Nuansa Ramadhan: Ragam Keunikan Tradisi Ramadhan di Kota Pangkal Pinang

  • 28 Feb 2026 18:32 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Pangkal Pinang - Bulan suci Ramadhan di Kota Pangkalpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, selalu menghadirkan atmosfer yang berbeda dan memikat. Sebagai kota yang menjunjung tinggi keharmonisan antaretnis, suasana bulan puasa di sini bukan sekadar menjalankan ibadah secara personal, melainkan menjadi perayaan kultural yang kental. Perpaduan antara tradisi Melayu pesisir yang agamis dan semangat toleransi masyarakatnya menciptakan warna unik yang sulit ditemukan di daerah lain di Indonesia.

Salah satu daya tarik utama yang paling dinanti warga setiap sore adalah kemunculan Pasar Ramadhan di sepanjang Jalan Merdeka dan kawasan Taman Sari. Di pusat kuliner dadakan ini, ribuan warga tumpah ruah untuk berburu takjil khas Bangka yang melegenda, seperti Kue Pelite. Kudapan berbahan tepung beras dan santan yang dikukus dalam wadah pandan ini dikenal sebagai kue favorit Bung Karno selama masa pengasingan, menjadikannya warisan kuliner bernilai sejarah tinggi bagi masyarakat setempat.

Selain Kue Pelite, kekayaan kuliner laut atau seafood menjadi ciri khas berbuka puasa yang sangat dominan di kota ini. Masyarakat Pangkalpinang terbiasa menyantap Otak-otak Bangka yang dibakar di atas bara api dengan aroma daun pisang yang menyerbak. Keunikannya terletak pada sambal cocolan berbahan tauco atau terasi merah yang memberikan sensasi rasa asam, pedas, dan gurih. Menu lain seperti Pantiaw, yakni mi beras tipis dengan siraman kuah ikan kental, juga menjadi primadona hidangan pembuka yang menyegarkan.

Sisi religius Ramadhan di Pangkalpinang semakin terasa dengan tetap lestarinya tradisi "Nganggung" di masjid-masjid saat malam-malam penting seperti Nuzulul Quran. Nganggung adalah tradisi membawa dulang atau talam besar berisi makanan lengkap yang ditutup dengan tudung saji merah bermotif khas. Warga berbondong-bondong membawa hidangan terbaik mereka untuk disantap bersama jamaah lain setelah salat Tarawih. Tradisi ini mencerminkan semangat gotong royong, kesetaraan sosial, dan mempererat tali silaturahmi antarwarga secara konkret.

Keunikan lain yang menjadi identitas kota ini adalah implementasi nyata dari semboyan "Fan Ngin Thit Hiau" atau Melayu dan Tionghoa adalah sama. Selama Ramadhan, toleransi beragama terlihat sangat jelas di mana warga keturunan Tionghoa seringkali turut berpartisipasi membagikan takjil gratis bagi umat Muslim. Suasana damai ini menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling menghormati, sehingga bulan puasa di Pangkalpinang menjadi simbol kerukunan yang sangat sejuk dipandang mata.

Sebagai penutup, waktu ngabuburit di Pangkalpinang seringkali dihabiskan warga dengan mengunjungi Jembatan Emas yang ikonik atau sekadar bersantai di pinggir pantai. Dengan kombinasi keindahan alam pesisir, kelezatan kuliner tradisional, dan kearifan lokal yang terjaga, Ramadhan di kota ini memberikan pengalaman spiritual dan sosial yang mendalam. Program-program pemerintah kota dan antusiasme masyarakat dalam menjaga tradisi memastikan bahwa setiap sudut Pangkalpinang tetap memancarkan energi positif selama bulan suci berlangsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....