Benar dan Salah: Ditentukan atau Diciptakan?

  • 18 Mei 2026 14:48 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Apa yang membuat sesuatu dianggap benar atau salah? Apakah nilai moral memang sudah ada secara tetap sejak awal, atau sebenarnya manusia sendiri yang menciptakannya melalui budaya, kesepakatan, dan pengalaman hidup?

Pertanyaan ini menjadi salah satu pembahasan paling mendasar dalam filsafat moral. Selama berabad abad, manusia mencoba memahami apakah moral berasal dari prinsip universal yang tetap, atau hanya hasil konstruksi sosial yang terus berubah mengikuti zaman.

Sebagian pandangan percaya bahwa benar dan salah bersifat objektif. Dalam perspektif ini, ada nilai tertentu yang tetap berlaku di mana pun dan kapan pun, seperti larangan menyakiti orang lain tanpa alasan atau pentingnya keadilan. Moral dianggap sebagai sesuatu yang ditemukan, bukan dibuat.

Namun, pandangan lain melihat moral sebagai hasil ciptaan manusia. Apa yang dianggap benar di satu budaya belum tentu dianggap benar di budaya lain. Norma sosial, agama, sejarah, dan kondisi lingkungan membentuk standar moral yang berbeda beda. Dalam sudut pandang konstruksi sosial, benar dan salah bisa berubah tergantung konteks masyarakat.

Fenomena ini terlihat jelas dalam sejarah. Banyak tindakan yang dulu diterima secara sosial kini dianggap tidak manusiawi. Sebaliknya, beberapa nilai modern mungkin dianggap aneh oleh generasi masa lalu. Hal ini menunjukkan bahwa standar moral tidak selalu bersifat tetap.

Dalam perspektif psikologi sosial, manusia juga cenderung membentuk moral berdasarkan kebutuhan hidup bersama. Moral membantu menciptakan keteraturan sosial, membangun kepercayaan, dan mengurangi konflik di dalam kelompok.

Baca juga: 5+6=12

Masalah muncul ketika dua sistem moral yang berbeda saling bertabrakan. Jika benar dan salah sepenuhnya relatif, maka sulit menentukan batas terhadap tindakan yang merugikan manusia lain. Namun jika moral dianggap sepenuhnya mutlak, manusia berisiko mengabaikan kompleksitas budaya dan situasi yang berbeda.

Berdasarkan berbagai kajian filsafat, antropologi, dan psikologi yang dilansir dari berbagai sumber, kemungkinan besar moral memiliki dua sisi sekaligus. Ada kecenderungan universal dalam kebutuhan manusia terhadap keadilan dan empati, tetapi cara menerapkannya dipengaruhi oleh budaya dan konteks sosial.

Pada akhirnya, benar dan salah mungkin bukan sekadar sesuatu yang ditemukan ataupun sepenuhnya diciptakan. Moral berkembang melalui interaksi antara naluri manusia, pengalaman kolektif, dan cara manusia memahami kehidupan bersama.

Pertanyaan ini mungkin tidak pernah memiliki jawaban yang benar benar final. Namun justru dari perdebatan itulah manusia terus mencoba memahami bagaimana hidup berdampingan dengan sesama secara lebih manusiawi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....