Kartini Pagi Hari: Ruang Asap Dapur dan Masa Depan Anak
- 21 Apr 2026 08:23 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pagi di banyak rumah dimulai jauh sebelum matahari benar-benar terbit. Ketika sebagian orang masih terlelap, ada perempuan-perempuan yang sudah lebih dulu bangun, menyalakan api di dapur, menanak nasi, menggoreng telur, dan menyiapkan bekal untuk anak-anaknya yang akan berangkat sekolah. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera. Tidak ada unggahan yang viral. Tapi di situlah, masa depan sedang dipersiapkan diam-diam, konsisten, dan penuh cinta.
Setiap tanggal 21 April, kita memperingati Hari Kartini dengan berbagai seremoni. Nama R.A. Kartini kembali disebut, foto kebaya kembali diunggah, dan kata emansipasi kembali digaungkan. Namun di tengah perayaan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang jarang diajukan: apakah kita benar-benar sudah memahami makna perjuangan perempuan hari ini?
Sebab di balik narasi besar tentang kesetaraan, ada realitas kecil yang sering luput ibu-ibu yang bekerja dari dapur, tanpa gaji, tanpa pengakuan formal, bahkan sering kali tanpa disebut sebagai “pekerja”. Mereka dianggap hanya di rumah, seolah-olah rumah bukan ruang produksi, dan dapur bukan tempat kerja.
Padahal, jika kita mau jujur, dapur adalah salah satu ruang paling strategis dalam membangun peradaban. Dari sanalah anak-anak berangkat ke sekolah dengan perut kenyang, pikiran lebih siap, dan hati yang tenang. Bekal sederhana yang dibawa ke sekolah bukan sekadar nasi dan lauk, tetapi juga simbol perhatian, disiplin, dan kasih sayang yang tidak tergantikan.
Ironisnya, di era digital hari ini, ukuran kerja sering kali bergeser menjadi apa yang terlihat dan bisa diukur secara ekonomi atau popularitas. Seseorang dianggap “produktif” jika menghasilkan uang, memiliki jabatan, atau setidaknya aktif di media sosial. Sementara kerja-kerja domestik seperti memasak, mencuci, dan mengurus anak sering kali dipinggirkan tidak masuk statistik, tidak dihitung dalam pertumbuhan ekonomi, dan tidak dianggap sebagai kontribusi yang layak dihargai.
Lebih jauh lagi, ruang digital juga menciptakan ilusi baru tentang eksistensi. Banyak orang berlomba-lomba untuk terlihat sibuk, terlihat sukses, dan terlihat berdaya. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, ibu-ibu yang setiap pagi menyiapkan bekal anaknya justru tetap berada di ruang sunyi. Mereka tidak membuat konten, tetapi mereka membentuk generasi. Mereka tidak mengejar “like”, tetapi mereka menanam nilai.
Di titik ini, kita perlu membaca ulang makna emansipasi yang dulu diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi bukan semata tentang keluar dari rumah atau masuk ke ruang publik, tetapi tentang pengakuan atas martabat dan peran perempuan dalam segala ruang termasuk ruang domestik. Ketika seorang ibu memilih untuk mengurus rumah dan anak-anaknya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, itu bukan tanda ketertinggalan, melainkan bentuk kontribusi yang sangat fundamental.
Sayangnya, cara pandang masyarakat sering kali masih bias. Kita terlalu cepat mengagungkan perempuan yang berhasil di ruang publik, tetapi lupa memberi penghargaan yang setara kepada mereka yang bekerja di ruang domestik. Seolah-olah nilai seseorang ditentukan oleh seberapa jauh ia terlihat, bukan seberapa besar dampak yang ia berikan.
Padahal, jika kita telusuri lebih dalam, banyak keberhasilan anak-anak di sekolah, bahkan di masa depan, berakar dari hal-hal kecil yang dilakukan di rumah. Dari bekal yang disiapkan, dari doa yang dipanjatkan, dari perhatian yang diberikan tanpa syarat. Semua itu tidak tercatat dalam laporan resmi, tetapi nyata dalam kehidupan.
Dalam perspektif nilai-nilai keislaman, kerja seorang ibu di rumah justru memiliki dimensi yang sangat mulia. Ia bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga bagian dari menjaga keberlangsungan kehidupan, pendidikan, dan akhlak generasi. Dalam kerangka maqasid syar’iyah, peran ini terkait erat dengan penjagaan keturunan (hifz al-nasl) dan bahkan penjagaan akal (hifz al-‘aql), karena dari rumah yang teruruslah lahir anak-anak yang sehat dan siap belajar.
Maka, sudah saatnya kita berhenti melihat dapur sebagai simbol keterbatasan. Dapur adalah ruang pengabdian, ruang pendidikan pertama, dan ruang di mana nilai-nilai kehidupan ditanamkan. Asap yang mengepul setiap pagi bukan sekadar tanda aktivitas memasak, tetapi juga simbol perjuangan yang sering kali tidak terlihat.
Kartini hari ini tidak selalu berbicara melalui tulisan seperti dulu. Ia hadir dalam wujud ibu-ibu yang bangun sebelum fajar, yang memastikan anaknya berangkat sekolah dengan layak, yang tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi dan perubahan zaman. Mereka mungkin tidak dikenal, tetapi peran mereka sangat menentukan.
Di tengah arus digitalisasi yang semakin cepat, kita memang perlu mendorong perempuan untuk maju, berpendidikan, dan berdaya secara ekonomi. Namun dalam waktu yang sama, kita juga harus adil dalam memberi makna pada kerja-kerja yang tidak terlihat. Sebab tidak semua perjuangan harus dipublikasikan untuk menjadi berarti.
Kartini pagi hari itu mungkin tidak pernah muncul di linimasa. Ia tidak viral. Ia tidak trending. Tapi dari tangannya, dari dapurnya, dan dari ketulusannya, masa depan sedang disiapkan hari demi hari, tanpa henti.
Dan mungkin, justru di situlah letak emansipasi yang paling hakiki: ketika perempuan tidak lagi diukur dari seberapa terlihat ia di mata publik, tetapi dari seberapa besar makna yang ia hadirkan dalam kehidupan.
Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM- Akademisi UIN Lhokseumawe dan Komite SDN 5 Samudera.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....