Ahli Gizi Ingatkan Masyarakat Pilih Takjil Sehat
- 01 Mar 2026 22:19 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Aceh Utara-Ahli Gizi RSU Cut Meutia Aceh Utara, Sri Mulyati Muktar, mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dalam memilih makanan dan minuman selama bulan Ramadan. Pasalnya, manfaat puasa bagi kesehatan kerap tidak dirasakan secara optimal akibat pola konsumsi yang kurang tepat saat berbuka.
Menurut Sri, secara medis puasa memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Salah satunya adalah membantu proses detoksifikasi alami, di mana tubuh membuang racun-racun yang selama ini masuk melalui makanan.
“Sejatinya puasa memang memiliki sejumlah manfaat untuk kesehatan. Di beberapa negara, puasa bahkan dijadikan terapi untuk membantu penyembuhan penyakit seperti diabetes. Saat berpuasa, kadar gula darah bisa menurun, tekanan darah lebih stabil, begitu juga kolesterol,” ujarnya. Minggu 1 Maret 2026.
Namun, kondisi yang terjadi di lapangan justru sering berbanding terbalik. Sri mengungkapkan, tidak sedikit pasien yang datang ke rumah sakit selama Ramadan dengan keluhan gula darah meningkat, tekanan darah naik, kolesterol tinggi, hingga berat badan bertambah.
“Artinya manfaat puasa itu seperti terbalik. Harusnya ini menjadi momen tubuh kita melakukan detoksifikasi, membuang racun yang selama ini masuk, bukan malah memasukkan racun baru dari makanan yang tidak sehat,” jelasnya.
Sri menyoroti kebiasaan masyarakat yang cenderung memilih jalan pintas saat berbuka puasa. Banyak yang lebih memilih membeli makanan siap saji atau takjil di luar dibandingkan memasak sendiri di rumah. Padahal, tidak semua jajanan yang dijual bebas terjamin keamanannya.
Ia menegaskan, membeli takjil bukanlah hal yang dilarang, namun masyarakat harus selektif dan memastikan makanan yang dikonsumsi aman bagi kesehatan.
“Memilih takjil boleh saja, tapi pilihlah yang aman dan tidak mengganggu kesehatan tubuh. Kita perlu belajar bagaimana memilih makanan sehat selama bulan puasa,” katanya.
Terkait pengawasan makanan dan minuman takjil yang diperjualbelikan, Sri menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan kewenangan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pengawasan biasanya difokuskan pada kandungan zat berbahaya yang kerap ditemukan dalam jajanan.
Beberapa zat yang perlu diwaspadai antara lain boraks yang digunakan sebagai pengawet, formalin, serta rodamin, yaitu zat pewarna tekstil yang tidak diperuntukkan bagi makanan namun kerap disalahgunakan karena menghasilkan warna mencolok.
“Kadang-kadang pewarna yang digunakan itu pewarna tekstil, bukan pewarna makanan yang seharusnya aman untuk dikonsumsi. Ini tentu sangat berbahaya bagi kesehatan,” tegas Sri.
Ia pun mengajak masyarakat untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki pola makan, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga kualitas asupan agar manfaat kesehatan dari puasa benar-benar dirasakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....