Dinkes Aceh Utara: Penularan TB Tidak Mudah, Kunci Daya Tahan Tubuh dan Etika Batuk
- 09 Apr 2026 15:21 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Aceh Utara-Dinas Kesehatan Aceh Utara menegaskan bahwa penularan penyakit Tuberkulosis (TB) tidak terjadi secara mudah hanya karena bersentuhan dengan penderita. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh Utara, dr. Ferianto, menjelaskan bahwa penularan TB sangat dipengaruhi oleh durasi kontak dan kondisi daya tahan tubuh seseorang.
“Penularan itu biasanya terjadi jika ada kontak yang lama, bukan sekadar bersentuhan biasa. Selain itu, daya tahan tubuh juga sangat berpengaruh. Tidak semua anggota keluarga pasti tertular,” ujar dr. Ferianto. Saat dikonfrimasi RRI, Kamis 9 April 2026.
Ia menambahkan, keluarga penderita tetap dapat terhindar dari penularan apabila menjaga imunitas tubuh, menerapkan etika batuk, serta menggunakan masker. Selain itu, ventilasi udara yang baik dan asupan makanan bergizi, terutama protein, juga menjadi faktor penting dalam pencegahan.
Dinkes Aceh Utara juga secara aktif melakukan skrining terhadap keluarga dan delapan tetangga terdekat setiap kali ditemukan kasus TB baru. Langkah ini dilakukan untuk mendeteksi dini kemungkinan penyebaran penyakit di lingkungan sekitar.
“Begitu ada pasien TB, kita langsung lakukan screening ke keluarga dan tetangga terdekat. Karena bisa jadi pasien sudah lama terinfeksi, namun gejalanya baru muncul,” jelasnya.
Saat ini, Dinkes Aceh Utara memberi perhatian khusus pada kasus TB pada anak. Menurut dr. Ferianto, banyak kasus TB anak justru ditemukan di rumah sakit, bukan di puskesmas. Hal ini disebabkan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak dini di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Kita sering temukan kasus TB anak di rumah sakit. Padahal, jika batuk sudah lebih dari dua minggu, seharusnya segera diperiksa di puskesmas,” katanya.
Ia juga mengungkapkan kendala dalam proses diagnosis, terutama saat pasien kesulitan mengeluarkan dahak untuk pemeriksaan. Meski petugas puskesmas telah memberikan edukasi dan wadah penampung dahak, masih banyak pasien yang tidak kembali untuk pemeriksaan lanjutan.
Akibatnya, tidak sedikit kasus TB baru terdeteksi saat kondisi sudah cukup parah. “Padahal kalau lebih cepat ditemukan, pengobatan akan lebih mudah dan peluang sembuh lebih besar,” tambahnya.
Dalam upaya penanganan, Dinkes Aceh Utara saat ini memfokuskan perhatian pada kelompok masyarakat dengan tingkat interaksi tinggi, seperti di wilayah padat penduduk. Hal ini dilakukan untuk memutus rantai penularan secara lebih efektif.
Di akhir keterangannya, dr. Ferianto mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat dan tidak ragu memeriksakan diri apabila mengalami gejala TB, terutama batuk selama dua minggu atau lebih.
“Kami mengajak masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas jika mengalami batuk lebih dari dua minggu. Puskesmas siap memberikan pelayanan terbaik untuk deteksi dan penanganan TB,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....