Nggak Semua Konten Harus Clickbait

  • 17 Sep 2026 20:35 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah merasa semua konten di internet sekarang harus dibuat heboh supaya orang mau berhenti scroll? Judul dibuat setengah menggantung, thumbnail diberi ekspresi kaget, lalu caption dibuka dengan kalimat seperti “Kamu nggak akan percaya...” Padahal tidak semua konten sedang membutuhkan kejutan. Ada konten yang memang lebih menarik kalau membuat orang penasaran, tetapi ada juga konten yang justru akan lebih berguna kalau sejak awal mengatakan dengan jelas apa yang akan dibahas. Dalam dunia konten digital, tantangannya bukan memilih antara clickbait atau judul biasa, melainkan mengetahui kapan harus memancing rasa penasaran dan kapan harus memberikan informasi secara langsung.

Untuk konten hiburan, pop culture, tren internet, atau fenomena unik, rasa penasaran memang bisa menjadi bagian penting dari daya tariknya. Judul seperti “Kenapa Semua Hal Sekarang Disebut ‘Coded’?” tidak langsung memberikan seluruh jawabannya, tetapi memberi alasan bagi orang yang belum memahami istilah tersebut untuk mengeklik. Begitu juga konten seperti “Ternyata Ada Alasan di Balik Tren Ini” atau “Kenapa Lagu Lama Ini Viral Lagi?” yang memang mengandalkan keingintahuan sebagai pintu masuk. Selama isi kontennya benar-benar menjawab pertanyaan yang dijanjikan, membuat penasaran tidak otomatis berarti clickbait yang buruk.

Namun, pendekatan tersebut tidak selalu cocok untuk konten yang sifatnya informasi, tutorial, pengumuman, atau kebutuhan pencarian. Bayangkan seseorang mencari cara membuat latte di rumah, jadwal sebuah acara, atau informasi mengenai pendaftaran. Mereka kemungkinan tidak membutuhkan judul seperti “Ternyata Selama Ini Kamu Salah!” Mereka membutuhkan jawaban yang bisa dikenali dalam sekali lihat. Google sendiri merekomendasikan judul halaman yang unik, jelas, ringkas, dan akurat menggambarkan isi karena judul merupakan salah satu informasi utama yang membantu pengguna menentukan hasil pencarian mana yang relevan.

Hal yang sama berlaku di platform video. YouTube sendiri membedakan antara searchable titles, yaitu judul yang dengan jelas menunjukkan apa yang akan ditemukan penonton, dan intriguing titles, yaitu judul yang menggunakan rasa penasaran untuk menarik orang yang mungkin belum secara spesifik mencari topik tersebut. YouTube menyarankan kreator mempertimbangkan siapa audiensnya dan dari mana mereka menemukan konten ketika memilih pendekatan tersebut. Yang tetap berlaku untuk keduanya adalah satu aturan penting: judul dan thumbnail harus secara akurat mewakili isi video.

Karena itu, sebuah konten sebaiknya dimulai dari pertanyaan “Orang datang ke sini untuk apa?” Kalau mereka sedang mencari jawaban, gunakan judul yang langsung menyebut topiknya. “5 Cara Membuat Layout Canva Lebih Rapi” misalnya, lebih membantu daripada “Desainmu Selama Ini Salah?” karena pembaca langsung tahu manfaat yang akan mereka dapatkan. Sebaliknya, kalau kontennya membahas fenomena yang ingin dikenalkan kepada orang yang bahkan belum tahu topiknya, sedikit misteri bisa menjadi nilai tambah. Jadi, hook tidak harus selalu berupa judul yang heboh. Kadang hook terbaik justru adalah informasi yang sangat relevan dengan kebutuhan orang.

Ada pula konten yang membutuhkan kombinasi keduanya. Carousel edukasi bisa menggunakan pertanyaan atau pernyataan menarik di slide pertama, tetapi slide berikutnya harus segera menjelaskan jawabannya. Reels bisa membuka dengan kalimat yang membuat orang berhenti scroll, kemudian langsung memberikan konteks. Podcast bisa memakai judul episode yang menarik, tetapi tetap mencantumkan nama tamu atau topik utama supaya mudah dikenali. Bahkan thumbnail YouTube bisa dibuat lebih ekspresif sementara judulnya tetap deskriptif. YouTube sendiri menyarankan kreator menggabungkan judul dan thumbnail untuk menciptakan ketertarikan, sambil tetap menjaga agar keduanya merepresentasikan isi secara akurat.

Yang perlu dihindari adalah ketika rasa penasaran berubah menjadi janji palsu. Judul “Ada yang Berubah dari Grup Ini” akan menjadi masalah kalau isi artikelnya ternyata tidak membahas perubahan apa pun yang signifikan. Begitu pula thumbnail yang memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah muncul dalam video hanya untuk mendapatkan klik. YouTube secara eksplisit mengategorikan judul atau thumbnail yang menyesatkan dan tidak memberikan apa yang dijanjikan sebagai praktik clickbait yang bermasalah. Bahkan YouTube mencatat bahwa clickbait dapat menghasilkan CTR tinggi tetapi durasi menonton rendah, sehingga bukan berarti semakin banyak klik selalu berarti kontennya bekerja dengan baik.

Jadi, konten yang bagus bukan selalu konten yang paling bikin penasaran. Berita membutuhkan kejelasan, tutorial membutuhkan manfaat yang langsung terbaca, konten pencarian membutuhkan istilah yang relevan, sementara hiburan dan tren bisa bermain lebih jauh dengan curiosity. Satu konten bisa membutuhkan hook yang kuat, konten lainnya justru membutuhkan judul yang sederhana karena orang sudah tahu apa yang mereka cari. Pada akhirnya, tugas seorang pembuat konten bukan membuat semua hal terdengar heboh, tetapi memilih cara berkomunikasi yang paling tepat untuk tujuan, platform, dan audiensnya. Karena kadang-kadang, judul terbaik bukan yang membuat orang berkata “Wah, apaan tuh?”, tetapi yang membuat orang berkata, “Nah, ini yang gue cari.” Temukan lebih banyak cerita tentang dunia digital, desain, tren, dan kreativitas hanya di RRI Lhokseumawe.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....