Jangan Jadi Manusia Tiga Kosong
- 04 Mar 2026 08:09 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Ada tiga hal yang paling tidak disukai orang dalam hidup ini: otak kosong, omong kosong, dan dompet kosong. Tiga istilah ini terdengar ringan, tetapi sesungguhnya menggambarkan realitas sosial yang serius. Di tengah tekanan ekonomi dan dinamika politik, tiga “kosong” ini sering hadir bersamaan dalam kehidupan masyarakat.
Pertama, otak kosong. Ini bukan soal gelar, melainkan soal kesadaran untuk terus belajar. Di era digital, informasi membanjir, tetapi tidak semua orang mau menyaring dan memahami. Akibatnya, perdebatan lebih sering didorong emosi daripada nalar. Hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Padahal kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas berpikir warganya.
Kedua, omong kosong. Banyak janji, sedikit realisasi. Banyak retorika, minim solusi. Masyarakat hari ini tidak lagi mudah percaya pada kata-kata manis. Mereka menunggu bukti. Kepercayaan publik adalah modal sosial yang mahal. Sekali rusak karena janji yang tak ditepati, memperbaikinya jauh lebih sulit.
Ketiga, dompet kosong. Inilah persoalan yang paling terasa, apalagi menjelang dul Fitri 1447 H. Tradisi Lebaran di negeri ini bukan hanya soal ibadah dan silaturahmi, tetapi juga soal kebutuhan ekonomi yang meningkat. Harga bahan pokok naik, biaya transportasi melonjak, kebutuhan pakaian dan hidangan bertambah. Semua bermuara pada satu pertanyaan sederhana: cukupkah isi dompet?
Menjelang hari raya, tekanan ekonomi semakin nyata. Banyak kepala keluarga mulai menghitung sisa tabungan. THR ditunggu dengan harap-harap cemas. Pedagang kecil berharap pembeli ramai, sementara pekerja informal berharap pemasukan tidak sepi. Dompet kosong di momen seperti ini bukan sekadar soal gengsi, tetapi soal kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun kekosongan ekonomi tidak boleh membuat kita kehilangan arah. Justru di sinilah pentingnya solidaritas sosial. Zakat, infak, dan sedekah menemukan relevansinya. Negara pun dituntut memastikan stabilitas harga dan distribusi kebutuhan pokok berjalan adil. Idul Fitri seharusnya menjadi momentum kebahagiaan bersama, bukan beban yang menambah kecemasan.
| Baca juga: Peutuah: bila Diri Ingin Dikenang |
Tiga kekosongan ini saling berkaitan. Otak kosong melahirkan keputusan yang keliru. Omong kosong menghancurkan kepercayaan. Dompet kosong menambah tekanan hidup. Jika tidak diantisipasi, ketiganya bisa menjadi krisis yang berulang setiap tahun.
Karena itu, mari isi otak dengan ilmu dan kebijaksanaan. Jaga lisan agar tidak mudah berjanji tanpa bukti. Dan siapkan dompet dengan perencanaan, kerja keras, serta saling tolong-menolong.
Jangan jadi manusia tiga kosong. Terlebih menjelang Idul Fitri, saat kebahagiaan seharusnya dirasakan semua orang. Sebab yang paling menyakitkan bukan hanya dompet yang kosong, tetapi harapan yang ikut kosong di hari kemenangan.
Oleh: Dr. Bukhari. M. H.CM- Akademisi dan Konsultan Hukum.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....