Jabatan Itu Madu, Semua Ingin Mencicipinya

  • 29 Agt 2026 13:19 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Jabatan itu seperti madu. Dari jauh tampak manis, mengundang selera, dan membuat banyak orang ingin mencicipinya. Tidak heran, ketika sebuah posisi mulai kosong atau masa jabatan akan berakhir, nama-nama baru bermunculan. Ada yang maju secara terbuka, ada pula yang bekerja di belakang layar mencari dukungan.

Jabatan memang menawarkan banyak hal. Ada kewenangan, penghormatan, fasilitas, jaringan, serta kesempatan menentukan arah sebuah lembaga. Karena itulah kursi kekuasaan sering terlihat begitu menarik. Orang yang sebelumnya biasa saja bisa tiba-tiba menjadi pusat perhatian setelah memegang posisi tertentu.

Namun, yang sering tidak terlihat adalah beban di balik kursi tersebut. Setiap keputusan memiliki konsekuensi. Setiap kebijakan akan dinilai. Kesalahan dapat menjadi sorotan, sementara keberhasilan belum tentu selalu mendapat pujian.

Di sinilah letak persoalannya. Banyak orang tertarik pada kursinya, tetapi belum tentu siap dengan tanggung jawab yang melekat di dalamnya.

Fenomena semacam ini bukan hanya terjadi dalam pemerintahan. Dalam politik, orang berlomba mendapatkan jabatan karena posisi dianggap sebagai pintu menuju pengaruh dan kekuasaan. Dalam birokrasi, promosi menjadi sesuatu yang dinantikan. Dalam organisasi, perebutan kepengurusan juga tidak jarang berlangsung sengit.

Yang menarik, gejala serupa dapat ditemukan dalam kehidupan keagamaan.

Lembaga agama seharusnya menjadi ruang pengabdian, tetapi manusia yang berada di dalamnya tetap memiliki kepentingan dan ambisi. Jabatan dalam organisasi Islam, lembaga pendidikan, lembaga zakat, maupun institusi sosial-keagamaan kadang diperebutkan dengan semangat yang tidak jauh berbeda dari perebutan posisi politik.

Ini menjadi ironi. Ketika jabatan duniawi dikejar, mungkin kita masih bisa memahami motifnya. Tetapi ketika posisi yang membawa nama agama ikut diperebutkan demi pengaruh, fasilitas, atau gengsi, persoalannya menjadi lebih serius.

Islam tidak melarang seseorang menjadi pemimpin. Yang perlu diperiksa adalah niat dan kesiapan memikul amanah. Kepemimpinan bukan sekadar kehormatan, tetapi tanggung jawab yang kelak dimintai pertanggungjawaban.

Karena itu, tidak semua orang yang ingin menjadi pemimpin layak memimpin. Keinginan maju adalah hak, tetapi kemampuan, integritas, pengalaman, dan keberpihakan kepada kepentingan bersama harus menjadi ukuran.

Kita sering keliru menilai seseorang dari seberapa kuat ia mengejar jabatan. Padahal, ukuran seorang pemimpin bukan seberapa keras ia menginginkan kursi, melainkan apa yang ia kerjakan setelah mendapatkannya.

Ada orang yang sebelum menjabat begitu dekat dengan masyarakat. Setelah memperoleh kedudukan, pintunya mulai sulit diketuk. Ada yang ketika belum berkuasa rajin mendengar keluhan, tetapi setelah berada di dalam pemerintahan justru lebih sibuk mempertahankan posisi.

Begitu pula dalam organisasi keagamaan. Jangan sampai mimbar, lembaga, dan kepengurusan menjadi tempat mencari pengaruh pribadi. Agama seharusnya mengajarkan kerendahan hati, bukan memperbesar ambisi.

Jabatan juga tidak selamanya membawa kenyamanan. Hari ini seseorang dipuji, besok bisa dikritik. Hari ini berada di atas, beberapa tahun kemudian mungkin kembali menjadi orang biasa. Kursi berganti, kekuasaan berpindah, tetapi jejak kebijakan dan perilaku akan tetap dikenang.

Karena itu, mereka yang sedang mengejar jabatan sebaiknya tidak hanya menghitung apa yang akan diperoleh, tetapi juga apa yang harus dipertanggungjawabkan.

Madu memang manis. Tetapi di baliknya ada lebah yang siap menyengat.

Begitu juga jabatan. Yang terlihat adalah kehormatan, fasilitas, dan kewenangan. Yang sering terlupakan adalah beban, tekanan, kritik, serta pertanggungjawaban moral dan hukum.

Maka sebelum berebut kursi, tanyakan lebih dahulu kepada diri sendiri: ingin menjadi pemimpin karena mampu memberi manfaat, atau hanya ingin menikmati manisnya jabatan?

Sebab kursi bisa didapat melalui persaingan, tetapi kepercayaan hanya lahir dari keteladanan. Dan ketika masa jabatan berakhir, yang tersisa bukan lagi kursinya, melainkan apa yang pernah diperbuat selama duduk di sana.

(Oleh: Tgk.Dr. Bukhari.M.H- Advokat sekaligus mediator PMN).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....