Mengapa Pola Tidur Berantakan Sulit Diperbaiki?

  • 31 Agt 2026 00:21 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID LHOKSEUMAWE — Tidur terlalu malam, bangun kesiangan, kemudian mencoba tidur lebih awal keesokan harinya, tetapi tetap sulit terlelap. Situasi seperti ini cukup sering dialami anak muda, terutama ketika aktivitas sekolah, kuliah, tugas, penggunaan gawai, dan kebiasaan begadang membuat jam tidur berubah-ubah. Ketika pola tersebut sudah berlangsung cukup lama, mengembalikannya ke jadwal yang teratur memang tidak selalu mudah.

Secara ilmiah, salah satu penyebabnya adalah ritme sirkadian, yaitu sistem biologis tubuh yang membantu mengatur kapan seseorang merasa mengantuk dan kapan merasa terjaga. Pada masa remaja, ritme ini secara alami cenderung bergeser lebih malam. Perubahan tersebut membuat sebagian remaja lebih sulit mengantuk pada malam hari dan lebih sulit bangun pagi. Selain faktor biologis, penggunaan perangkat elektronik pada malam hari, tuntutan belajar, aktivitas sosial, serta jadwal yang tidak konsisten juga dapat memperburuk pola tidur.

dr.Rivana menjelaskan, pola tidur yang berantakan bukan sekadar masalah “kurang disiplin”. Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kembali ritme tidur-bangun ketika jadwal sudah berubah. Karena itu, kebiasaan tidur dan bangun pada waktu yang relatif konsisten menjadi salah satu langkah penting. Untuk remaja usia 13 hingga 18 tahun, kebutuhan tidur yang direkomendasikan adalah sekitar 8 sampai 10 jam setiap hari. Kurang tidur secara terus-menerus dapat berdampak pada konsentrasi, suasana hati, perilaku, dan kemampuan belajar.

Kondisi tersebut juga dirasakan oleh anak muda. Salah seorang mahasiswa di Lhokseumawe Haikal, mengaku jadwal tidurnya sering berubah ketika tugas kuliah sedang menumpuk. “Kalau sudah terbiasa tidur malam, ketika mau tidur lebih cepat justru susah mengantuk. Kadang sudah berbaring, tetapi pikiran masih aktif dan akhirnya kembali membuka HP,” ujarnya. Kebiasaan menggunakan gawai pada malam hari memang termasuk salah satu faktor yang dapat mengganggu pola tidur remaja.

Hal serupa disampaikan Hafizh mahasiswa lainnya. Menurutnya, perbedaan jadwal antara hari kuliah dan akhir pekan juga membuat pola tidurnya semakin sulit teratur. “Kalau hari biasa harus bangun pagi, tapi saat libur bisa tidur dan bangun lebih siang. Setelah itu ketika masuk kuliah lagi, rasanya susah kembali ke jadwal sebelumnya,” katanya. Perubahan waktu tidur dan bangun yang terlalu jauh antara hari sekolah atau kuliah dengan akhir pekan memang dapat membuat ritme tidur semakin tidak teratur.

Karena itu, memperbaiki pola tidur sebaiknya dilakukan secara konsisten, bukan hanya satu atau dua malam. Menjaga waktu tidur dan bangun tetap teratur, mengurangi penggunaan perangkat elektronik menjelang tidur, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman dapat membantu membangun kembali kebiasaan tidur yang lebih baik. Jika kesulitan tidur berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya dibicarakan dengan orang tua atau tenaga kesehatan. Jadi, memperbaiki pola tidur memang membutuhkan waktu, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....