Jangan Mengatur Allah Jika Ingin Hidup Tenang

  • 10 Feb 2026 13:30 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Keinginan manusia untuk hidup bahagia sering kali berujung pada satu sikap yang tanpa disadari justru menghilangkan ketenangan itu sendiri: mengatur Allah melalui doa dan harapan pribadi. Kita berdoa bukan sekadar memohon, tetapi menuntut agar hidup berjalan sesuai skenario yang kita susun sendiri. Ketika realitas tidak sejalan dengan harapan, kekecewaan pun lahir, lalu menyusul prasangka buruk terhadap takdir.

Fenomena ini bukan persoalan lemahnya iman, melainkan kekeliruan dalam memahami makna doa dan tawakal. Doa seharusnya menjadi pengakuan akan keterbatasan manusia dan keagungan Allah, bukan alat untuk memaksakan kehendak pribadi. Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan bahwa manusia kerap keliru dalam menilai apa yang baik dan buruk baginya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216).

Konteks Aceh memberi pelajaran yang sangat nyata tentang ayat ini. Banjir, longsor, dan berbagai bencana yang berulang kali melanda tidak hanya meruntuhkan rumah dan harta benda, tetapi juga mengguncang cara pandang kita terhadap kehidupan. Tidak sedikit yang bertanya, bahkan menggugat, mengapa musibah datang silih berganti. Padahal, pertanyaan yang lebih jujur seharusnya diarahkan pada diri sendiri dan kolektivitas sosial: apakah amanah terhadap alam, ruang hidup, dan keadilan sosial telah dijaga dengan baik?

Dalam perspektif maqaṣid syari‘ah, setiap ketetapan Allah termasuk musibah tidak pernah lepas dari tujuan menjaga lima prinsip dasar kehidupan: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Bencana sering kali menjadi mekanisme ilahiah untuk mengingatkan manusia agar kembali pada keseimbangan. Ketika hutan dirusak, sungai dipersempit, dan alam dieksploitasi tanpa kendali, maka kerusakan yang muncul bukan semata takdir buta, melainkan konsekuensi dari kelalaian manusia terhadap amanah kekhalifahan.

Rasulullah memberikan teladan kedewasaan spiritual melalui doa yang sederhana namun mendalam: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keridaan setelah ketetapan-Mu” (HR. Ahmad). Doa ini menunjukkan bahwa ketenangan hidup tidak lahir dari selalu terkabulnya keinginan, tetapi dari kerelaan hati menerima keputusan Allah dengan penuh kepercayaan.

Di sinilah letak perbedaan antara pasrah dan tawakal. Pasrah bisa melahirkan keputusasaan, sementara tawakal justru menuntut usaha maksimal, disertai keyakinan bahwa hasil akhir berada dalam genggaman Allah yang Maha Mengetahui. Orang yang tawakal tidak berhenti berikhtiar, tetapi berhenti berdebat dengan takdir.

Oleh karena itu, jika kebahagiaan dan ketenangan menjadi tujuan hidup, maka sikap pertama yang perlu dibenahi adalah berhenti mengatur Allah dengan segala permintaan kita. Yang perlu diatur adalah niat, usaha, serta tanggung jawab sosial dan ekologis sebagai bagian dari iman. Selebihnya, biarkan Allah menentukan jalan terbaik, 

Oleh Dr. Bukhari.M.H.CM, Akademisi UIN Lhokseumawe.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....