Ramadan dan Fenomena Flexing Kebaikan

  • 05 Mar 2026 22:31 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe-Bulan Ramadan selalu identik dengan meningkatnya aktivitas ibadah dan kepedulian sosial. Di berbagai tempat, masyarakat berlomba melakukan kebaikan seperti berbagi takjil, bersedekah, hingga membantu sesama yang membutuhkan. Namun di era media sosial, praktik kebaikan tersebut sering kali tidak hanya dilakukan sebagai bentuk kepedulian, tetapi juga menjadi bagian dari konten yang dibagikan kepada publik. Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah flexing kebaikan, yaitu memperlihatkan aksi sosial atau amal kepada khalayak luas melalui platform digital.

Dalam kehidupan sosial modern, media sosial menjadi ruang baru untuk mengekspresikan identitas diri. Banyak orang membagikan kegiatan positif mereka dengan harapan dapat menginspirasi orang lain. Berdasarkan sejumlah kajian mengenai perilaku komunikasi digital yang dilansir dari berbagai sumber, publikasi tindakan sosial di internet dapat menciptakan efek domino berupa dorongan bagi orang lain untuk melakukan hal serupa. Ketika satu aksi kebaikan viral, tidak jarang muncul gerakan kolektif yang memperluas dampak sosialnya.

Di sisi lain, muncul perdebatan mengenai makna keikhlasan di tengah budaya digital tersebut. Ketika setiap aktivitas berbagi selalu disertai dokumentasi kamera dan unggahan di media sosial, sebagian orang menilai bahwa esensi kebaikan menjadi kabur. Aktivitas amal yang semula bersifat personal dan spiritual dapat berubah menjadi simbol eksistensi. Kebaikan yang seharusnya dilakukan secara sederhana terkadang tampil seperti panggung sosial yang menampilkan citra diri.

Fenomena ini juga tidak terlepas dari cara kerja algoritma media sosial. Konten yang memunculkan emosi positif seperti kegiatan amal, bantuan kemanusiaan, atau aksi berbagi biasanya mendapatkan respons besar dari pengguna internet. Banyak unggahan tentang sedekah, pembagian makanan, atau kegiatan sosial selama Ramadan memperoleh ribuan respons berupa komentar dan dukungan. Interaksi tersebut secara tidak langsung mendorong lebih banyak orang untuk mempublikasikan aktivitas serupa.

Meski demikian, tidak semua orang yang membagikan kegiatan sosial memiliki motif pencitraan. Sebagian melakukannya sebagai bentuk transparansi kegiatan komunitas, laporan kegiatan amal, atau cara mengajak orang lain ikut berpartisipasi. Dalam konteks ini, media sosial bisa menjadi sarana memperluas gerakan berbagi selama Ramadan, selama pesan yang disampaikan tetap berfokus pada nilai kepedulian dan bukan semata pada citra pribadi.

Ramadan sendiri selalu membawa pesan tentang empati, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap sesama. Tantangannya di era digital adalah menjaga keseimbangan antara menyebarkan inspirasi dan menjaga ketulusan niat. Kebaikan yang dilakukan tetap memiliki nilai, baik disaksikan banyak orang maupun tidak, selama tujuan utamanya adalah membantu dan memberi manfaat bagi sesama.

Rekomendasi Berita