YDUA Ajak Aceh Peduli Pejuang Talasemia Tersembunyi
- 08 Mei 2026 11:58 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Peringatan Hari Talasemia Internasional 2026 menjadi momentum penting bagi Yayasan Darah Untuk Aceh (YDUA) untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap para penyandang talasemia yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Mengusung tema global “Hidden No More: Finding the Undiagnosed, Supporting the Unseen”, YDUA menyoroti masih banyaknya penyintas talasemia di Aceh yang belum terdiagnosis dan belum mendapatkan dukungan memadai.
Momentum ini terasa semakin bermakna bagi YDUA yang baru saja memperingati hari jadinya ke-14 pada 24 April lalu. Sejak berdiri pada 2012, yayasan tersebut terus mendampingi anak-anak pejuang talasemia, memenuhi kebutuhan darah pasien, serta membangun gerakan kemanusiaan di Aceh dengan semangat “Darah Sehat untuk Semua”.
Ketua YDUA, Nurjannah Husien, mengatakan perjuangan melawan talasemia bukan hanya soal transfusi darah, tetapi juga tentang menghadirkan harapan bagi anak-anak pejuang talasemia dan keluarganya.
“Selama 14 tahun, kami belajar bahwa harapan bisa lahir dari kepedulian sederhana. Dari satu kantong darah, dari satu tangan yang membantu, hingga dari satu komunitas yang memilih untuk peduli,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis, 7 Mei 2026.
Aceh sendiri tercatat sebagai daerah dengan prevalensi carrier atau pembawa gen talasemia tertinggi di Indonesia, mencapai 13,4 persen dari total populasi. Angka tersebut jauh di atas rata-rata nasional yang berada pada kisaran 6 hingga 10 persen. Artinya, hampir satu dari tujuh warga Aceh membawa gen talasemia dan sebagian besar tidak mengetahuinya.
Menurut YDUA, kondisi tersebut diperparah oleh minimnya edukasi di tingkat masyarakat, keterbatasan akses pemeriksaan di daerah terpencil, serta stigma sosial yang masih kuat sehingga banyak keluarga enggan membuka kondisi anak mereka.
“Kami menyadari masih sangat banyak anak dan keluarga yang belum terdiagnosis serta belum terakses dengan pengetahuan tentang talasemia. Karena itu dibutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, media, komunitas hingga masyarakat luas,” tambah Nurjannah.
Di lapangan, tantangan yang dihadapi para penyandang talasemia sangat nyata. Banyak anak dengan talasemia mayor harus menjalani transfusi darah rutin setiap dua hingga empat minggu sepanjang hidupnya. Sebagian keluarga bahkan harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan satu kantong darah, sementara ketersediaan darah sehat dan layanan kesehatan masih menjadi persoalan bersama.
Dalam peringatan tahun ini, YDUA menyerukan lima agenda penting, yakni meningkatkan kesadaran masyarakat tentang talasemia, memperkuat donor darah sukarela, memperluas skrining dan deteksi dini terutama bagi calon pengantin, menghapus stigma terhadap penyintas, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
YDUA juga menyampaikan apresiasi kepada para pendonor darah sukarela yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan para pejuang talasemia. Penghargaan turut diberikan kepada PMI, tenaga medis, petugas donor darah, dan rumah sakit yang terus mendukung pelayanan bagi pasien talasemia di Aceh.
Kepada para penyintas dan keluarga yang berjuang dalam diam, YDUA menyampaikan pesan penuh semangat bahwa suara mereka sangat penting agar semakin banyak anak bisa terdiagnosis lebih awal dan memperoleh pelayanan yang layak.
“Tak Terlihat Bukan Berarti Tak Membutuhkan,” menjadi pesan utama yang digaungkan YDUA dalam peringatan Hari Talasemia Internasional 2026 tahun ini.
Peringatan Hari Talasemia Internasional 2026 di Aceh juga akan diisi dengan berbagai kegiatan edukasi publik, kampanye media sosial, donor darah, serta penguatan solidaritas masyarakat terhadap anak-anak pejuang talasemia. YDUA mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dan media untuk bersama-sama memastikan tidak ada lagi penyandang talasemia yang tersembunyi dan terlupakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....