Nama Brand, Keren Dulu atau Dicari Dulu? Kupas Tuntas SEO vs Branding
- 16 Sep 2026 12:57 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah menemukan nama brand yang begitu melihat logonya langsung terasa keren, tetapi begitu mendengar namanya malah bingung harus mengetik apa di Google? Ada yang sengaja menggunakan huruf kecil, angka, tanda baca, ejaan yang dimodifikasi, bahkan menghilangkan beberapa huruf supaya terlihat lebih khas. Dalam dunia K-pop, misalnya, permainan penulisan nama sudah menjadi bagian dari identitas visual sejumlah grup. Sekilas memang menarik, tetapi muncul pertanyaan yang cukup penting untuk dunia digital: kalau nama dibuat terlalu unik, apakah orang masih bisa menemukannya dengan mudah?
Keinginan untuk membuat nama yang berbeda sebenarnya masuk akal. Nama yang distinctive dapat membantu sebuah brand membangun identitas dan membuatnya lebih mudah dibedakan dari yang lain. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Research pada 2025 bahkan secara khusus membahas penggunaan ejaan nama brand yang sengaja dimodifikasi. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan ejaan tertentu memang dapat memberikan keuntungan seperti keunikan dan memorability, meskipun efeknya bergantung pada seberapa mudah nama tersebut diproses dan dipahami konsumen. Jadi, salah eja yang disengaja tidak selalu buruk, tetapi juga bukan berarti semakin aneh otomatis semakin efektif.
Masalahnya muncul ketika seseorang ingat bunyinya, tetapi tidak tahu cara menuliskannya. Bayangkan sebuah nama diperkenalkan melalui lagu, radio, video, atau rekomendasi teman. Orang tersebut mungkin tertarik dan ingin mencari brand itu, tetapi kemudian harus menebak apakah namanya menggunakan angka, huruf tertentu, simbol, atau ejaan yang tidak biasa. Di sinilah branding bertemu dengan searchability. Nama yang mudah diingat secara visual belum tentu mudah ditemukan ketika orang hanya mengandalkan apa yang mereka dengar atau ingat dari percakapan.
Lalu apakah solusinya membuat semua nama brand sesederhana mungkin demi SEO? Tidak juga. SEO bukan berarti memasukkan kata kunci sebanyak-banyaknya ke dalam nama atau membuat brand terdengar generik. Google justru menjelaskan bahwa nama situs sebaiknya unik, ringkas, dan dapat dikenali, sementara konten dan judul halaman perlu dibuat jelas serta relevan bagi pengguna. Google juga menggunakan berbagai informasi dari halaman untuk memahami isi sebuah situs, termasuk data terstruktur yang membantu sistem memahami entitas dan konten yang tersedia. Jadi, SEO lebih tepat dilihat sebagai cara membantu mesin pencari memahami dan menghubungkan sebuah brand dengan informasi yang relevan, bukan aturan bahwa semua brand harus memiliki nama yang biasa-biasa saja.
Di sisi lain, nama yang terlalu umum juga punya persoalan sendiri. Nama seperti “Glow”, “Studio”, atau “Daily” mungkin mudah dibaca dan diucapkan, tetapi ketika banyak bisnis menggunakan kata yang sama, identitasnya menjadi lebih sulit dibedakan. Penelitian tentang nama brand menunjukkan bahwa nama yang memiliki tingkat distinctiveness tertentu dapat membantu proses pengingatan karena memberikan lebih sedikit asosiasi yang bersaing. Artinya, terlalu umum bisa membuat brand tenggelam, sementara terlalu rumit bisa membuat orang kesulitan menemukannya. Tantangannya adalah mencari titik di tengah, yaitu nama yang punya karakter tanpa membuat audiens harus menjadi detektif hanya untuk mengetik namanya.
Karena itu, branding dan searchability sebenarnya bisa dirancang bersamaan. Kalau sebuah brand memang memilih ejaan yang unik, penulisan resminya perlu dibuat konsisten di logo, website, media sosial, profil bisnis, dan berbagai materi komunikasi. Audiens juga bisa dibantu dengan menyandingkan nama tersebut dengan kategori atau deskripsi yang jelas, terutama ketika brand masih baru dan belum banyak dikenal. Dengan begitu, keunikan tetap menjadi bagian dari identitas, sementara berbagai konteks yang mengelilinginya membantu orang memahami apa yang mereka cari. Google sendiri menjelaskan bahwa informasi yang konsisten dan terstruktur dapat membantu sistemnya memahami konten serta menampilkan informasi yang lebih sesuai dalam pencarian.
Jadi, ketika membuat nama brand, pertanyaannya mungkin bukan lagi “keren dulu atau dicari dulu?” karena keduanya tidak harus saling mengalahkan. Nama yang kuat justru bisa menjadi nama yang cukup unik untuk diingat, cukup jelas untuk disebut, dan cukup konsisten untuk ditemukan kembali. Mau menggunakan huruf kecil, angka, simbol, atau ejaan yang tidak biasa pun boleh saja, selama keunikan tersebut memang punya alasan dan tidak membuat audiens kehilangan jejak. Karena pada akhirnya, branding membuat orang ingat siapa kamu, sedangkan searchability membantu mereka menemukanmu lagi. Temukan lebih banyak cerita tentang desain, branding, dan dunia digital hanya di RRI Lhokseumawe.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....