Kenapa “POV” Dipakai di Mana-Mana?
- 28 Sep 2026 13:35 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Coba buka TikTok, Instagram Reels, atau bahkan caption teman. Ada kemungkinan kita akan menemukan kalimat seperti “POV: kamu akhirnya dapat tiket konser”, “POV: first day kerja setelah libur panjang”, atau “POV: kamu bilang cuma mau lihat-lihat”. Lucunya, sering kali videonya bahkan tidak benar-benar memperlihatkan sudut pandang orang pertama. Kata “POV” akhirnya terasa seperti format pembuka untuk hampir segala jenis cerita di internet. Padahal, istilah ini sebenarnya punya sejarah yang jauh lebih serius daripada sekadar tulisan tiga huruf di atas video.
POV merupakan singkatan dari point of view, atau sudut pandang. Dalam sinematografi, POV shot berarti kamera ditempatkan seolah-olah berada di posisi mata karakter, sehingga penonton melihat apa yang karakter tersebut lihat. StudioBinder menjelaskan bahwa teknik ini digunakan untuk membawa penonton masuk ke perspektif karakter dan membuat pengalaman visual terasa lebih personal. Dalam film, POV bahkan biasanya menjadi bagian dari rangkaian adegan yang memperlihatkan karakter melihat sesuatu, kemudian penonton diberi pandangan dari posisi karakter tersebut.
Dari sinilah menariknya perubahan makna di internet. Ketika masuk ke media sosial, POV tidak lagi harus berarti kamera benar-benar menggantikan mata seseorang. Later menjelaskan bahwa POV video di media sosial digunakan untuk memberikan kesan bahwa penonton sedang berada di dalam pengalaman yang ditampilkan. Jadi ketika seseorang menulis “POV: kamu baru pertama kali masuk konser”, video tersebut sedang mengajak penonton membayangkan dirinya sebagai orang yang mengalami situasi itu, meskipun kamera sebenarnya hanya merekam dari sudut tertentu.
Format ini juga cocok banget dengan cara internet bercerita. Dibandingkan harus menjelaskan panjang lebar, kreator cukup menulis “POV: kamu ketemu crush setelah bilang sudah move on”, lalu penonton langsung memahami konteks yang harus mereka bayangkan. Ada semacam kontrak kecil antara kreator dan penonton: “Anggap saja kamu ada di situ.” Karena formatnya sederhana dan fleksibel, POV bisa dipakai untuk komedi, sketsa, cerita romantis, pengalaman sehari-hari, sampai konten brand. Bahkan dalam tren TikTok 2026 yang dicatat Later, format seperti “Me and my POV” dan “What’s in my bag, POV edition” masih digunakan karena mudah diadaptasi ke berbagai jenis konten.
| Baca juga: Kenapa Semua Hal Sekarang Disebut “Coded”? |
Menariknya, penggunaan POV di internet juga membuat istilah tersebut sedikit bergeser dari arti teknisnya. Kalau mengikuti definisi sinematografi secara ketat, video seseorang merekam dirinya sendiri sambil berjalan tentu belum tentu merupakan POV shot. Tetapi dalam bahasa internet, “POV” sudah berfungsi seperti penanda skenario. Ia memberi tahu penonton perspektif atau peran apa yang harus mereka bayangkan sebelum cerita dimulai. Dengan kata lain, POV di media sosial bukan cuma menjelaskan posisi kamera, tetapi juga mengatur posisi penonton di dalam cerita.
Makanya kita sekarang bisa menemukan POV untuk hal-hal yang sebenarnya sangat biasa. “POV: kamu cuma mau beli satu barang di minimarket”, “POV: temanmu bilang OTW padahal baru mandi”, sampai “POV: kamu buka galeri setelah konser.” Tidak semuanya membutuhkan kamera yang benar-benar berada di posisi mata karakter. Yang penting adalah pengalaman yang ingin dibuat terasa seolah-olah dialami langsung oleh penonton. Format ini pada akhirnya menjadi salah satu contoh bagaimana internet mengambil istilah dari bidang tertentu, menyederhanakannya, lalu memberinya fungsi baru yang lebih luas.
Dan mungkin itu alasan kenapa POV terasa cocok banget dengan budaya internet sekarang. Media sosial bukan cuma tempat orang menunjukkan apa yang mereka lakukan, tetapi juga tempat orang mengajak orang lain merasakan versi cerita mereka. Satu kata bisa mengubah video biasa menjadi skenario yang membuat kita berpikir, “Oh, gue banget.” Dari istilah sinematografi yang membantu penonton melihat melalui mata karakter, POV akhirnya berubah menjadi semacam pintu masuk ke sebuah cerita. Tinggal tiga huruf, lalu otak kita otomatis tahu: oke, sekarang gue harus membayangkan ada di situ. Temukan lebih banyak cerita menarik tentang bahasa internet, budaya digital, dan hal-hal yang ternyata dekat dengan keseharian hanya di RRI Lhokseumawe.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....