Haikal Menatap Mimpi Menjadi Guru
- 15 Sep 2026 19:41 WIB
- Lhokseumawe
RRI CO.ID,Aceh Timur - Haikal ingin menjadi guru agama. Ia ingin mengajar di kampung sendiri.
Keinginan itu disampaikan Haikal ketika ditanya tentang cita-citanya. Saat ini, ia masih duduk di kelas VII-3 MTsN 2 Aceh Timur.
Di madrasah, Haikal mengikuti pelajaran bersama teman-temannya. Ia membaca, menulis, menyimak penjelasan guru, dan berinteraksi dengan siswa lain.
Tidak banyak yang berbeda dari aktivitas belajar Haikal dengan siswa lainnya. Hanya saja, sejak lahir, ia tidak memiliki kedua tangan.
Haikal lahir pada 12 Agustus 2013. Ia merupakan anak Indra Purnama dan almarhumah Nuraida. Ibunya meninggal ketika Haikal duduk di kelas V sekolah dasar.
Setelah itu, Haikal tinggal bersama ayah dan ibu sambungnya di Dusun Setia, Gampong Keude Blang, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Ayahnya berjualan di warung desa, sedangkan ibu sambungnya mengurus rumah dan keluarga.
“Ia tidak pernah membuat kesalahan atau menyusahkan orang tua di rumah,” tutur ibu sambung Haikal.
Hari Haikal dimulai sekitar pukul 05.30 WIB. Ia bangun untuk salat Subuh, kemudian bersiap ke madrasah. Sekitar pukul 07.00 WIB, ia berangkat bersama ibu sambungnya yang juga mengantar adiknya.
Di luar jam sekolah, Haikal punya sejumlah kegiatan. Ia memelihara ayam, membantu keluarga, bermain bersama teman, dan merakit sepeda.
Sepeda menjadi salah satu benda yang menarik perhatiannya. Haikal senang merakitnya. Sesekali ia mendapat bantuan dari teman, tetapi ia juga mencoba mengerjakannya sendiri.
“Saya sangat suka merakit sepeda,” kata Haikal.
Kebiasaan itu juga membuat Haikal punya aktivitas bersama teman-temannya di luar kelas.
Khalis Multazam, teman sekelas Haikal, mengatakan Haikal merupakan anak yang baik dan suka bercanda. Menurut Khalis, Haikal tidak pernah membuat masalah.
Ketika ditanya apakah pernah diejek atau diperlakukan tidak baik oleh teman karena kondisi fisiknya, Haikal menjawab tidak. Teman-temannya justru membantu ketika ia membutuhkan pertolongan.
Nuraini SPdI MPd, Ketua Forum Pendidik Madrasah Inklusi (FPMI) Aceh Timur sekaligus Kepala MTsN 2 Aceh Timur, mengatakan Haikal merupakan siswa yang rajin.
Nuraini termasuk yang mendampingi tim Humas Kemenag Aceh Timur ketika mengunjungi Haikal bersama Bunda Inklusi Kemenag Aceh Timur Ny Anisah Saiful Bahri.
Bagi madrasah, keberadaan Haikal menjadi bagian dari praktik pendidikan inklusif. Ia belajar bersama siswa lainnya dan mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.
Persoalan pendidikan inklusif di madrasah kemudian tidak hanya berkaitan dengan Haikal.
Kemenag Aceh kini memperkuat sistem dukungan bagi madrasah inklusi melalui pembentukan Forum Pendidik Madrasah Inklusif dan Unit Layanan Disabilitas di berbagai daerah.
Kakanwil Kemenag Aceh Azhari mengatakan Kemenag tidak memiliki sekolah khusus seperti Sekolah Luar Biasa (SLB). Karena itu, penguatan layanan pendidikan inklusif di madrasah menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Menurut Azhari, pendidikan inklusif juga tidak terbatas pada peserta didik dengan disabilitas fisik.
“Inklusi bukan hanya tentang anak yang memiliki kekurangan, tetapi juga anak-anak dengan kemampuan lebih,” ujarnya. “Misalnya, ada siswa yang sangat pintar dan menyelesaikan tugas lebih cepat dari teman-temannya, lalu mengganggu proses belajar. Kondisi seperti ini juga memerlukan pendekatan khusus.”
Karena itu, kata Azhari, guru menjadi ujung tombak yang perlu memahami karakteristik setiap peserta didik. Pemahaman tersebut dibutuhkan agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif dan adil.
Azhari berharap madrasah di seluruh Aceh dapat menjadi ruang belajar yang ramah bagi semua anak tanpa memandang kemampuan, latar belakang, maupun kondisi fisiknya.
"Madrasah harus menjadi tempat yang aman dan adil bagi setiap peserta didik. Di sinilah nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman dapat tumbuh dengan baik,” katanya.
Sementara itu, cita-cita Haikal tetap sederhana. Ia ingin menjadi guru agama dan mengajar di kampungnya sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....