Diam Itu Emas, tetapi Emas Tidak Pernah Diam

  • 14 Mar 2026 08:28 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pepatah lama menyebutkan diam itu emas. Ungkapan ini selama ini dimaknai sebagai nasihat agar seseorang tidak mudah terpancing emosi dan lebih memilih sikap tenang dalam menghadapi persoalan. Namun dalam dinamika dunia modern, pepatah tersebut seolah menemukan makna baru.

Akademisi dan konsultan hukum, Dr. Bukhari, M.H., CM, menilai dalam situasi konflik global saat ini justru emas yang “paling banyak berbicara” melalui lonjakan harganya di pasar dunia. Menurutnya, kenaikan harga emas sering menjadi indikator meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik.

Emas itu seolah menjadi bahasa ekonomi dunia. Ketika situasi global tidak stabil, orang mencari sesuatu yang dianggap paling aman. Maka emas pun menjadi pilihan utama bagi banyak investor,” kata Bukhari melalui riliese RRI lhokseumawe, Sabtu 14 Maret 2026.

Belakangan ini, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat menyusul konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Situasi tersebut tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan kawasan, tetapi juga memicu gejolak pada pasar ekonomi global.

Salah satu indikator yang paling cepat merespons ketegangan geopolitik adalah harga komoditas strategis seperti minyak dan emas. Ketika konflik meningkat, pasar global langsung bereaksi. Harga minyak bergerak naik karena kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi dunia, sementara harga emas ikut melonjak karena dianggap sebagai aset yang relatif aman di tengah ketidakpastian ekonomi.

Fenomena ini bukan hal baru dalam sejarah ekonomi global. Setiap konflik besar hampir selalu diikuti oleh kenaikan harga emas. Dalam dunia keuangan, emas dikenal sebagai safe haven, yaitu instrumen investasi yang sering dipilih investor untuk menjaga nilai kekayaan ketika situasi global tidak stabil.

Menurut Bukhari, kenaikan harga emas bukan sekadar fenomena ekonomi, tetapi juga mencerminkan meningkatnya kecemasan dunia terhadap konflik yang berkepanjangan.

Kalau harga emas terus naik, itu sering kali menandakan dunia sedang tidak baik-baik saja. Emas menjadi mahal bukan karena kemakmuran meningkat, tetapi karena ketakutan sedang meluas,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa konflik bersenjata tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berdampak pada stabilitas ekonomi global yang akhirnya dirasakan hingga ke tingkat masyarakat.

Perang modern tidak hanya terjadi di medan tempur. Dampaknya menjalar ke sektor ekonomi dunia. Harga energi naik, perdagangan terganggu, dan stabilitas ekonomi ikut terpengaruh,” jelasnya.

Bukhari menambahkan bahwa masyarakat Indonesia, termasuk di Aceh, sering kali merasakan dampak tidak langsung dari konflik internasional tersebut. Salah satunya melalui perubahan harga komoditas, termasuk emas dan energi.

Setiap kali konflik Timur Tengah memanas, masyarakat mulai bertanya apakah harga minyak akan naik atau harga emas akan berubah. Artinya konflik global sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita,” katanya.

Dalam perspektif hukum Islam, Bukhari menegaskan bahwa peperangan bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Islam justru menekankan pentingnya perdamaian dan penyelesaian konflik melalui jalan dialog.

Ia mengutip Surah Al-Anfal ayat 61 yang menyatakan bahwa apabila pihak lain cenderung kepada perdamaian, maka perdamaian tersebut harus diterima.

Al-Qur’an menegaskan bahwa perdamaian harus menjadi pilihan utama. Konflik dan kekerasan bukan jalan yang dianjurkan,” ungkapnya.

Selain itu, Rasulullah SAW juga mengingatkan agar umat manusia tidak menjadikan peperangan sebagai sesuatu yang diharapkan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa manusia dianjurkan memohon keselamatan dan tidak berharap bertemu musuh.

Ia juga menilai bahwa eskalasi konflik yang terjadi saat ini tidak terlepas dari serangkaian serangan militer yang dilakukan Israel dengan dukungan Amerika Serikat terhadap sejumlah target di wilayah Iran.

Dalam logika kemanusiaan dan stabilitas global, pihak yang memulai konflik seharusnya memiliki tanggung jawab untuk menghentikannya. Israel dan Amerika Serikat seharusnya mengambil langkah untuk meredakan ketegangan dan menghentikan perang terhadap Iran,” tegasnya.

Menurutnya, perang tidak pernah benar-benar menghasilkan kemenangan sejati. Yang tersisa biasanya hanyalah penderitaan manusia serta ketidakstabilan ekonomi yang berkepanjangan.

Pada akhirnya, kenaikan harga emas di tengah konflik global adalah refleksi dari kegelisahan dunia. Emas seolah berbicara bahwa stabilitas internasional sedang terganggu,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap semua pihak yang terlibat dalam konflik dapat menahan diri dan mengedepankan dialog sebagai jalan penyelesaian.

Pepatah mengatakan diam itu emas. Dalam konteks dunia hari ini, yang seharusnya diam bukan emasnya, tetapi senjatanya,” pungkas Bukhari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....