Ramadhan, Sekolah Karakter Generasi Muda di RRI Pro2

  • 20 Feb 2026 13:58 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Bulan suci Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai bulan ibadah, tetapi juga sebagai momentum pembentukan karakter bagi generasi muda. Hal ini mengemuka dalam dialog interaktif di RRI Pro2 Lhokseumawe bersama Tgk. Syahrul Septianda, S.Pd., yang dipandu host Dika.

Dalam perbincangan tersebut, Tgk. Syahrul menjelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah yang dikenal sebagai sayyidusy syuhur atau penghulu segala bulan. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 tentang diturunkannya Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia.

“Ramadhan bukan hanya tentang kewajiban puasa, tetapi tentang pendidikan jiwa. Puasa adalah tarbiyah ruhiyah, proses pembinaan spiritual yang melatih manusia mengendalikan diri,” ujar Tgk. Syahrul.

Ia juga mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Menurutnya, kondisi ini menjadi peluang besar bagi umat Islam, khususnya anak muda, untuk memperbaiki diri.

Dalam dialog yang berlangsung hangat, Dika menyoroti bagaimana Ramadhan dapat menjadi “sekolah karakter”. Tgk. Syahrul memaparkan sedikitnya tujuh karakter utama yang dibentuk selama bulan suci.

Pertama, kedisiplinan. Jadwal sahur, berbuka, hingga shalat tepat waktu melatih manajemen waktu. Ia juga menyinggung keutamaan shalat berjamaah yang lebih utama 27 derajat dibandingkan shalat sendirian.

Kedua, kejujuran dan integritas. “Puasa itu ibadah yang sangat personal. Tidak ada yang tahu kita benar-benar berpuasa atau tidak, kecuali diri sendiri dan Allah,” katanya.

Ketiga, kesabaran dan pengendalian diri (self-control). Menahan lapar, dahaga, dan emosi melatih kecerdasan emosional generasi muda agar tidak mudah terprovokasi.

Keempat, tanggung jawab. Puasa merupakan kewajiban fardhu ‘ain yang harus ditunaikan setiap individu Muslim yang memenuhi syarat. Konsistensi menjalankannya membentuk pribadi yang amanah.

Kelima, empati sosial. Ramadhan mengajarkan kepedulian melalui zakat fitrah, infak, dan sedekah. Merasakan lapar membuat seseorang lebih memahami kondisi kaum dhuafa.

Keenam, kesederhanaan dan sikap zuhud. Tgk. Syahrul mengingatkan agar tidak berlebihan saat berbuka. “Ramadhan mengajarkan kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan,” ujarnya.

Ketujuh, religiusitas dan kedekatan spiritual. Intensitas ibadah seperti tilawah Al-Qur’an, shalat sunnah, dan doa memperkuat kesadaran batin bahwa setiap perbuatan diawasi Allah SWT.

Di akhir dialog, Tgk. Syahrul menyampaikan pesan motivasi kepada generasi muda. “Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum menata diri. Kurangi hal-hal kurang bermanfaat, seperti penggunaan gawai berlebihan, dan perbanyak amal kebaikan. Perubahan kecil yang konsisten selama 30 hari bisa menjadi kebiasaan baik sepanjang tahun.”

Melalui dialog ini, RRI Pro2 Lhokseumawe mengajak generasi muda menjadikan Ramadhan sebagai sarana membentuk karakter yang disiplin, jujur, sabar, peduli, dan berintegritas, bukan hanya selama satu bulan, tetapi sepanjang kehidupan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....