Ramadhan: Bulan antara Tradisi dan Ilmu
- 26 Feb 2026 15:34 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Memasuki bulan suci Ramadhan, kita diingatkan untuk mampu membedakan antara rutinitas tradisi dengan tuntunan ilmu dalam menjalankan ibadah puasa. Hal tersebut disampaikan Ustadz Khairunnasri dalam program Dialog Ramadhan di Pro 1 RRI Lhokseumawe pada Rabu, 25 Februari 2026.
Ustadz Khairunnasri menyoroti fenomena umat Muslim yang kerap terjebak dalam tradisi tahunan tanpa memahami esensi hukum dan ilmu yang mendasarinya. Ia menegaskan bahwa ilmu berfungsi meluruskan praktik ibadah agar tetap berada dalam koridor syariat dan berdasarkan dalil yang benar.
“Disebut tradisi karena sudah menjadi ritual tetap tahunan. Namun ilmu bertujuan memproses semua perbuatan itu sesuai hukum. Jangan sampai kita ber-Ramadhan hanya dengan tradisi, tapi kosong dari ilmu,” ujarnya.
Salah satu contoh perbedaan antara tradisi dan ilmu yang dibahas adalah terkait sahur. Secara umum, masyarakat memahami sahur sebagai makan besar sebelum berpuasa. Namun, secara ilmu fikih, sahur berasal dari kata sahar yang berarti waktu akhir malam.
Ia menjelaskan bahwa sahur tidak harus berupa makanan berat. Minum seteguk air pada waktu sahar tetap dihitung sebagai sahur, selama dilakukan menjelang waktu Subuh. Bahkan, ia menegaskan bahwa sunnahnya adalah mengakhirkan waktu sahur, bukan makan sebelum tidur karena enggan bangun.
Selain itu, ia juga menyoroti tradisi berbuka puasa bersama dan kegiatan ngabuburit. Menurutnya, tradisi tersebut seharusnya tidak melalaikan kewajiban utama, seperti shalat Maghrib. Ia mengingatkan bahwa waktu berbuka merupakan momen mustajab untuk berdoa, bukan sekadar berkumpul, berswafoto, atau sibuk menggunakan gawai.
Ustadz Khairunnasri juga mengingatkan bahaya perilaku memiliki ilmu tanpa mengamalkannya, maupun beramal tanpa dasar ilmu. Ia mencontohkan fenomena sebagian umat yang rajin melaksanakan shalat Tarawih namun kurang memperhatikan syarat sah shalat, seperti menutup aurat secara sempurna, khususnya bagi perempuan.
Menurutnya, karakter Muslim sejati adalah mereka yang mengamalkan ilmu yang dimiliki dan mendasari setiap amal dengan pengetahuan yang benar.
“Setiap yang berilmu wajib beramal, dan setiap amal harus dilandasi ilmu. Jangan sampai kita termasuk orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga karena kehilangan makna esensinya,” tegasnya.
Sebagai penutup, Ustadz Khairunnasri mengajak untuk menjadi pribadi yang cerdas dan terus belajar, terutama dalam memahami ajaran agama secara mendalam. Ia berharap kita tidak sekadar mengikuti tren atau kebiasaan tanpa pemahaman, tetapi menjadikan ilmu sebagai landasan dalam beribadah.
“Beribadahlah dengan ilmu dan amalkanlah ilmu yang didapat. Semoga seluruh amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....