Aceh Utara Bawa Konsep Tata Kota Singapura untuk Huntap Sawang

  • 09 Agt 2026 21:26 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyiapkan tindak lanjut hasil pelatihan Urban Planning and Sustainability di Singapura. Salah satu rencana yang dibahas adalah menerapkan konsep perencanaan tata kota berkelanjutan di kawasan hunian tetap (huntap) Kecamatan Sawang.

Pelatihan yang berlangsung pada 3-7 Agustus 2026 tersebut menjadi sarana bagi peserta dari Aceh untuk mempelajari tata kelola perkotaan, pelayanan publik, serta perencanaan pembangunan berkelanjutan yang diterapkan Pemerintah Singapura.

Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Utara, Dr. Fauzan, S.STP., MPA, yang mewakili Bupati Aceh Utara H. Ismail A Jalil, SE., MM, mengatakan pengalaman dari Singapura memberikan perspektif penting mengenai perencanaan pembangunan jangka panjang.

“Yang kita pelajari di Singapura memberikan banyak perspektif tentang pentingnya perencanaan yang terintegrasi, konsisten, dan berorientasi jangka panjang. Tentunya pengalaman tersebut perlu kita adaptasi sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan Aceh Utara,” ujar Fauzan dalam keterangannya, Minggu, 9 Agustus/2026.

Menurut Fauzan, Pemerintah Singapura menunjukkan bagaimana keterbatasan wilayah dan berbagai tantangan geografis dapat dihadapi melalui perencanaan yang matang dan konsisten.

Singapura, kata dia, mengembangkan tata kelola perkotaan dengan dukungan berbagai fasilitas publik, mulai dari pendidikan, perumahan, infrastruktur hingga pelayanan masyarakat.

“Yang menjadi pembelajaran penting adalah bagaimana perencanaan jangka panjang benar-benar dijalankan secara konsisten. Setiap pembangunan dipersiapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat saat ini sekaligus tantangan yang akan dihadapi pada masa mendatang,” jelasnya.

Salah satu prinsip yang dipelajari dalam pelatihan tersebut sejalan dengan pemikiran mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew. “If there was one formula for our success, it was that we were constantly studying how to make things work, or how to make them work better.”

Fauzan mengatakan prinsip tersebut menunjukkan pentingnya budaya belajar dan evaluasi secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pemerintahan dan pembangunan.

Dalam rangkaian pelatihan, peserta dari Aceh juga berdiskusi dengan Kepala BPSDM Aceh Marthunis, Tenaga Ahli Bappeda Aceh Ir. T.A. Dadek, serta peserta dari berbagai kabupaten/kota se-Aceh.

Pembahasan diarahkan pada kemungkinan mengadaptasi pengetahuan yang diperoleh dari Singapura ke dalam konteks pembangunan Aceh, khususnya terkait perencanaan tata ruang dan pembangunan kawasan berkelanjutan. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah kawasan huntap di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.

“Kita berharap kawasan huntap di Kecamatan Sawang dapat menjadi salah satu lokasi yang dikembangkan dengan pendekatan perencanaan kawasan secara terintegrasi. Aspek tata ruang, infrastruktur, pelayanan dasar, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat perlu direncanakan secara bersama-sama,” kata Fauzan.

Menurutnya, kawasan huntap Sawang merupakan wilayah terdampak bencana yang membutuhkan penataan dan pembangunan secara terpadu.

Karena itu, konsep perencanaan berkelanjutan di kawasan tersebut diharapkan dapat diintegrasikan dengan berbagai program Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Pemerintah Aceh, maupun Pemerintah Pusat.

Fauzan juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Direktur Pelaksana Management Development Institute of Singapore University (MSU), Dr. Markus Karner, atas kesempatan dan fasilitasi sehingga Kabupaten Aceh Utara dapat mengikuti pelatihan tersebut.

“Tindak lanjut ini merupakan bagian dari upaya memanfaatkan hasil sharing knowledge selama pelatihan di Singapura untuk memperkuat kualitas perencanaan pembangunan di Kabupaten Aceh Utara,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara juga mengharapkan dukungan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menindaklanjuti hasil pelatihan tersebut. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar konsep perencanaan yang dipelajari dapat disesuaikan dengan kondisi Aceh Utara dan diterjemahkan ke dalam kebijakan, program, serta kegiatan pembangunan.

“Harapannya, pembelajaran ini bisa memberikan manfaat nyata. Kita ingin pembangunan di Aceh Utara semakin tertata, terintegrasi, berkelanjutan, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” pungkas Fauzan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....