Puasa: Kajian Ilmiah dan Strategi Aman bagi Penyandang Diabetes Mellitus

  • 23 Feb 2026 14:26 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe: Bulan Ramadhan selalu menjadi momentum spiritual bagi umat Islam, termasuk masyarakat Aceh. Namun, di balik nilai ibadahnya, puasa juga menarik perhatian dunia kesehatan. Banyak penelitian modern menunjukkan bahwa puasa yang dalam ilmu gizi dikenal sebagai bentuk intermittent fasting dapat memberikan dampak positif terhadap metabolisme tubuh bila dilakukan dengan benar.

Pertanyaannya, apakah puasa selalu aman bagi semua orang, khususnya penyandang diabetes mellitus (DM)? Artikel ini mengulas manfaat puasa secara ilmiah sekaligus memberikan panduan praktis agar masyarakat dapat berpuasa dengan sehat dan aman.

Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Berpuasa?

Ketika seseorang berpuasa sekitar 12–14 jam seperti pada Ramadhan di Indonesia, tubuh mengalami proses adaptasi metabolik. Pada fase awal, tubuh menggunakan cadangan glukosa. Setelah itu, tubuh mulai beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi (metabolic switching).

Penelitian (Prasetya G, & Sapwarobol S, 2018) menunjukkan bahwa puasa Ramadhan dapat menurunkan berat badan, indeks massa tubuh, dan lemak tubuh, sekaligus meningkatkan sensitivitas insulin pada individu sehat. Perubahan ini menunjukkan bahwa puasa, bila dijalani dengan pola makan yang tepat, berpotensi mendukung kesehatan metabolik. Selain itu, selama puasa terjadi proses perbaikan sel (autofagi) dan pengaturan hormon seperti insulin dan glukagon yang berperan dalam keseimbangan gula darah.

Manfaat Puasa bagi Kesehatan Umum

Berbagai studi dalam lima tahun terakhir menunjukkan beberapa manfaat puasa yang cukup konsisten bagi kesehatan, antara lain:

  1. Membantu pengendalian berat badan
    Pembatasan waktu makan cenderung menurunkan asupan energi sehingga berat badan lebih terkontrol.
  2. Meningkatkan sensitivitas insulin
    Perbaikan sensitivitas insulin membantu tubuh menggunakan glukosa lebih efisien.
  3. Memperbaiki profil lemak darah
    Beberapa penelitian menemukan penurunan trigliserida dan perbaikan kolesterol.
  4. Menurunkan proses inflamasi
    Puasa dapat menekan stres oksidatif yang berperan pada penyakit kronis.
  5. Potensi menjaga kesehatan jantung
    Melalui perbaikan faktor risiko metabolik.
    Namun perlu dipahami, puasa bukanlah “obat ajaib”. Manfaatnya sangat dipengaruhi oleh pola makan saat sahur dan berbuka serta kondisi kesehatan individu.

Puasa dan Diabetes Mellitus: Peluang dan Risiko

Menurut (Wahbi, Moumen, Benabdelfdil, Derrou, & El Guendouz, 2025) Diabetes mellitus merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat di Indonesia. Banyak penyandang DM tetap ingin menjalankan puasa Ramadhan, sehingga diperlukan pendekatan yang bijak.

Peluang Manfaat

Pada pasien DM yang terkontrol dan mendapatkan edukasi yang baik, puasa tidak selalu memperburuk kontrol gula darah. Studi tahun 2025 melaporkan bahwa parameter pengelolaan glikemik dapat tetap stabil ketika pasien mendapatkan edukasi khusus Ramadhan dan pemantauan yang memadai.

Penelitian (Salih A SA,, Chodick G,, Klein P,, & Eilat-Adar S, 2025) juga menunjukkan bahwa puasa Ramadhan pada sebagian pasien DM tipe 2 tidak berhubungan dengan perburukan kontrol glikemik secara bermakna.

Risiko yang Harus Diwaspadai

Meski demikian, risiko tetap ada, terutama:

  1. Hipoglikemia (gula darah terlalu rendah)
  2. Hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi)
  3. Dehidrasi
  4. Ketoasidosis (pada kondisi tertentu)
    Menurut penelitian (Safari, Arman Shafiee, Afshin Heidari, & Fatemeh N, 2025) tentang Meta-analisis pada remaja DM tipe 1 menunjukkan angka hipoglikemia cukup tinggi selama Ramadhan, sehingga pemantauan ketat sangat diperlukan, dengan kesimpulan penting: tidak semua penyandang diabetes aman berpuasa tanpa persiapan.

Strategi Aman Berpuasa bagi Penyandang Diabetes

Agar puasa tetap aman, penulis merangkum dari berbagai sumber referensi, berikut panduan praktis yang relevan yang dapat dilakukan oleh masyarakat, yaitu:

  1. Konsultasi sebelum Ramadhan
    Penyandang DM sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk: Penilaian risiko, Penyesuaian obat dan Edukasi pemantauan gula darah. Edukasi pra-Ramadhan terbukti meningkatkan praktik pemantauan mandiri dan menurunkan risiko komplikasi selama puasa (Oueslati I, Cherif L, Aloui E, Mabrouk M, & Yazidi M, 2024).
  2. Prinsip makan saat sahur dan berbuka
    a. Saat sahur:
  3. Pilih karbohidrat kompleks (beras merah, oat)
  4. Perbanyak protein dan serat
  5. Cukup minum air
  6. Hindari makanan sangat manis

b. Saat berbuka:

  1. Awali dengan porsi kecil
  2. Hindari “balas dendam” makan
  3. Batasi gorengan dan minuman gula tinggi
  4. Bagi makan menjadi beberapa tahap
  5. Pemantauan gula darah
    Banyak masyarakat masih keliru menganggap cek gula darah membatalkan puasa. Secara medis dan fiqh, pemeriksaan gula darah tidak membatalkan puasa.

Segera batalkan puasa bila:

a. Gula darah 300 mg/dL

c. Muncul gejala berat (pusing, lemas berat, muntah)

  1. Aktivitas fisik yang dianjurkan
    a. Tetap aktif ringan–sedang
    b. Waktu terbaik: setelah berbuka atau menjelang berbuka
    c. Hindari olahraga berat saat siang hari

Penutup

Puasa Ramadhan bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat kesehatan metabolik bila dilakukan dengan benar. Bagi penyandang diabetes mellitus, puasa masih mungkin dilakukan pada kondisi tertentu, tetapi harus melalui penilaian medis, pengaturan makan yang tepat, dan pemantauan gula darah yang disiplin.

Masyarakat Aceh diharapkan semakin cerdas dalam menjalankan puasa secara sehat. Jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum Ramadhan, karena puasa yang aman adalah puasa yang dipersiapkan. Semoga Ramadhan menjadi momentum ibadah sekaligus peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

References

Oueslati I, Cherif L, Aloui E, Mabrouk M, & Yazidi M. (2024). Ramadan diurnal intermittent fasting in patients with diabetes: assessment of knowledge, practices, risk of complications, and impact of pre-ramadan education. J Diabetes Metab Disord., 9.

Prasetya G,, & Sapwarobol S. (2018). Intermittent Fasting During Ramadan Improves Insulin Sensitivity and Anthropometric Parameters in Healthy Young Muslim Men. Am J Lifestyle Med., 15(2):200-206. doi: 10.1177/1559827618815430. PMID:; PMC79, PMCID.

Safari, O., Arman Shafiee, Afshin Heidari, & Fatemeh N. (2025). Ramadan fasting among adolescents with type 1 diabetes: a systematic review. BMC Endocrine Disorders, 1-10.

Salih A SA,, Chodick G,, Klein P,, & Eilat-Adar S. (2025). Ramadan fasting and glycemic control in patients with type 2 diabetes: A real-world data analysis. Prim Care Diabetes., 184-189. doi: 10.1016/j.pcd.2024.12.010. Epub 2025 Jan 22. PMID: 39848865.

Wahbi, S., Moumen, A., Benabdelfdil, Y., Derrou, S., & El Guendouz, F. (2025). The Impact of Ramadan on Glycemic Control: Effect on Glycemic Variability and Metrics of Glycemic Management Derived from Continuous Glucose Monitori. Chronicle of Diabetes Research and Practice 4(2), 80-85 DOI: 10.4103/cdrp.cdrp_1_25.

Oleh: Ns. Yusrawati, S.Kep, M.Kes_ Dosen Prodi Keperawatan Aceh Utara POLTEKKES ACEH

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....