Jangan Serakah, Rakyat Tidak Mudah Lupa

  • 31 Mei 2026 14:15 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Politik sering kali menghadirkan pemandangan yang berulang. Saat belum berkuasa, sebagian calon pemimpin datang dengan senyum, janji, dan berbagai program yang terdengar indah. Mereka hadir di tengah masyarakat, mendengar keluhan rakyat, bahkan seolah menjadi bagian dari penderitaan yang dirasakan warga. Namun setelah kursi kekuasaan berhasil diraih, tidak sedikit yang perlahan menjauh dari rakyat yang dahulu mereka datangi.

Padahal dalam demokrasi, kemenangan bukanlah hak yang bisa diwariskan atau dimiliki selamanya. Kemenangan hanya lahir dari kepercayaan masyarakat. Karena itu, seorang pemimpin seharusnya lebih banyak bersyukur daripada merasa paling berhak untuk terus berkuasa. Jabatan adalah amanah, bukan hadiah yang boleh dinikmati tanpa batas.

Fenomena ini menjadi semakin menarik jika dilihat dalam konteks Aceh. Pasca berbagai bencana yang melanda beberapa wilayah, masih banyak persoalan yang menunggu penyelesaian. Infrastruktur jalan yang rusak, jembatan yang belum pulih sepenuhnya, fasilitas publik yang membutuhkan perhatian, hingga masyarakat yang masih berjuang bangkit dari kesulitan ekonomi. Semua itu membutuhkan kerja nyata, bukan sekadar slogan politik.

Rakyat sesungguhnya tidak menuntut hal yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin janji yang pernah diucapkan benar-benar diwujudkan. Sebab masyarakat semakin cerdas dalam menilai. Mereka bisa membedakan mana pemimpin yang bekerja dan mana yang hanya pandai berbicara. Ketika masa kampanye tiba, berbagai janji sering bermunculan. Namun ketika jabatan telah diraih, janji itu terkadang berubah menjadi sekadar arsip pidato yang tersimpan dalam ingatan rakyat.

Ada ungkapan sederhana yang patut direnungkan oleh setiap pemimpin: jangan terlalu percaya diri bahwa kekuasaan akan selalu berada di tangan yang sama. Politik memiliki cara unik untuk mengingatkan manusia tentang pentingnya kerendahan hati. Hari ini dipuji, besok bisa dikritik. Hari ini berkuasa, esok bisa kembali menjadi warga biasa.

Karena itu, pemimpin yang bijak tidak akan sibuk memikirkan bagaimana mempertahankan jabatan, melainkan bagaimana meninggalkan warisan pengabdian. Jalan yang baik, jembatan yang kokoh, pelayanan publik yang memadai, serta kesejahteraan masyarakat adalah kampanye terbaik yang tidak memerlukan baliho maupun spanduk.

Jika hari ini masih ada pemimpin yang lebih sibuk menghitung peluang politik daripada menyelesaikan persoalan rakyat, maka mereka perlu mengingat satu hal: rakyat mungkin diam, tetapi mereka tidak lupa. Dan ketika waktu penilaian tiba, suara masyarakat sering kali menjadi pengingat paling keras bahwa kekuasaan bukan milik siapa pun, melainkan titipan yang sewaktu-waktu dapat dicabut.

Pada akhirnya, jangan serakah, Bos. Jika rakyat tidak lagi percaya, tidak ada strategi yang mampu memaksa kemenangan. Sebaliknya, jika pengabdian benar-benar dirasakan masyarakat, dukungan akan datang dengan sendirinya. Demokrasi selalu memberi ruang bagi mereka yang bekerja dengan hati, bukan hanya mereka yang pandai berjanji saat sedang terjepit.

Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM- Advokat sekaligus mediator PMN.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....