Produk Berkualitas Identik dengan Harga Mahal, Benarkah?
- 24 Feb 2025 22:13 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Lhokseumawe : Sebagian orang masih berpikir bahwa harga mahal hanya soal merek atau gengsi. Padahal, di balik harga yang tinggi, ada proses panjang, bahan berkualitas, dan nilai seni yang tidak bisa dibandingkan dengan produk massal.
Dalam siaran Mozaik Indonesia (Obrolan UMKM) di Pro1 RRI Lhokseumawe, Senin (24/2/2025). Cut Sujanna Depi, Owner Anjana Batik & Ecoprint, berbagi pengalaman tentang bagaimana kualitas sebuah produk menentukan harga jualnya.
Menurut Cut Sujanna, harga sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh merek, tetapi juga bahan baku, proses produksi, hingga nilai seni dan eksklusivitasnya. “Batik dan ecoprint itu prosesnya panjang. Mulai dari pemilihan kain, pewarnaan alami, sampai motif yang semuanya handmade. Itu yang bikin harganya lebih tinggi dibanding produk massal,” ujarnya.
| Baca juga: Kisah Sukses Gurihnya Nasi Uduk AA Jatra |
Ia juga mengungkapkan bahwa batik dan ecoprint memiliki perbedaan harga dibanding batik biasa karena bahan kain dan bahan membatiknya sulit didapat, bahkan kalo untuk bahan harus dibeli dari luar kota. “Bahan berkualitas itu tidak selalu mudah ditemukan. Kami harus mencari bahan terbaik agar hasilnya maksimal,” tambahnya.
Meski begitu, tak jarang masyarakat masih mempertanyakan harga produk lokal yang dianggap terlalu mahal, Cut Sujanna menilai, hal ini lebih kepada pola pikir konsumen yang belum sepenuhnya memahami nilai sebuah produk berkualitas.
Tantangan lain dalam menjual produk premium adalah bagaimana meyakinkan pelanggan bahwa mereka membayar lebih bukan hanya untuk barang, tetapi juga pengalaman dan nilai budaya. Salah satu strategi yang digunakan sebagai sosial menjadi langkah strategis yang diterapkan.
“Setiap motif punya cerita, setiap warna berasal dari bahan alami yang ramah lingkungan. Dengan cerita yang kuat, pelanggan jadi lebih menghargai prosesnya, bukan sekadar lihat harga,” tambah Cut Sujanna.
Di era digital, pemasaran juga menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesadaran akan produk berkualitas tinggi. Pemanfaatan media sosial menjadi langkah strategis yang diterapkan
“Pelanggan yang awalnya ragu karena harga, setelah tahu prosesnya, malah jadi pelanggan setia. Jadi, tantangannya bukan sekadar menjual produk, tapi membangun kepercayaan,” katanya.
Ke depan, Cut Sujanna berharap semakin banyak UMKM di Aceh yang berani mengangkat produk berkualitas premium dengan tetap mempertahankan nilai budaya dan keberlanjutan. “Yang penting tetap konsisten dan edukasi pasar dengan cara yang tepat,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....