Triple Burden Gizi Tantang Indonesia Emas 2045

  • 23 Agt 2026 12:12 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 masih menghadapi tantangan besar di bidang kesehatan, salah satunya persoalan triple burden masalah gizi yang mencakup kekurangan gizi, gizi lebih atau obesitas, serta kekurangan zat gizi mikro seperti anemia.

Penelaah Kebijakan pada Bapelkes Dinkes Aceh, Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM.,Minggu, 23 Agustus 2026 mengatakan persoalan gizi tidak lagi sekadar berkaitan dengan kekurangan makanan. Kualitas konsumsi pangan juga menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas generasi masa depan.

Menurutnya, generasi yang diproyeksikan menjadi kekuatan utama Indonesia pada 2045 membutuhkan asupan gizi yang lebih dari sekadar pemenuhan kalori. Mereka membutuhkan protein, vitamin, mineral, serat dan berbagai zat gizi lainnya agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

“Generasi Emas 2045 membutuhkan generasi yang sehat, cerdas, produktif, berkarakter dan mampu bersaing secara global. Karena itu, persoalan gizi harus diselesaikan sejak sekarang,” ujarnya.

Ia menyebut perbaikan gizi harus dimulai sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), bahkan sebelum kehamilan. Kesehatan dan status gizi remaja putri perlu diperhatikan agar mereka memasuki usia pernikahan dalam kondisi sehat dan siap menjalani kehamilan.

Pada masa kehamilan, kecukupan gizi ibu, termasuk konsumsi protein hewani, perlu menjadi perhatian. Setelah kelahiran, bayi membutuhkan IMD, ASI eksklusif hingga enam bulan, dilanjutkan ASI sampai usia dua tahun dan pemberian MP-ASI berkualitas dengan memanfaatkan pangan lokal.

Selain asupan makanan, lingkungan juga berperan besar. Air yang tidak aman, sanitasi buruk dan perilaku hidup bersih yang belum optimal dapat memicu penyakit infeksi berulang. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu penyerapan zat gizi dan meningkatkan risiko masalah gizi pada anak.

Sri Mulyati mendorong pemanfaatan pangan lokal seperti ikan, telur, daging, kacang-kacangan, sayuran dan buah-buahan. Menurutnya, pangan lokal bukan hanya bagian dari kekayaan budaya, tetapi juga dapat menjadi kekuatan dalam membangun generasi yang sehat.

Ia menegaskan penanganan triple burden masalah gizi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. Pemerintah harus memastikan pangan bergizi tersedia dan terjangkau, sementara keluarga perlu memiliki pengetahuan dan pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak.

“Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud secara otomatis. Cita-cita itu harus diperjuangkan secara konsisten, dimulai dari memastikan anak-anak hari ini tumbuh sehat dan mendapatkan gizi optimal,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....