Milad Samudera Pasai ke-800, Ustadz Habibi Ingatkan Wasiat Malikussaleh
- 10 Sep 2026 20:24 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Aceh Utara - Ribuan warga dari berbagai wilayah di Aceh Utara memadati Pelataran Kantor Bupati Aceh Utara di Landing, Kecamatan Lhoksukon, Rabu malam 9 September 2026, Mereka hadir untuk mengikuti tausiah yang disampaikan Ustaz Habibi An-Nawawi, Lc., M.Dipl dalam rangkaian peringatan Milad Samudera Pasai ke-800.
Sejak sore hari, masyarakat mulai berdatangan ke lokasi kegiatan. Area utama acara hingga tenda-tenda yang disiapkan panitia dipenuhi jamaah yang ingin mendengarkan ceramah agama bertema sejarah, peradaban Islam, dan kepemimpinan yang diwariskan Kesultanan Samudera Pasai.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, SE., MM atau yang akrab disapa Ayah Wa, didampingi Sekretaris Daerah Aceh Utara Dayan Albar, S.Sos., MAP, unsur Forkopimda, para ulama, tokoh adat, serta sejumlah pejabat daerah.
Dalam tausiahnya, Ustaz Habibi menyampaikan pesan penting mengenai persatuan dan keadilan yang diwariskan Sultan Malikussaleh sebagai pendiri Kerajaan Samudera Pasai. Menurutnya, salah satu wasiat terbesar yang harus dijaga oleh para pemimpin adalah menghindari perebutan kekuasaan yang dapat memecah belah masyarakat.
Raja yang adil adalah amanah dari Raja Malikussaleh. Para pemimpin, pejabat, dan tokoh adat tidak boleh membiarkan terjadinya pertengkaran dan perpecahan. Jangan sampai para pemimpin saling berebut kekuasaan sehingga merugikan rakyat," ujar Ustaz Habibi di hadapan ribuan jamaah.
Ia menegaskan, pemimpin harus berlaku adil kepada seluruh rakyat tanpa membedakan golongan maupun kelompok tertentu. Di sisi lain, masyarakat juga harus menjaga loyalitas kepada pemimpin selama berada di jalan yang benar.
Dalam kesempatan itu, Ustaz Habibi mengaku takjub melihat kemegahan peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 yang digelar Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu perhelatan terbesar yang pernah digelar untuk mengangkat kembali sejarah kejayaan Islam di Nusantara.
"Ini pertama kalinya dalam sejarah Aceh Utara menggelar acara semegah ini, dan ini berkat Bupati Ayah Wa," katanya disambut tepuk tangan jamaah.
Ia menilai keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga kemampuannya mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mencintai sejarah, menjaga syariat Islam, dan membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai agama.
Ustaz Habibi juga mengingatkan bahwa Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara yang memiliki peran besar dalam penyebaran syiar Islam. Karena itu, peringatan 800 tahun Samudera Pasai harus menjadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat keilmuan, akhlak, dan persatuan umat.
"Kalau dahulu Samudera Pasai mampu melahirkan orang-orang besar dan menjadi pusat ilmu serta peradaban, maka hari ini tugas kita adalah melanjutkan warisan itu. Jangan hanya bangga dengan sejarah, tetapi mari kita hidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu," pesannya.
Dalam tausiah yang berlangsung lebih dari satu jam itu, Ustaz Habibi turut mengisahkan perjalanan penjelajah Muslim terkenal, Ibnu Battutah, saat berkunjung ke Samudera Pasai pada abad ke-14. Kisah tersebut menggambarkan tingginya adab masyarakat Pasai dalam memuliakan tamu serta kedekatan para sultan dengan ilmu pengetahuan dan kehidupan keagamaan.
Ia menceritakan bagaimana Ibnu Battutah disambut dengan penuh penghormatan sebelum akhirnya bertemu Sultan Al-Malik Al-Zahir. Bahkan, sang sultan disebut berjalan kaki menuju masjid untuk menunaikan Salat Jumat dan aktif mengikuti majelis ilmu bersama para ulama.
Menurut Ustaz Habibi, sejarah tersebut membuktikan bahwa Samudera Pasai bukan hanya kerajaan yang kuat secara politik dan ekonomi, tetapi juga pusat peradaban Islam yang menjunjung tinggi ilmu, akhlak, dan tata krama.
"Jangan kita katakan bahwa kita bangsa yang tidak beradab. Jangan kita katakan bahwa kita tidak punya sejarah dan tidak punya peradaban. Kita mengerti tata krama, kita mengerti sopan santun, kita mengerti bagaimana menyambut dan memuliakan tamu," tegasnya.
Selain mengangkat kisah Ibnu Battutah, Ustaz Habibi juga menyinggung sosok Fatahillah yang memiliki keterkaitan dengan Samudera Pasai dan berperan penting dalam sejarah perjuangan Islam di tanah Jawa. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa pengaruh Samudera Pasai telah menjangkau berbagai wilayah Nusantara.
Tausiah ditutup dengan doa bersama dan ajakan untuk menjaga persatuan, memperkuat syariat Islam, serta melestarikan warisan sejarah yang telah diwariskan para pendahulu. Ribuan jamaah tampak khusyuk mengikuti rangkaian acara hingga selesai.
Berdasarkan pantauan di lokasi, tingginya antusiasme masyarakat menyebabkan arus lalu lintas di ruas jalan nasional sekitar kawasan Landing mengalami kepadatan. Meski demikian, kegiatan berlangsung tertib dan lancar dengan pengamanan dari aparat gabungan.
Peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 tahun ini mengusung tema "Tajaga Adat, Tapeukong Syariat", sebagai refleksi untuk terus menjaga warisan sejarah, adat istiadat, serta nilai-nilai Islam yang telah menjadi identitas masyarakat Aceh sejak masa Kesultanan Samudera Pasai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....