Doomscrolling dan Kebiasaan Mencari Berita Buruk

  • 21 Agt 2026 10:31 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Membuka media sosial untuk sekadar melihat kabar terbaru sering kali berakhir dengan membaca berita tentang kecelakaan, konflik, bencana, kriminalitas, atau berbagai peristiwa negatif lainnya. Anehnya, setelah menemukan satu berita buruk, kita justru terdorong untuk mencari informasi lain yang serupa. Kebiasaan terus menggulir layar untuk mengikuti kabar negatif inilah yang dikenal sebagai doomscrolling.

Fenomena ini tidak selalu terjadi karena seseorang sengaja ingin mencari hal-hal yang membuatnya cemas. Salah satu penyebabnya adalah rasa penasaran dan keinginan untuk memahami situasi yang dianggap mengancam. Ketika menemukan informasi negatif, seseorang bisa terdorong membaca komentar, mencari berita lanjutan, kemudian berpindah ke sumber lain untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Masalahnya, aliran informasi di internet hampir tidak memiliki batas, sehingga pencarian tersebut dapat berlangsung jauh lebih lama dari yang direncanakan.

Secara psikologis, kecenderungan ini berkaitan dengan negativity bias, yaitu kecenderungan manusia memberikan perhatian lebih besar pada informasi negatif dibandingkan informasi positif. Berita buruk dianggap lebih penting karena berpotensi memberikan informasi mengenai ancaman atau sesuatu yang perlu diwaspadai. Di lingkungan digital, mekanisme tersebut bertemu dengan algoritma yang terus menyajikan konten berdasarkan perilaku pengguna. Ketika seseorang sering membuka berita negatif, sistem rekomendasi dapat membuat konten serupa semakin mudah ditemukan.

Ada pula faktor uncertainty reduction, yaitu dorongan untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika terjadi sebuah peristiwa besar, seseorang mungkin terus mengikuti perkembangannya karena ingin mengetahui bagaimana situasi tersebut berakhir. Ironisnya, semakin banyak informasi yang dikonsumsi, belum tentu rasa cemas semakin berkurang. Justru, paparan berlebihan dapat membuat seseorang merasa kewalahan dan terus mencari pembaruan berikutnya.

Doomscrolling juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang kondisi dunia. Jika sebagian besar informasi yang dikonsumsi berasal dari peristiwa negatif, dunia dapat terlihat jauh lebih berbahaya dibandingkan kondisi sebenarnya. Bukan berarti berita buruk harus diabaikan, tetapi konsumsi informasi yang tidak seimbang dapat membuat perspektif menjadi terlalu fokus pada ancaman.

Bukan berarti mengikuti berita merupakan sesuatu yang buruk. Informasi tetap penting agar kita memahami apa yang terjadi di sekitar. Yang perlu diperhatikan adalah cara dan batasannya. Memilih sumber berita yang kredibel, menentukan waktu khusus untuk membaca berita, menghindari kebiasaan menggulir tanpa tujuan, serta memberikan jeda dari layar dapat membantu menjaga pola konsumsi informasi tetap sehat.

Fenomena doomscrolling menunjukkan bahwa di era ketika informasi tersedia tanpa batas, kemampuan untuk berhenti justru menjadi semakin penting. Kita tidak harus mengetahui setiap kabar yang muncul di internet. Mengetahui apa yang penting, memilih informasi yang relevan, lalu tahu kapan harus berhenti membacanya merupakan bagian dari literasi digital yang semakin dibutuhkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....