Zikir Kebangsaan: Merawat Indonesia dengan Doa dan Persatuan
- 04 Agt 2026 08:28 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar seremoni tahunan yang dipenuhi pengibaran bendera, perlombaan, atau berbagai agenda kenegaraan. Lebih dari itu, kemerdekaan merupakan momentum refleksi untuk menilai kembali arah perjalanan bangsa sekaligus memperkuat komitmen kolektif dalam menjaga Indonesia. Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, ancaman terhadap persatuan bangsa tidak selalu datang dalam bentuk agresi fisik, melainkan melalui polarisasi sosial, disinformasi digital, krisis moral, ketimpangan ekonomi, hingga melemahnya solidaritas kebangsaan. Dalam konteks inilah, zikir dan doa kebangsaan menemukan relevansinya sebagai sumber kekuatan spiritual yang menopang persatuan nasional.
Indonesia lahir bukan hanya melalui perjuangan senjata, tetapi juga melalui kekuatan doa. Sejarah mencatat bahwa para ulama, tokoh agama, dan pejuang kemerdekaan menjadikan masjid, meunasah, dayah, pesantren, dan tempat-tempat ibadah sebagai pusat konsolidasi moral sekaligus basis perjuangan. Resolusi Jihad yang dikumandangkan pada tahun 1945, misalnya, menunjukkan bahwa spirit religius menjadi energi penting dalam mempertahankan kemerdekaan. Dengan demikian, doa tidak pernah berdiri sebagai simbol pasif, melainkan sebagai penguat keberanian, keteguhan, dan optimisme bangsa.
Dalam perspektif Islam, doa merupakan bentuk pengakuan atas keterbatasan manusia sekaligus manifestasi ketergantungan kepada Allah SWT. Al-Qur'an menegaskan:
ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." (QS. Ghafir: 60).
Ayat ini mengajarkan bahwa ikhtiar dan doa merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Bangsa yang hanya berdoa tanpa bekerja akan tertinggal, sementara bangsa yang bekerja tanpa landasan spiritual berisiko kehilangan arah moral. Karena itu, zikir kebangsaan bukanlah pengganti pembangunan, tetapi fondasi etik yang menjaga agar pembangunan tetap berada dalam koridor keadilan, kejujuran, dan kemaslahatan.
Tantangan Persatuan di Era Digital
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keberagaman tertinggi di dunia. Lebih dari 17.000 pulau membentang dari Sabang hingga Merauke, dihuni sekitar 285 juta penduduk dengan ratusan kelompok etnis, lebih dari 700 bahasa daerah, serta enam agama yang diakui negara. Keberagaman tersebut adalah kekuatan sekaligus tantangan yang harus terus dirawat.
Namun, tantangan persatuan kini semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat secara drastis. Indonesia memiliki lebih dari 220 juta pengguna internet dan sekitar 140 juta pengguna media sosial, menjadikannya salah satu negara dengan tingkat penetrasi digital tertinggi di dunia.
Di balik manfaatnya, ruang digital juga menjadi medium penyebaran hoaks, ujaran kebencian, propaganda identitas, serta disinformasi yang dapat memecah belah masyarakat. Berbagai survei nasional menunjukkan bahwa polarisasi politik yang menguat sejak beberapa tahun terakhir masih menyisakan residu sosial berupa menurunnya kepercayaan antarkelompok dan meningkatnya intoleransi di ruang digital.
Karena itu, menjaga persatuan Indonesia tidak cukup dilakukan melalui pendekatan hukum semata. Persatuan memerlukan penguatan karakter, pengendalian diri, dan kesadaran spiritual. Zikir mengajarkan ketenangan hati; doa mengajarkan kerendahan hati; sedangkan persatuan mengajarkan bahwa kepentingan bangsa harus berada di atas kepentingan kelompok.
Zikir sebagai Modal Sosial Bangsa
Ilmuwan sosial modern semakin mengakui bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bergantung pada modal ekonomi (economic capital), tetapi juga modal sosial (social capital) berupa kepercayaan, solidaritas, dan kerja sama antarwarga.
Francis Fukuyama menyebut bahwa bangsa dengan tingkat kepercayaan sosial yang tinggi cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik yang lebih baik. Robert Putnam juga menunjukkan bahwa masyarakat dengan kohesi sosial yang kuat lebih mampu menghadapi krisis dibanding masyarakat yang terfragmentasi.
Dalam konteks Indonesia, zikir dan doa kebangsaan berkontribusi memperkuat modal sosial tersebut. Ketika masyarakat berkumpul tanpa membedakan latar belakang organisasi, profesi, maupun pilihan politik untuk memanjatkan doa bagi negeri, sesungguhnya mereka sedang membangun rasa memiliki terhadap Indonesia. Nilai kebersamaan seperti inilah yang menjadi fondasi ketahanan nasional.
Persatuan dan Keadilan Sosial
Doa akan kehilangan maknanya apabila tidak diikuti dengan komitmen menghadirkan keadilan sosial. Pembukaan UUD 1945 secara tegas menempatkan tujuan negara untuk "memajukan kesejahteraan umum" dan "mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."
Meski berbagai indikator pembangunan menunjukkan kemajuan, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa ketimpangan antarwilayah, kemiskinan, pengangguran, kesenjangan kualitas pendidikan, hingga akses layanan kesehatan yang belum sepenuhnya merata. Karena itu, doa kebangsaan harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang berpihak kepada rakyat, tata kelola pemerintahan yang bersih, pelayanan publik yang profesional, serta pembangunan yang tidak meninggalkan daerah-daerah terpencil.
| Baca juga: Peusijuk Tradisi atau Sunnah |
Dalam Islam, keberkahan sebuah negeri bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari hadirnya keadilan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa pemimpin yang adil termasuk golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat. Spirit inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi seluruh penyelenggara negara.
Menyongsong Indonesia Emas 2045
Indonesia memiliki cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045, bertepatan dengan satu abad kemerdekaan. Bonus demografi, transformasi digital, hilirisasi industri, pengembangan ekonomi hijau, dan penguatan sumber daya manusia menjadi modal penting untuk mencapai visi tersebut.
Namun, seluruh potensi itu akan sulit diwujudkan apabila bangsa ini kehilangan persatuan. Sejarah berbagai negara menunjukkan bahwa konflik horizontal, krisis kepercayaan, dan perpecahan sosial mampu menghambat pertumbuhan ekonomi selama puluhan tahun.
Karena itu, zikir kebangsaan bukan sekadar ritual keagamaan menjelang peringatan kemerdekaan. Ia merupakan pengingat bahwa pembangunan nasional harus memiliki fondasi spiritual yang kokoh. Persatuan bukan hanya slogan, melainkan prasyarat utama bagi kemajuan bangsa.
Kemerdekaan Indonesia merupakan nikmat yang harus disyukuri sekaligus amanah yang wajib dijaga. Bersyukur tidak cukup dengan ucapan, tetapi diwujudkan melalui kerja keras, kejujuran, kepedulian sosial, dan penguatan persaudaraan kebangsaan.
Zikir kebangsaan mengajarkan bahwa cinta kepada tanah air tidak bertentangan dengan keimanan. Sebaliknya, keduanya saling menguatkan. Ketika jutaan anak bangsa menengadahkan tangan, melafalkan zikir, dan memohon kepada Allah SWT agar Indonesia senantiasa dilindungi dari perpecahan, bencana, korupsi, kemiskinan, serta berbagai ancaman lainnya, pada saat yang sama mereka sedang memperbarui ikrar kebangsaan bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh anak bangsa.
Menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia, marilah kita menjadikan zikir sebagai penguat hati, doa sebagai sumber harapan, dan persatuan sebagai jalan menuju Indonesia yang lebih adil, maju, berdaulat, dan bermartabat. Sebab, bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh kecanggihan teknologi dan kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh masyarakat yang dekat dengan Tuhannya, kokoh persatuannya, dan teguh komitmennya menjaga negeri. munawarjailani@uinsuna.ac.id
(Penulis : Munawar Rizki Jailani, Lc., M.Sh., Ph.D (Dosen FEBI Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....