Sekolah Ramah Jadi Prioritas Tahun Ajaran Baru
- 10 Jun 2026 16:03 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Menyambut tahun ajaran 2026/2027, seluruh satuan pendidikan di Kota Lhokseumawe diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang ramah, aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan maupun diskriminasi.
Upaya tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Lhokseumawe, M. Sahrum, S.Pd., mengatakan bahwa sekolah memiliki sejumlah langkah strategis yang harus dilakukan untuk memastikan peserta didik baru dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan sekolah.
| Baca juga: Ratusan Siswa Aceh Utara Terima Bantuan PIP |
Menurutnya, langkah pertama adalah melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang edukatif, menyenangkan, dan bebas dari praktik perundungan. Melalui kegiatan tersebut, siswa baru dapat mengenal lingkungan sekolah, guru, serta teman-teman mereka dengan lebih baik.
“Sekolah juga harus mensosialisasikan tata tertib, budaya sekolah, dan nilai-nilai karakter kepada seluruh siswa agar tercipta suasana belajar yang tertib, disiplin, dan saling menghormati,” ujarnya.
Selain itu, sekolah diminta menyediakan layanan bimbingan dan konseling guna membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan baru serta memberikan pendampingan apabila menghadapi kendala belajar maupun persoalan pribadi.
Aspek keamanan juga menjadi perhatian utama. Pihak sekolah diminta meningkatkan pengawasan melalui keterlibatan guru, wali kelas, dan petugas keamanan guna mencegah terjadinya kekerasan, perundungan, maupun tindakan yang dapat mengganggu kenyamanan belajar siswa.
Tidak hanya itu, sekolah juga perlu memastikan kebersihan dan kesehatan lingkungan dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, seperti ruang kelas yang bersih, toilet yang layak, tempat cuci tangan, serta lingkungan sekolah yang sehat dan hijau.
“Kerja sama antara sekolah, orang tua, dan murid juga sangat penting untuk mendukung proses adaptasi dan perkembangan peserta didik baru,” tambahnya.
M. Sahrum menjelaskan bahwa keberhasilan mewujudkan budaya sekolah yang ramah tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah semata, tetapi membutuhkan peran aktif guru, orang tua, dan siswa.
Guru, kata dia, memiliki tugas memberikan pendidikan karakter, menanamkan nilai empati dan toleransi, membangun komunikasi yang baik dengan orang tua, serta menjadi teladan dalam bersikap adil dan menghargai perbedaan. Guru juga harus menciptakan suasana belajar yang inklusif dan menindaklanjuti setiap indikasi perundungan maupun diskriminasi yang terjadi di sekolah.
Sementara itu, orang tua berperan sebagai mitra sekolah dalam mendampingi anak. Orang tua diharapkan mampu memberikan dukungan emosional, menjadi tempat bercerita yang nyaman bagi anak, serta mengawasi pergaulan dan penggunaan media sosial.
“Pengawasan terhadap penggunaan gadget dan media sosial menjadi hal yang penting saat ini. Ini juga sejalan dengan implementasi Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang menjadi program prioritas pemerintah,” jelasnya.
Di sisi lain, siswa juga didorong untuk membangun karakter positif, menghormati teman, menjunjung tinggi toleransi, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi seluruh warga sekolah.
Dengan sinergi antara sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik, diharapkan seluruh siswa baru dapat menjalani proses belajar dengan aman, nyaman, serta merasa betah di lingkungan sekolah yang baru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....