reactions in blood donors: A systematic review and meta-analysis. Vox Sanguinis, 119(11), 1129–1140. https://doi.org/10.1111/vox.13724

Zhang, et al. (2022). Prevention of blood donation-related vasovagal response by applied muscle tension: A meta-analysis. Journal of International Medical Research. https://doi.org/10.1177/03000605221121958

Oleh: Ns. Yusrawati, S.Kep, M.Kes

Dosen PoltekkesKemenkes Aceh

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....