Hantu ternyata Punya Fungsi Sosial?!
- 14 Sep 2026 16:37 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Hampir setiap budaya punya versi ceritanya sendiri tentang sesuatu yang tidak terlihat. Di Indonesia ada kuntilanak, pocong, genderuwo, atau berbagai kisah tentang arwah penasaran; di Jepang ada yūrei dan berbagai cerita tentang roh; sementara budaya lain mengenal hantu, roh leluhur, makhluk gaib, atau sosok supernatural dengan bentuk yang berbeda-beda. Menariknya, meskipun tokohnya tidak sama, pola ceritanya sering terasa mirip: ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, ada aturan yang tidak boleh dilanggar, dan biasanya ada konsekuensi ketika seseorang melewati batas. Jadi, mungkin pertanyaannya bukan cuma “benarkah hantu ada?”, tetapi “kenapa manusia di begitu banyak tempat senang menceritakan tentang mereka?”
Salah satu jawabannya berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk memahami sesuatu yang tidak mudah dijelaskan. Penelitian lintas budaya yang menganalisis data dari 114 masyarakat menemukan bahwa penjelasan supernatural banyak digunakan untuk memahami berbagai fenomena, terutama kejadian alam seperti penyakit, badai, atau peristiwa yang sulit diprediksi. Ketika manusia belum memiliki penjelasan ilmiah yang memadai, cerita supernatural dapat menjadi salah satu cara untuk memberi makna pada sesuatu yang terasa misterius atau mengancam. Bahkan sampai sekarang, penelitian psikologi tentang kepercayaan supernatural menunjukkan bahwa keyakinan semacam ini dapat berfungsi sebagai cara memahami peristiwa, menghadapi ketidakpastian, mengambil keputusan, atau mencari rasa aman.
Tetapi cerita hantu ternyata tidak berhenti sebagai cara menjelaskan dunia. Cerita semacam ini juga bisa menjadi semacam “aturan tidak tertulis” yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jangan keluar malam sendirian, jangan melakukan sesuatu yang dianggap tidak sopan, jangan mengganggu tempat tertentu, atau jangan memperlakukan orang lain sembarangan, pesan-pesan seperti itu bisa dikemas menjadi cerita tentang akibat supernatural agar lebih mudah diingat. Penelitian tentang berbagai masyarakat menunjukkan bahwa penjelasan supernatural memang sering berkaitan dengan moralitas, termasuk gagasan tentang penghargaan dan hukuman atas perilaku manusia. Dengan kata lain, sosok gaib dalam cerita kadang berfungsi seperti penjaga norma sosial: tidak selalu terlihat, tetapi ceritanya membuat orang ingat bahwa ada batas yang sebaiknya tidak dilewati.
Hal menarik lainnya adalah bagaimana cerita supernatural bisa menyimpan nilai budaya. Penelitian terhadap cerita rakyat masyarakat Melanau, misalnya, menemukan bahwa kisah-kisah mereka membawa nilai tentang perkembangan pribadi, hubungan sosial dan budaya, lingkungan, serta interaksi dengan dunia supernatural. Artinya, makhluk gaib dalam sebuah cerita tidak berdiri sendiri; mereka sering menjadi bagian dari cara suatu masyarakat memahami hubungan manusia dengan keluarga, alam, komunitas, dan aturan hidup. Di Indonesia pun kita punya banyak cerita yang bekerja dengan cara serupa. Malin Kundang, misalnya, menggunakan konsekuensi supernatural dalam bentuk kutukan untuk menyampaikan nilai tentang menghormati orang tua, tanggung jawab, dan identitas diri.
| Baca juga: Cara Membedakan Foto AI dan Foto Asli |
Cerita hantu juga punya fungsi yang lebih manusiawi: membantu kita membicarakan kematian. Kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi, tetapi sulit diterima karena membuat hubungan dengan seseorang tiba-tiba terputus. Karena itu, banyak kebudayaan memiliki cerita tentang roh, kehidupan setelah kematian, leluhur, atau kemungkinan bahwa orang yang meninggal masih memiliki hubungan dengan dunia orang hidup. Dalam kajian antropologi tentang kematian, ritual dan kepercayaan setelah seseorang meninggal dipandang bukan hanya sebagai cara memperlakukan orang yang sudah pergi, tetapi juga sebagai cara bagi orang yang masih hidup untuk menghadapi kehilangan dan mempertahankan ikatan sosial. Jadi ketika sebuah budaya menceritakan bahwa orang yang meninggal masih “ada” dalam bentuk tertentu, cerita tersebut bisa membantu manusia memberi bentuk pada sesuatu yang secara emosional sangat sulit dipahami.
Ada pula fungsi sosial yang sederhana tetapi kuat: cerita hantu membuat orang berkumpul. Bayangkan suasana malam ketika listrik mati, beberapa orang duduk berdekatan, lalu seseorang mulai berkata, “Eh, kalian pernah dengar cerita tentang tempat itu?” Dalam beberapa menit, orang yang tadinya sibuk sendiri bisa ikut mendengarkan, menimpali, tertawa, atau saling menakut-nakuti. Penelitian tentang ritual dan kepercayaan kolektif menunjukkan bahwa praktik yang dilakukan bersama dapat berkaitan dengan rasa kebersamaan dan pengelolaan kecemasan, sementara kajian sejarah tentang ghost stories juga menunjukkan bahwa cerita hantu pernah menjadi bagian dari cara masyarakat membicarakan persoalan sosial, pribadi, dan spiritual. Jadi, cerita supernatural bukan hanya membuat kita takut; ia juga bisa menjadi alasan untuk duduk bersama dan berbagi pengalaman.
Mungkin itu sebabnya cerita hantu tidak benar-benar hilang meskipun manusia sudah punya sains, teknologi, dan internet. Bentuknya saja yang berubah: dari cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut, menjadi thread, podcast, film, video pendek, sampai cerita yang dikirimkan lewat grup chat tengah malam. Kita mungkin tidak lagi membutuhkan hantu untuk menjelaskan setiap suara aneh di halaman belakang, tetapi kita masih membutuhkan cerita untuk memahami ketakutan, kehilangan, aturan, dan hal-hal yang belum bisa kita jelaskan sepenuhnya. Jadi, ketika hampir setiap budaya punya kisah tentang sesuatu yang tak terlihat, mungkin yang sebenarnya universal bukanlah hantunya. Yang universal adalah manusia yang selalu berusaha memberi makna pada hal-hal yang membuatnya takut, penasaran, dan tidak yakin.
Temukan lebih banyak cerita tentang budaya, psikologi, dan fenomena sehari-hari yang ternyata dekat dengan kehidupan kita hanya di RRI Lhokseumawe.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....