Menelisik Nasib Bahasa Aceh di Lisan Generasi Muda

  • 31 Jul 2026 10:06 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Hiruk-pikuk warung kopi di sudut kota Lhokseumawe tak pernah sepi dari keriuhan anak muda. Namun, ada satu hal yang perlahan mulai samar terdengar dari meja ke meja yakni lantunan tutur bahasa Aceh yang fasih dari lisan para Generasi Z dan Alpha.

Eksistensi bahasa daerah di Serambi Mekkah kini tengah menghadapi ujian berat. Dari pantauan RRI di lapangan, pergeseran penggunaan bahasa ini bukan lagi sekadar asumsi. Bahasa indatu (leluhur) ini kian jarang diucapkan secara aktif oleh anak muda perkotaan, menyisakan pertanyaan besar, mungkinkah bahasa Aceh sedang berjalan menuju senjakala?

Berdasarkan penelusuran dan pengamatan di tengah masyarakat, fenomena memudarnya bahasa Aceh di kalangan generasi muda dipicu oleh beberapa faktor. Pergeseran paling masif justru bermula dari dalam rumah. Banyak keluarga muda di kawasan perkotaan kini memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu bagi anak-anak mereka.

Alasannya cukup pragmatis, para orang tua khawatir anak mereka akan tertinggal atau kesulitan beradaptasi saat memasuki bangku Taman Kanak-Kanak (TK) atau Sekolah Dasar. Dampaknya, banyak remaja Aceh saat ini berada pada fase pasif atau dalam kata lain mereka mengerti saat diajak bicara dalam bahasa Aceh, namun terbata-bata dalam menjawab atau memilih membalas percakapan dengan bahasa Indonesia.

Faktor lainnya adalah gempuran algoritma digital. Tidak bisa dimungkiri, gawai dan media sosial adalah "teman terdekat" generasi masa kini. Dominasi konten TikTok, Instagram, hingga YouTube yang berbahasa Indonesia, bahasa gaul Jakarta, maupun bahasa Inggris secara perlahan merekonstruksi kosakata sehari-hari mereka. Bahasa daerah pun perlahan terpinggirkan dari obrolan tongkrongan karena tidak relevan dengan tren yang mereka konsumsi di dunia maya. Tidak sulit untuk mendengar kata "cuk" khas Jawa Timur dari lisan anak muda Aceh di tongkrongan warkop sekarang ini dan hal ini sangat miris sekaligus lucu jika didengarkan secara seksama.

Sempat muncul sebuah persepsi keliru di ruang lingkup pergaulan remaja urban. Menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek ibu kota atau lainnya kerap dianggap lebih modern, terpelajar, dan keren. Sebaliknya, ada keengganan menggunakan bahasa Aceh karena takut dilabeli tradisional atau "kampungan". Stigma sosial ini menjadi tembok pembatas yang membuat anak muda enggan berbahasa daerah dengan teman sebayanya.

Di kota-kota besar seperti Banda Aceh dan Lhokseumawe yang menjadi pusat pendidikan dan ekonomi, terjadi pertemuan mahasiswa dan pekerja dari berbagai latar belakang suku (Gayo, Alas, Aneuk Jamee, Batak, Jawa, hingga Minang). Demi kelancaran komunikasi lintas budaya, bahasa Indonesia otomatis mengambil alih peran sebagai lingua franca yang paling inklusif, sehingga paling mudah untuk diterima dan mengurangi hambatan dalam okmunikasi.

Namun, meskipun lampu kuning bahasa Aceh telah menyala di wilayah perkotaan, RRI mencatat bahwa pesimisme ini belum sepenuhnya merata. Jika kita bergeser sedikit ke kawasan gampong (pedesaan), pesisir, dan wilayah pedalaman, bahasa Aceh masih berdiri kokoh sebagai identitas utama. Di balee desa dan meunasah, anak-anak masih riuh bermain dan bersenda gurau menggunakan bahasa Aceh yang kental. Bahkan tidak jarang bahasa Aceh masuk dalam berbagai platform media sosial.

Era Digital sekarang ini, di tengah ancaman krisis identitas tutur ini, muncul sebuah bentuk "perlawanan budaya" yang justru lahir dari rahim teknologi itu sendiri. Media sosial yang awalnya dianggap sebagai ancaman, kini mulai dimanfaatkan oleh sejumlah kreator konten lokal asal Aceh. Sebut saja Teuku Mail salah satunya. Mereka dengan bangga meracik konten komedi, ulasan kuliner, hingga siniar (podcast) dengan menggunakan bahasa Aceh yang lugas.

Di industri musik independen, lagu-lagu bergenre pop hingga hip-hop berbahasa Aceh kembali mendapat tempat di playlist anak muda seperti Fahmil Arabi, Cut Zuhra, Nazar Apache dan masih banyak lagi teman-temannya. Gerakan organik ini perlahan menumbuhkan kembali kebanggaan di kalangan mahasiswa bahwa menguasai bahasa daerah adalah bagian dari identitas yang estetik dan tak lekang oleh waktu.

Alhasil, bahasa Aceh kini terlihat sedang berada di persimpangan jalan. Tanpa adanya upaya pelestarian yang dimulai dari meja makan keluarga, gawai dan sosmed, kekayaan linguistik identitas Aceh ini bisa saja berujung menjadi arsip sejarah di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....