Virus Hepatitis B Terdeteksi pada Tiga Spesies Primata, Peneliti Curigai Peran Pasar Hewan
- 28 Sep 2026 18:05 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Virus Hepatitis B (HBV) yang selama ini dikenal luas menginfeksi manusia, ternyata juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan satwa liar dilindungi di Indonesia. Penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan yakni virus ini tidak hanya ditemukan pada orangutan dan owa, tetapi kini telah menular hingga ke spesies lutung jawa. Perdagangan satwa di pasar hewan ilegal dicurigai kuat menjadi lokasi utama terjadinya penularan lintas spesies tersebut.
Dugaan tersebut diungkapkan oleh Youdiil Ophinni, Assistant Professor dari Kyoto University, dalam artikel terbarunya yang dilansir dari laman jaringan media akademis, The Conversation. Bersama timnya yang meneliti penularan hepatitis B pada hewan sejak 2021, Youdiil memaparkan bahwa penularan pada lutung jawa menjadi temuan yang sangat di luar dugaan, mengingat spesies ini sebelumnya dianggap kebal terhadap infeksi HBV.
"Banyak owa dan orangutan terinfeksi hepatitis B. DNA virus terdeteksi dalam 17 dari 68 owa, dan 4 dari 50 orangutan. Bahkan, di salah satu pusat rehabilitasi, sebanyak 82,3 persen owa jawa yang kami periksa terbukti positif hepatitis B," papar Youdiil Ophinni seperti dikutip dari The Conversation Senin 28 September 2026.
Titik terang penularan antarspesies (viral spillover) ini terbukti saat peneliti menemukan enam ekor primata, termasuk seekor lutung jawa barat (Trachypithecus mauritius), memiliki antibodi hepatitis B. Ini menandakan hewan itu telah terpapar virus hepatitis B.
Ketika tim peneliti merunut silsilah genetiknya, hasilnya menunjukkan bahwa virus dari tubuh lutung hampir identik (mencapai 96,3 persen) dengan virus hepatitis B yang ada pada owa jawa. Hal ini mengonfirmasi besarnya kemungkinan lutung tersebut tertular langsung dari owa.
Yang menjadi pertanyaan besar bagi para peneliti adalah di mana kedua satwa ini bersentuhan hingga terjadi pertukaran darah atau cairan tubuh. Youdiil menjelaskan, penularan ini sangat tidak mungkin terjadi di alam liar maupun di pusat rehabilitasi. Meski owa dan lutung berbagi habitat di hutan Jawa Barat, keduanya hidup di tajuk pohon memakan buah dan daun tanpa interaksi fisik yang intens. Di pusat rehabilitasi, satwa selalu dikandangkan secara terpisah berdasarkan jenisnya.
Kecurigaan utama pun mengarah pada pasar hewan atau perdagangan satwa liar ilegal. Menurut Youdiil, owa dan lutung memiliki ukuran tubuh yang mirip, yakni berkisar 6 hingga 8 kilogram.
"Sehingga sangat mudah dikandangkan bersama. Mereka dijual sebagai bayi. Untuk menangkapnya, induknya biasanya ditembak terlebih dahulu," ungkapnya.
Di dalam kandang pedagang yang sempit dan bercampur baur itulah, cairan tubuh dari hewan yang terinfeksi dapat dengan mudah menular ke hewan lain di sebelahnya. Hipotesis ini didukung oleh data survei terhadap 14 pasar satwa di Jawa dan Bali yang pernah mengidentifikasi sedikitnya 17 virus zoonosis berpotensi menyebar dari tempat-tempat tersebut.
Melalui temuan ini, Youdiil Ophinni menekankan bahwa perdagangan satwa liar tidak sekadar mengancam populasi primata dari segi jumlah, melainkan turut membuka jalur penyebaran wabah mematikan antarspesies. Peneliti mengingatkan bahwa hewan hasil sitaan juga memiliki hak untuk mendapatkan skrining kesehatan secara rutin serta vaksinasi penyakit menular guna menekan angka persebaran virus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....