247 Hektare Lahan Aceh Terbakar, Kerugian Capai Rp34,7 Miliar
- 08 Jun 2026 20:46 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Aceh. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sedikitnya 20 kejadian karhutla terjadi di berbagai daerah sepanjang 1 Januari hingga 6 Juni 2026, menghanguskan sekitar 247 hektare lahan dengan estimasi kerugian mencapai Rp34,7 miliar.
Data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBA menunjukkan, bencana tersebut telah berdampak pada 29 kecamatan dan 40 desa di sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Meski belum memasuki puncak musim kemarau, tren peningkatan kebakaran mulai menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Kota Lhokseumawe menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni lima kasus karhutla. Disusul Kabupaten Aceh Barat dengan empat kejadian dan Kabupaten Aceh Besar sebanyak tiga kejadian.
Sementara itu, Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah masing-masing mencatat dua kejadian. Adapun Aceh Singkil, Nagan Raya, Aceh Jaya, dan Kota Langsa masing-masing mengalami satu kejadian kebakaran hutan dan lahan.

Meski jumlah kejadian di Lhokseumawe menjadi yang tertinggi, luasan lahan terbakar terbesar justru terjadi di Kabupaten Nagan Raya. Sekitar 95 hektare lahan di wilayah tersebut dilaporkan hangus terbakar, menjadikannya daerah dengan dampak karhutla paling signifikan sepanjang tahun ini.
BPBA menilai kondisi cuaca yang semakin panas serta berkurangnya intensitas hujan di sejumlah wilayah meningkatkan risiko munculnya titik api. Kawasan lahan gambut, semak belukar, dan area yang mengalami kekeringan menjadi wilayah yang paling rentan terhadap kebakaran.
Situasi tersebut mendorong pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah mitigasi guna mencegah meluasnya kebakaran yang dapat mengancam lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga aktivitas ekonomi.
Dalam upaya pengendalian karhutla, BPBA terus memperkuat koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, Manggala Agni, serta berbagai unsur terkait lainnya. Langkah yang dilakukan meliputi patroli lapangan, pemantauan titik rawan, sosialisasi kepada masyarakat, hingga peningkatan kesiapsiagaan personel dan peralatan pemadaman.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran di lingkungan sekitar.
BPBA menegaskan bahwa pencegahan tetap menjadi strategi paling efektif untuk mengurangi risiko dan dampak karhutla yang setiap tahun berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan dalam skala besar.
“Pencegahan merupakan langkah paling efektif dalam mengurangi risiko dan dampak karhutla. Partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan agar Aceh tetap hijau, aman, dan terhindar dari bencana asap,” demikian imbauan BPBA.
Dengan kolaborasi seluruh pihak, pemerintah berharap potensi kebakaran hutan dan lahan di Aceh dapat ditekan sejak dini sehingga dampak ekologis, sosial, dan ekonomi yang ditimbulkan tidak semakin meluas.
Karhutla bukan hanya persoalan kebencanaan, tetapi juga ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, kewaspadaan dan kepedulian bersama menjadi kunci utama menjaga Aceh tetap aman dari ancaman api di musim kemarau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....