Nalor, Inovasi Kesehatan Adrina Dekatkan Layanan ke Warga

  • 19 Agt 2026 20:13 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe -Pengabdian panjang di dunia kesehatan kembali melahirkan karya yang membanggakan. Buku berjudul “Inovasi Tenaga Kesehatan Lorong (Nalor)” yang digagas Kepala UPTD Puskesmas Banda Sakti, Adrina Susanti, S.Kep., MKM, resmi memperoleh perlindungan Hak Cipta dari Kementerian Hukum Republik Indonesia.

Karya tersebut tercatat dalam Surat Pencatatan Ciptaan Nomor 001387253 tertanggal 30 Juli 2026, dengan Adrina Susanti sebagai pencipta sekaligus pemegang hak cipta. Pengakuan tersebut menjadi tonggak penting bagi inovasi pelayanan kesehatan yang selama ini dikembangkan untuk mendekatkan tenaga kesehatan dengan masyarakat.

Adrina mengaku terharu dan bahagia setelah menerima sertifikat pencatatan hak cipta tersebut. Baginya, pengakuan negara terhadap karya Nalor bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi menjadi penyemangat bagi tenaga kesehatan untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Alhamdulillah, saya sangat terharu dan bahagia. Akhirnya program buku Nalor ini resmi disahkan oleh negara. Harapan kami, petugas kesehatan, khususnya Petugas Penyelenggara Program (PPP) dan seluruh petugas kesehatan di Kota Lhokseumawe, dapat menjadikan ini sebagai semangat baru dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat,” ujar Adrina, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, lahirnya Nalor berangkat dari sebuah gagasan sederhana namun memiliki makna besar, yakni bagaimana pelayanan kesehatan tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, tetapi tenaga kesehatan ikut “turun ke lorong” dan mendatangi warga yang membutuhkan.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui pelayanan jemput bola dan pendekatan langsung dari rumah ke rumah. Dengan cara itu, masyarakat diharapkan semakin mudah memperoleh informasi, pemeriksaan, pendampingan, maupun pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya.

“Semoga dengan terbitnya hak cipta ini dapat menjadi motivasi bagi petugas medis dalam memberikan pelayanan jemput bola dan pendekatan pelayanan kesehatan langsung dari rumah ke rumah. Sehingga pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat dapat terjangkau, dirasakan manfaatnya, dan terlayani dengan baik hingga ke akar rumput masyarakat di seluruh wilayah Kota Lhokseumawe,” ungkapnya.

Berawal dari Niat Pengabdian

Di balik lahirnya Nalor terdapat perjalanan panjang pengabdian Adrina Susanti. Perempuan kelahiran Aceh Utara, 26 April 1976, itu mulai menapaki dunia pengabdian sebagai calon aparatur negara sejak 1 Juni 1999.

Sejak awal, ia menanamkan tekad bahwa pelayanan kesehatan harus benar-benar hadir di tengah masyarakat. Baginya, menjadi abdi negara bukan hanya tentang menjalankan tugas di balik meja, tetapi bagaimana kehadiran tenaga kesehatan dapat dirasakan langsung oleh warga.

Pada 7 Oktober 2005, Adrina dipercaya menjadi Kepala UPTD Puskesmas Banda Sakti. Amanah tersebut kemudian menjadi ruang baginya untuk terus mengembangkan berbagai upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Puluhan tahun berlalu, semangat itu tidak padam. Dengan pangkat terakhir Pembina Utama Madya, IV/c, ia terus mendorong lahirnya inovasi yang berangkat dari persoalan nyata di lapangan.

“Ketika niat itu mulia untuk masyarakat, maka yang dihasilkan pun akan menjadi baik,” demikian prinsip yang selama ini dipegangnya.

Prinsip tersebut pula yang menjadi roh dari Nalor. Inovasi itu tidak lahir semata dari teori, melainkan dari pengalaman panjang berhadapan langsung dengan masyarakat dan melihat kebutuhan pelayanan kesehatan di tingkat paling dasar.

Bukan Sekadar Buku

Bagi Adrina, buku Nalor bukan sekadar karya tulis yang kini mendapatkan pengakuan hak cipta. Lebih dari itu, Nalor menjadi simbol perjalanan pengabdian untuk memastikan pelayanan kesehatan mampu menjangkau setiap warga, termasuk mereka yang berada jauh dari akses pelayanan formal.

Ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi tenaga kesehatan lainnya untuk berani berinovasi dan menghadirkan pelayanan yang lebih humanis, responsif, serta menyentuh kebutuhan masyarakat.

Kini, di usia 50 tahun, Adrina terus melangkah bersama keluarga tercinta, suaminya Azhari dan kedua anaknya. Perjalanan panjangnya menunjukkan bahwa sebuah niat baik yang dirawat dengan konsistensi dapat tumbuh menjadi karya yang memberi manfaat luas.

Sertifikat hak cipta yang berlaku selama 50 tahun sejak pertama kali diumumkan itu menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari pengalaman dan pengabdian di lapangan dapat memperoleh pengakuan resmi negara.

Nalor diharapkan tidak berhenti sebagai karya milik UPTD Puskesmas Banda Sakti. Lebih jauh, inovasi tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi unit pelayanan kesehatan lainnya untuk terus menciptakan terobosan, sehingga pelayanan kesehatan benar-benar hadir di setiap lorong, setiap rumah, dan di tengah setiap warga yang membutuhkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....