Budaya Konsumtif jelang Ramadan, Tekanan Ekonomi di Balik Spiritualita
- 17 Feb 2026 11:14 WIB
- Lhokseumawe
RRI CO.ID,Lhokseumawe - Menjelang Ramadan, aktivitas ekonomi menunjukkan pola peningkatan yang konsisten setiap tahun. Sejumlah laporan lembaga riset pasar dan otoritas ekonomi nasional yang dilansir dari berbagai sumber menunjukkan adanya kenaikan konsumsi rumah tangga menjelang bulan suci dan Idulfitri, baik pada sektor pangan, fesyen, transportasi, maupun ritel daring.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa publikasi tahunannya juga mencatat momen Ramadan dan Lebaran sebagai salah satu periode dengan perputaran uang tertinggi dalam kalender ekonomi Indonesia. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana momentum religius beririsan kuat dengan dinamika pasar.
Dalam perspektif teori consumer culture, praktik konsumsi bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga mekanisme pembentukan identitas sosial. Riset-riset sosiologi konsumsi yang dilansir dari berbagai sumber akademik menjelaskan bahwa individu cenderung menggunakan barang dan simbol tertentu untuk merepresentasikan nilai, status, dan afiliasi sosialnya.
Menjelang Ramadan, narasi “menyambut bulan suci dengan yang terbaik” sering kali diterjemahkan ke dalam bentuk pembelian pakaian baru, hampers eksklusif, renovasi rumah, hingga penyelenggaraan buka bersama di tempat premium. Simbol religius dan simbol kemapanan ekonomi pun saling bertaut.
Tekanan ekonomi muncul ketika standar sosial tersebut menjadi norma tidak tertulis. Teori social comparison dari psikologi sosial menjelaskan bahwa individu secara alamiah membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai posisi sosialnya.
Di era digital, proses ini semakin intens. Laporan berbagai platform digital yang dilansir dari berbagai sumber menunjukkan lonjakan interaksi terhadap konten bertema Ramadan, termasuk promosi produk dan gaya hidup. Ketika lini masa dipenuhi representasi kemewahan perayaan, muncul potensi tekanan psikologis bagi mereka yang tidak memiliki kapasitas finansial serupa.
Selain faktor psikologis, terdapat pula dimensi struktural berupa strategi pemasaran musiman. Sejumlah kajian pemasaran yang dilansir dari berbagai sumber akademik dan laporan industri menyoroti bagaimana perusahaan memanfaatkan momen religius melalui kampanye emosional berbasis keluarga, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Teknik ini efektif meningkatkan konsumsi karena menyentuh aspek afektif konsumen. Akibatnya, konsumsi tidak lagi dipandang sekadar transaksi ekonomi, melainkan bagian dari ekspresi nilai dan komitmen religius.
Dampaknya terasa pada tingkat rumah tangga. Laporan literasi keuangan yang dilansir dari berbagai sumber, termasuk otoritas jasa keuangan dan lembaga survei nasional, menunjukkan bahwa pengeluaran musiman tanpa perencanaan dapat mengganggu stabilitas finansial, terutama bagi kelompok berpenghasilan tetap.
| Baca juga: Fenomena Quiet Quitting dalam Dunia Kerja |
Tekanan untuk “tampil pantas” dalam tradisi sosial berpotensi mendorong perilaku konsumtif yang tidak sejalan dengan prinsip pengelolaan keuangan yang sehat.
Ironisnya, Ramadan secara normatif menekankan pengendalian diri, empati, dan kesederhanaan. Ketika nilai spiritual bersinggungan dengan logika pasar, muncul paradoks antara asketisme dan konsumsi.
Refleksi kritis menjadi penting agar masyarakat tidak terjebak dalam reduksi makna Ramadan menjadi sekadar musim belanja tahunan. Menguatkan kesadaran kolektif tentang esensi spiritualitas dapat menjadi langkah strategis untuk meredam tekanan ekonomi sekaligus mengembalikan Ramadan pada fungsi transformasi moral dan sosialnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....